Day 8-10 – Jeonju and Departure


Di hari ke 8-9 kami pindah kota dari Seoul ke Jeonju. Di mana sih Jeonju, dan kenapa kami pilih kota ini? Ketika kami merencanakan perjalanan ke Korsel, yang pertama kami lakukan adalah googling perihal top attraction di Korsel, dan hampir sebagian besar perjalanan kami mengacu pada top list tersebut, Jeonju Hanok Village, masuk dalam urutan daftar tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Kami ga mau mengulangi perjalanan terakhir ke Penang yang agak kurang googling terkait spot-spot wisata menarik selama di sana, yang seringkali akhirnya kami cuma menghabiskan waktu keliling di mall.

O ya, Jeonju bisa kita bandingkan dengan Yogyakarta, atau Kyoto di Jepang, boleh kalau ada yang mau menambahkan, alasannya, di sini sangat jarang kami melihat turis asing, hampir 90% orang yang kami temui adalah orang lokal, dan hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris, jadi tetap walaupun ini kota modern, aura Korea Selatannya sangat terasa.

Jeonju Hanok Village yang kami tuju ini adalah semacam kampung wisata seni tradisional di tengah kota modern, di pusat Hanok Village ini ada semacam kuil peninggalan masa lalu, dan di beberapa area Jeonju di luar Hanok Village, juga bisa ditemukan peninggalan Gerbang Kota seperti yang kami temukan di Seoul.


Transportasi dan Kedatangan Hari ke-1 di Jeonju

Biaya perjalanan dari Seoul ke Jeonju menggunakan Express Bus adalah sebesar KRW 22,400/orang, jadi total adalah KRW 44,800 ~ IDR 537,600 untuk kami berdua.

Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam dengan tujuan akhir di Jeonju Express Bus Terminal.

Setibanya di Express Bus Terminal ini, kami cukup kagum, karena sebelumnya kami selalu berangkat dari Dongseoul Bus Terminal, yang maaf ni ya, kebersihannya mirip kaya Terminal lokal kita, di area tunggu dan ticketing sih standar ya, tapi ke toiletnya, ampun deh…

Jeonju Express Bus Terminal ini sangat bersih dan rapi, ya silakan dilihat di beberapa galerinya di sini.

Kali ini kami juga tidak mencoba naik bus kota walaupun sebenarnya bisa, tapi karena faktor barang bawaan (koper gede-gede, baby stroller), maka kami putuskan naik taksi, Alhamdulillah, ternyata biaya naik taksi ga terlalu mahal, jarak sekitar 5-6 Km ke arah penginapan ternyata hanya KRW 5000 ~ IDR 60,000, kalau naik bis sekitar mungkin KRW 6000 ~ IDR 36,000, ga signifikan dibanding ribetnya pindah-pindahin koper, ditambah lagi kalau naik bis kota, kami ga akan diantar sampai depan penginapan.

Satu lagi, udah jauh-jauh dari Seoul ke Jeonju bayar hampir IDR 537,000, kok ya ga ada artinya gitu ngirit cuma IDR 24,000 🤣

Kami sempat mencoba automatic ticket vending machine untuk persiapan perjalanan pulang ke arah Incheon Airport, kami ga kepikir kalau itu ternyata bukan Incheon Airport tapi hanya kota Incheon saja, dan tiket sudah terlanjur dibeli, saya baru sadar setelah sampai di penginapan, jadilah saya balik lagi ke terminal dan Alhamdulillah bisa refund, kalau ga salah tiketnya harganya sama dengan harga tiket dari Seoul – Jeonju.

Ada alternatif lain untuk express bus yang langsung ke Incheon Airport, tapi jadwalnya sangat terbatas, dan waktu tempuhnya juga sekitar 3 jam, jadi agak beresiko sehingga saya ga jadi order, lokasinya ga jauh dari Jeonju Express Bus Terminal.

Walaupun hari sudah sore, kami coba sempatkan keliling di Hanok Village karena pemandangan di malam hari walaupun toko-toko sudah pada tutup masih tetap bagus dengan layout rumah-rumah tradisional Hanok style.

Kami menginap di Jeonju Beautiful House, pertimbangan memilih penginapan ini adalah karena host-nya yang memang bisa berbahasa Inggris dan memang terbukti host di penginapan ini sangat ramah dan helpful, termasuk ketika saya menanyakan tentang alternatif ke Incheon Airport.

Penginapannya memang ga besar, tapi cukup nyaman untuk kami bertiga, kebetulan rumahnya lagi ga penuh, host memberi kami free upgrade ke kamar yang sedikit lebih gede

Hari sudah semakin malam dan dingin, jadi kami putuskan untuk istirahat dulu supaya besok paginya bisa full explore Jeonju.

Sedikit ringkasan kegiatan hari pertama di Jeonju


Hari ke-2 Jeonju

Di penginapan ini kami mendapatkan sarapan, detail penginapan ini bisa dilihat kembali pada bagian Akomodasi, sarapan yang cukup bergizi, dan host sangat paham dan langsung bilang bahwa sarapannya tidak pakai daging apapun, hanya telur dan sayuran.

Setelah menikmati sarapan kami bersiap untuk mengeksplorasi kota Jeonju yang eksotik ini, tujuan pertama adalah menemukan tempat penyewaan Hanbok yang sudah kami book via Klook, dan ini tempatnya di Hanboknam,

Karena di Klook hanya tersedia penyewaan untuk 2 orang dewasa, jadi kami sewa Hanbok tambahan untuk anak kami, sempat heboh, karena ini anak paling susah dipakein baju macam-macam, nangis sekeras-kerasnya ampe orang Korea pada bingung…🤣, Alhamdulillah akhirnya kami berhasil membujuk Ayra pakai Hanbok, soalnya waktu terakhir kali di Jepang, Ayra belum bisa dipakein Kimono, kami sewa Hanbok selama 2.5 jam, mungkin kayanya sebentar ya, tapi percaya deh, kalau saya sih, 1.5 jam aja ternyata kerasa udah lama banget…😋, o ya sewa Hanbok anak ga ingat tapi kalo ga salah IDR 50,000-100,000 an lah, pokoknya dibawah kita

Berikut galeri selama kami berjalan-jalan di Jeonju, dan ini video-nya

Dua setengah jam kemudian, selesai penyewaan Hanbok, kami pulang dulu ke penginapan untuk shalat, di Jeonju sebenarnya ada mesjid, tapi jauh dari Hanok Village, sekitar pukul 14.00 waktu setempat sekarang waktunya cari makan siang.

Challenge lagi? yes lah pasti, Halal food sudah pasti bukan prioritas di sini, bahkan turis Malaysia saja ga kelihatan di sini, 1 hal, kami punya panduan tentang makan daging yang perlakukan penyembelihannya ga seperti di Indonesia, yang Insha Allah panduannya shahih dan ga menyesatkan, yang terpenting kami nanya dulu di restoran tersebut menyajikan daging babi atau pakai lemak babi ga, dan ternyata ga ada, jadi kami putuskan untuk makan di sini.

Restoran ini menyajikan hidangan khas Korea Selatan dan di kesempatan ini kami mencoba menu Bibimbap, yang tentu sudah ga asing ya, lalu apa bedanya dengan Bibimbap di Jeonju ini? jadi menu Bibimbap di Jeonju merupakan resep autentik Kekaisaran Korea pada masa Dinasti Joseon sekitar 200 tahun lalu, yang akhirnya merakyat dan mejadi hidangan khas masyarakat setempat.

Ringkasan singkat video review hidangan Bibimbap di Jeonju

Menjelang malam kami kembali ke penginapan, untuk bersiap-siap, beres-beres pakaian supaya bisa berangkat besok paginya. Penerbangan kami sebenarnya puku 15.55 tapi karena Jeonju ini jauh banget dari Incheon, jadi harus spare waktu sebisa mungkin jangan sampai mepet sebelum keberangkatan.


Hari ke-3 Keberangkatan ke Incheon – Pulang ke Indonesia

Host kami membantu memesankan taksi dari penginapan dan membantu meyakinkan bahwa taksi bisa mengantar tepat sampai Jeonju station, karena berangkat pagi banget, sekitar pukul 07.00, kami jadinya ga dapat sarapan.

Sehari sebelumnya, setelah kami lakukan refund Express Bus ticket yang tadinya mau kami naiki ke Incheon, yang ternyata bukan ke Incheon Airport, kami putuskan segera booking online KTX by Korail, kereta Express dari Jeonju, kereta dijadwalkan berangkat pukul 08.42 dari Jeonju, dan memang tepat waktu.

Harganya memang ga murah, tapi sepadan dengan kenyamanan waktu yang kita dapat, dari Jeonju Station ke Seoul Station kereta ini hanya menempuh waktu sekitar 2.5 jam, kalau dibandingkan dengan bus yang bisa 3-4 jam.

Dari Seoul Station kami kembali menaiki AREX Non-Stop ke Incheon Airport, dan waktunya hanya 45 menit, alhasil, pukul 11.45 kami tiba di Incheon Aiport, sangat banyak waktu terutama cari Musholla yang letaknya di Gate 24, lalu departure gate yang harus ditempuh pakai kereta antar terminal, refund T-Cash, tukar lagi cash Won yang masih dipegang, karena kalau sudah sampai Indonesia koin-koin ga bakal bisa ditukar, dan cari makanan secukupnya.

Seperti pernah saya bahas sebelumnya Musholla di Gate 24 hanya tersedia di Departure Area, sedangkan di Arrival Area, hanya Multi-Faith praying room, yang isinya kuil dan kapel, dan ga ada musholla

Tepat pukul 15.55 pesawat bertolak dari Incheon menuju KLIA2


Transit KLIA2 dan Kedatangan di Cengkareng

Tepat pukul 23.50 kami tiba sesuai jadwal di KLIA2 untuk transit berganti pesawat dan melanjutkan penerbangan ke Cengkareng.

Sebenarnya ga ada yang istimewa dari transit, karena kali ini hanya layover sekitar 2 jam, setelah mendarat, bawa kembali stroller, kami putuskan untuk makan malam dulu…nah di sini yang jadi pelajaran sangat berharga buat kami.

Selesai makan malam kira-kira masih ada 1 jam sebelum jam keberangkatan, biasanya gate closed 20 menit sebelum keberangkatan, dan gate open for boarding biasanya sekitar 15-20 menit sebelum gate closed juga, asumsi kami, masih ada lah waktu 20 menit ke departure gate, dan memang benar waktu lihat monitor keberangkatan sudah ada keterangan “boarding”

Hal yang ga kami sangka adalah, departure gate ternyata letaknya sangat jauh dari yang kami kira, dan saat kami mencari gate tersebut, monitor sudah berubah menunjukkan “final call” jelas kami panik, dan lari secepatnya, begitu sampai di area gate yang dituju, masih juga ada security check yang dipenuhi warga India yang bawaannya bejibun, tambah panik lah kami, ketika istri saya sudah lari duluan sambil dorong anak kami, saya sempat ketahan, lalu AVSEC nanya, anaknya mana? saya langsung bilang itu sudah lari sama istri saya, karena kami sudah final call di gate L14, Alhamdulillah AVSEC cukup baik dan ga rese sok nahan-nahan, langsung suruh saya lari juga.

Kami berlari sekitar 5 menit mungkin, jadi bisa kebayang ya lari 5 menit kan dapetnya jauh banget, dan Alhamdulillah di departure gate, walaupun sudah kosong dan pintu sudah ditutup tapi kami masih bisa masuk, kami bergegas menuju garbarata, dan Alhamdulillah, ternyata masih antri masuk pesawat…😅 tapi rasanya kaya udah mau mampus lah…

Pelajaran berharga ya? jangan suka menyepelekan departure time, meskipun di airport Indonesia seringnya justru delay, tapi saya tetap sarankan, tiba di departure gate 30 menit s.d 1 jam lebih awal dari boarding time, bukan departure time, tetap akan jauh lebih baik, jangan sampe nyesel deh, karena saya juga pernah ngalamin hal serupa waktu bertolak dari Changi dengan Singapore Airlines, boarding time dibuka lebih awal…

Eh iya, ternyata setelah kami di dalam pesawat sambil ngatur napas, ternyata 15 menit kemudian masih ada penumpang terakhir masuk, yang yakin banget pasti lebih ngos-ngosan dari kita…🤣🤣.

Kami bertolak dari KLIA2 tepat pukul 23.50 waktu setempat, dan Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Cengkareng pukul 01.00 dini hari, imigration clearance, bagage claim, dan ngisi dulu health quarantine form, akhirnya kami meninggalkan bandara sekitar pukul 02.30 dan kami tiba di rumah sekitar pukul 04.00 dini hari.

Sekian perjalanan kami di Korea Selatan, semoga menjadi inspirasi… sampai jumpa lagi di blog lainnya terkait family travel kami bersama putri balita kami.


Ringkasan Biaya Perjalanan

Ringkasan di penutup perjalanan ini mencakup perjalanan dari Seoul ke Jeonju, Jeonju ke Incheon Airport serta atraksi selama di Jeonju.

PengeluaranJumlahTotal (KRW)Total (IDR)
Bus ke Jeonju 244,800537,600
Taksi (Tiba + Berangkat)211,000132,000
Hanbok Rental + Anak (2.5 jam)335,833430,000
Makan Siang326,000312,000
Makan Malam Ringan + Snack215,000180,000
KTX by KORAIL ke Seoul269,200830,400
AREX ke Incheon Airport219,000228,000
Makan Siang214,000168,000
GRAND TOTAL234,8332,818,000

Tinggalkan komentar