Hari ke-3 dilanjutkan dengan eksplorasi Seoul karena sehari sebelumnya belum full rasanya keliling-keliling di ibukota Korsel ini.
Eksplorasi bagian ke-2 ini meliputi Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village, Seoul Museum of Korean Folk Music, Gwanghwamun Square, Distrik Insa-dong, nyebrang agak jauh dikit ke tempat yang ga boleh dilewatkan yaitu Starfield Library @ COEX yang berada di distrik Gangnam.
Gyeongbokgung Palace
Gyeongbokgung Palace dulunya adalah Great Palace pada masa kekaisaran Korea, berbeda dengan Jepang dan Thailand yang masih merupakan negara monarki, karena Korea Selatan sudah menjadi negara kesatuan berbentuk republik, maka Gyeongbokgung Palace sekarang dijadikan museum nasional, yang tentunya sangat menarik untuk dikunjungi. Bagi para historian, silakan dilihat lebih detail di Wikipedia, karena bagi saya, mengunjungi tempat bersejarah, kurang seru kalau belum baca sejarahnya.
Hampir sebagian besar pengunjung memanfaatkan penyewaan Hanbok di sini dan berjalan-jalan di lingkungan istana dan di sekitar istana sampai ke Gwanghwamun Square, kami memutuskan tidak sewa Hanbok di sini, karena kami sudah menyewa Hanbok di kota berikutnya di Jeonju.
Tiket masuk ke Gyeongbokgung Palace adalah KRW 3000/orang, sehingga kami membayar hanya KRW 6000 karena putri kami belum dikenakan biaya.
Walaupun sudah ga ada kaisar Korea dan ga ada proses pemerintahan yang dilakukan dari Gyeongbokgung Palace, tapi tetap masih ada upacara pergantian penjaga yang tentu menarik untuk dilihat.
Tempat ini memang ramah untuk keluarga dan penyandang disabilitas, sangat accessible untuk wheelchair dan baby stroller, tapi di beberapa bagian, batu-batunya besar dan agak sulit untuk mendorong baby stroller yang rodanya kecil, jadi ya siap-siap kalo anaknya rada males, ya harus nggendong 🤣


Bukchon Hanok Village
Setelah kami rasa cukup berkeliling di Gyeongbokgung Palace, kami melanjutkan perjalanan ke Bukchon Hanok Village yang tidak jauh dari kompleks istana.
Bukchon Hanok Village ini sebenarnya hanya kompleks tempat tinggal biasa, tapi arsitektur dan design bangunannya masih menggunakan tema bangunan tradisional Korea yang disebut Hanok House.

Dari Bukchon Hanok Village, rasanya lumayan lapar, jadi ga ada salahnya kami mencoba jajanan khas Korea tteok-bokki, istilahnya Korean rice cake, karena memang ini jajanan yang dibuat dari tepung beras, kemudian dibumbui dengan saus khas Korea gochujang. Harganya seporsi adalah KRW 3000, atau setara dengan IDR 36,000-an, mahal ya? ya iyalah biasa makan siang IDR 25,000 dapet lauk segala macem…

Sedikit membahas tentang makanan, di setiap perjalanan kami, memang kami ga mengkhususkan pengen wisata kuliner, pertimbangannya adalah biaya dan Halal, sehingga fokus kami di setiap perjalanan adalah memang menikmati dan eksplorasi negara dan kultur orang-orangnya, try to blend with them, dan urusan makanan, seperti di post sebelumnya, kami selalu usahakan bawa makanan yang simple, selama sehat, halal, dan cukup memenuhi energi, dan kami usahakan penginapan yang dekat dengan supermarket supaya bisa belanja buah-buahan.
Selesai dari Bukchon Hanok Village awalnya kami berencana mengunjungi Changdeokgung Palace (East Palace) yang juga ga jauh dari Gyeongbokgung Palace, karena kami berniat mengunjungi Huwon Secret Garden yang ada di bagian istana ini, tapi sayang ketika kami sampai di sini, ternyata tur khusus untuk ke Huwon Secret Garden sudah ditutup, karena sudah terlalu sore, dan kami memutuskan ga jadi masuk ke East Palace karena pasti di dalamnya relatif sama dengan Gyeongbokgung Palace
Seoul Museum of Korean Folk Music
Ada apa di tempat ini yang membuat kami singgah?
Jujur aja, ini kunjungan insidental, karena hari sudah sore, kami belum shalat Zuhur dan Ashar, bakal ga keburu kalo ke arah Seoul Central Mosque, dan saat kami lagi nyari-nyari, ketemu sesama orang Indonesia yang juga lagi cari tempat shalat, ya maaf-maaf ya mas, bukan belagu, tapi kita juga sama bingungnya.
Tepat di seberang Changdeokgung Palace, ada Seoul Museum of Korean Folk Music, alasan lainnya kami masuk adalah sore itu suhu udara kira-kira < 10 derajat Celsius, yang bikin dah ga nahan kelamaan di luar. Kami putuskan masuk dan menikmati isi dari museumnya, o ya, biayanya free loh, kagum juga, museum sebagus itu, ga ada biaya masuk, bagus buat pendidikan anak-anak.
Kami memutuskan untuk shalat di bagian bawah gedung, di dasar tangga, berikut short review museum ini.

Gwanghwamun Square
Setelah cukup hangat di Museum, kami melanjutkan perjalanan yang sudah menjelang petang ke Gwanghwamun Square, yang sebenarnya letaknya ga jauh dari Gyeongbokgung Palace, sambil berjalan ke arah alun-alun, ternyata kami melewati distrik Insa-dong yang cukup terkenal untuk membeli oleh-oleh, kami putuskan singgah sebentar, karena kebetulan putri kami juga sedang tidur.

Agak mengejutkan pas kami sampai di Gwanghwamun Square, sedang ada demo, sangat ramai, ga ngerti demo apa, cuma sempat nangkap kamera ada yang bawa spanduk Presiden Korsel dan Presiden US, lalu ada yang dicoret, sekilas ada spanduk yang menuliskan untuk menurunkan Presiden Korsel.
Entahlah apa isi demo-nya, yang pasti kami awalnya agak takut juga, cuma ternyata memang beda, ini kali pertama saya masuk ke tengah demo, sebagai wisatawan asing, dan ga ada takutnya, karena polisi masih memprioritaskan warga sipil lainnya, dan para demonstran juga sangat tertib
Hal yang berbeda saya rasakan waktu demo di Jakarta, ketemu warga sendiri bawaannya parno.
Starfield Library @ COEX, di Distrik Gangnam
Hari semakin gelap, makin dingin juga, tapi kami masih semangat karena masih ada satu tujuan lagi, yaitu ke Starfield Library yang iconic di COEX Mall, di Distrik Gangnam, agak jauh dari tempat awal di Gwanghwamun Square.



Starfield Library adalah open public library yang berlokasi di dalam COEX Mall di distrik Gangnam, tempat ini selalu jadi kunjungan orang-orang atau mahasiswa dan dijadikan sebagai coworking space, perpustakaan ini aksesnya terbuka, sehingga semua orang bisa masuk
Yang keren dari tempat ini tentu saja susunan rak buku-nya yang kalau saya bilang menakjubkan, tapi ya kayanya buku-buku yang di paling atas itu mungkin juga ga dibaca kali ya? tau deh…
Karena kami ada di distrik Gangnam, maka ga afdol kalau ga nyari patung tangan artis ngetop dari sini, Psy, yang semua tahu dengan Gangnam Style-nya, patung ini ternyata ada di depan COEX Mall.



Di sini mumpung sepi saya sempetin joget Gangnam Style ngikutin irama yang memang sengaja ditempatkan di situ, hits di 2012, ternyata 8 tahun kemudian pun masih lumayan lucu didengerin.
Singkat cerita untuk perjalanan hari ke-3 ini hanya ke arah dari dan ke apartemen, serta ke Gangnam saja kita naik kereta, selebihnya kami mengandalkan jalan kaki di sekitar Seoul mengunjungi lokasi-lokasi tadi.
Ringkasan Biaya Perjalanan
| Pengeluaran | Jumlah | Total (KRW) | Total (IDR) |
|---|---|---|---|
| Kereta – all day | 6 | 9,000 | 108,000 |
| Gyeongbokgung Entrance | 2 | 6,000 | 72,000 |
| Makan Siang | 3 | 10,000 | 120,000 |
| GRAND TOTAL | 25,000 | 300,000 |
Hari sudah malam, dinginnya udah naudzubillah, kami putuskan segera kembali ke apartemen kami dan siap-siap untuk next trip besoknya ke Nami Island – sampai jumpa…



































