Kali ini kami kembali bepergian jarak jauh ke arah kota Pocheon-si di Provinsi Gyeonggi-do. Sebelum saya lanjut, bagaimana sih pembagian administratif di Korea Selatan, karena ada provinsi, kota, distrik, dan apa sih di belakang nama-nama daerah itu ada -do, -si, -dong, -gil. Saya bukan ahli tata kota, jadi mending dilihat di sini aja ya…
Ada apa sih di kota Pocheon ini, ada satu spot lokasi wisata yang namanya Pocheon Art Valley
Lokasi ini sebenarnya adalah bekas tambang granit, yang kemudian diubah menjadi lokasi wisata, dengan center point-nya berupa tebing granit dan danau yang bisa dihuni oleh satwa air – sedikit mengingatkan saya sama Danau Kaolin di Belitung, bedanya Danau Kaolin masih aktif ditambang, dan belum digarap oleh Pemprov untuk dijadikan lokasi wisata, dan danaunya ga bisa dihuni satwa air atau bahkan hanya untuk berendam saja juga ga bisa.
Transportasi
Kami kembali menggunakan bus antar kota dari Seoul ke arah Pocheon, berbeda dengan tujuan kota-kota sebelumnya, kali ini bus tidak berhenti di terminal tujuan akhir untuk ke Pocheon, yang ada adalah kami turun di halte bis di kota Pocheon, dengan membeli tiket dari Dongseoul bus terminal ke tujuan Sinbuk, biayanya sebesar KRW 7,200/orang, biaya yang sama saat kami pergi ke kota Gapyeong untuk ke Nami Island.

Karena tujuan akhirnya bukan terminal, jadi agak was-was juga buat cari tahu kapan kita harus berhenti, takut kelewat, jadi sejak awal kami naik bus, kami sudah bilang ke supir bus dengan menunjukkan tiket kami, untuk ke Pocheon, dan minta tolong berhenti di halte yang dimaksud di Sinbuk.
Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 2 jam, dan akhirnya di halte yang dimaksud supir bus mengingatkan kami bahwa kami sudah sampai, ga ngerti sih yang dia bilang, cuma dengan gestur dan satu kata “Sinbuk” kami tahu bahwa kami sudah sampai.



Dari halte bus di Sinbuk ini, sebenarnya ada bus kota rute 73 warna hijau, yang sayangnya, jadwal kedatangannya adalah setiap 2 jam sekali, dan kami sampai di pertengahan waktu, yang artinya bus ini bakal baru nongol 1 jam lagi.
Berbekal Google Maps, kami coba explore kembali jarak dari halte Sinbuk ke arah Pocheon Art Valley, dan akhirnya kami memutuskan berjalan kaki 2 km di suhu sekitar -1 derajat Celsius yang justru memberi banyak pemandangan yang sayang untuk dilewatkan, cukup terasa asing, dan kaya ga ada siapa-siapa…🤣
Lagi asik-asiknya kami merekam, di setengah perjalanan, tiba-tiba lewatlah bus 73 🤣, emang ga rejeki naik bus, tapi juga kami ga pernah menyesal jalan sejauh itu, toh di musim dingin jalan kaki 2 km ga terasa melelahkan, sama seperti yang kami alami waktu liburan di Jepang 2018 lalu.
Pocheon Art Valley
Sekitar 20 menit kemudian, tibalah kami melalui jalan yang menurun, menanjak, menikung, di gerbang masuk Pocheon Art Valley, yang sampai bikin kami bingung ini kok sepi amat? buka ga sih? tapi sekali lagi, ini jadi keuntungan tersendiri menikmati tempat liburan yang ga terlalu crowded.
Kami masih sempat ketemu bus yang tadi baru melewati kami di tengah jalan dan tanya jam berapa kami harus standby di halte Pocheon Art Valley.

Lanjut masuk ke gerbang, well guys, ini kota yang cukup jauh dari Seoul, maka sedikit orang yang bisa berbahasa Inggris, dalam posisi kepepet mau nanya apa, pakailah jurus Google Translate, ketik in English/Indonesia –> translate to Korea, langsung keluar dalam aksara Hangeul, lalu klo mau mereka jawab, suruh ngomong aja ke HP.
Tiket masuk Pocheon Art Valley adalah sebesar KRW 5000/orang dan round trip cable car ticket sebesar KRW 4500/orang, anak balita free, jadi total tiket masuk adalah KRW 19,000 ~ IDR 228,000 untuk 2 orang, dapat free 2 gelas kopi yang bisa kami tukar di cafe di dalam Pocheon Art Valley.

Baiklah, sekarang saatnya kami bagikan gambar-gambar selama di dalam Pocheon Art Valley – o ya tempat ini sangat ramah penyandang disabilitas dan keluarga, karena semua lokasi sangat accessible untuk pengguna kursi roda dan baby stroller.
Landscape
Space Museum
The Art Valley Center Point
Setelah cukup puas, seperti biasa, ga lupa kami coba tanya dulu tempat shalat, dan seperti yang sudah kami duga, tidak ada tempat shalat, ya sudah kami cari spot yang sepi seperti biasa, awalnya pihak gedung sempat melarang karena mengira kami akan piknik atau apa gitu, karena gelar sajadah, tapi setelah kami jelaskan, Alhamdulillah mereka mau mengerti.
Kami sempat ketemu dengan family traveller lain dari Malaysia dan sempat ngobrol bahwa mereka juga lagi cari tempat shalat, dan mereka terinspirasi dengan cara kami shalat di bawah tangga.

Selesai shalat, sekitar pukul 13.45 kami kembali turun, tujuannya mau ngejar bus 73 karena bus berikutnya dijadwalkan berangkat dari Pocheon pukul 14.20, dan kami sampai di halte pukul 14.25 😅🤣😂😅
Seperti sudah bisa diduga, ga mungkin kami nunggu 2 jam lagi, ya sudahlah balik jalan lagi ke depan…
Alhamdulillah, perjalanan balik ke arah halte Sinbuk lancar, karena lumayan habis jalan, kami putuskan makan siang dulu di supermarket terdekat, mirip kaya Seven Eleven waktu masih exist di Indonesia lah…
Setelah mengisi kembali energi, sekitar pukul 16.00 kami kembali ke halte dan menunggu bus kota rute 3000 / 3001 kembali ke Seoul, karena hari masih sore, kami melanjutkan perjalanan ke Itaewon.
Distrik Itaewon
Dari Gangbyeon Bus Terminal, kami cukup menyeberang ke Gangbyeon Station, dan nail Green Line no.2 ke arah Guui, dan turun di Sindang Station, lalu transfer ke Orange Line no.6 ke arah Cheonggu dan turun di Itaewon Station.
Distrik Itaewon terkenal sebagai tujuan destinasi wisata halal, jadi lumayan buat makan malam, dan juga beli oleh-oleh makanan halal, dan yang pasti kami ga boleh lewatkan Seoul Central Mosque
Itaewon
Seoul Central Mosque dan Jajanan Halal
Dan karena hari sudah sangat malam, besoknya kami harus berkemas untuk bersiap pindah ke kota Jeonju di provinsi Jeollabuk, di selatan Seoul, maka kami bergegas pulang
Seperti biasanya, sedikit review perjalanan dalam bentuk video.
Ringkasan Biaya Perjalanan
Kami selalu coba bandingkan dengan biaya pre-book tour, kali ini kami kembali coba benchmark dengan Klook, ada tambahan atraksi pembuatan roti apel, ga tau juga si di sebelah mana, sebesar IDR 1,79 juta untuk 3 orang, belum termasuk makan siang, kalau mau disamakan dengan jumlah hanya 2 orang, maka totalnya sekitar IDR 1,2 juta.
Di ringkasan ini kami tetap masukkan biaya bus kota 73 sebesar KRW 1500 (return) karena ga semua orang bisa kaya kami menempuh perjalanan 2 km one way sambil bawa balita.
| Pengeluaran | Jumlah | Total (KRW) | Total (IDR) |
|---|---|---|---|
| Pocheon Art Valley | |||
| Bus Antar Kota (return) | 4 | 28,800 | 345,600 |
| Bus Kota 73 (return) | 4 | 6,000 | 72,000 |
| Tiket Masuk+Cable Car | 2 | 19,000 | 228,000 |
| Makan Siang | 3 | 15,000 | 180,000 |
| Itaewon | |||
| Makan Malam | 3 | 28,000 | 336,000 |
| Kereta All-Day | 6 | 9,000 | 108,000 |
| GRAND TOTAL | 105,800 | 1,269,600 |
Dengan adanya wisata tambahan serta makan siang dan makan malam yang pantas serta keliling-keliling di Itaewon, maka perjalanan kali ini lebih efisien dengan self-managed tour, dan ditambah dengan fleksibilitas waktu dan pengalamannya.
OK, sampai jumpa lagi saat kita review kota Jeonju…


































































