Saya sangat senang menceritakan segala sesuatu terkait diri saya dan keluarga, apalagi kalau cerita itu isinya tentang perjalanan hidup yang lucu, unik, dan bikin agak baper kalau dibaca dengan penuh penghayatan. Bagi sebagian besar orang mungkin bisa disebut narsis, yah, sah-sah aja, dan ga ada yang salah dengan pendapat orang lain.
Dalam professional assessment yang dilakukan di kantor saya, termasuk di kantor sebelumnya, saya ini tergolong kelompok orang dengan dominasi otak kanan, dan dominan di warna merah, dan extrovert (nanti saya akan bahas terpisah tentang HBDI assessment) singkatnya, tanpa harus membaca lebih detail tentang HBDI, bisa paham ya kenapa saya senang cerita – i’m indeed an extrovert.
Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang awal mula keluarga saya, saya orangnya mellow senang nyimpan berbagai memory untuk kemudian kadang kita suka bahas bareng-bareng di rumah, dari awal seperti apa, dan hingga saat ini, tapi tentu memori yang baik yang akan saya bagikan, memori jelek cukup disimpan masing-masing dan untuk muhasabah.
The Beginning…😋
Saya lulus kuliah di tahun 2006 dan ga lama setelah itu, saya cukup beruntung dalam waktu 2 bulan setelah lulus dipanggil oleh salah satu perusahaan retail multinasional (secara group of ownership ya), di business unit yang memang spesifik untuk lulusan Apoteker saat itu.
Buat saya, diterima di tempat ini adalah satu keberuntungan, karena semasa kuliah, kondisi keuangan keluarga tidak dalam kondisi terbaiknya, saya sempat alami ngutang kontrakan, ngutang makan, bahkan ngutang teman untuk bayar sidang dan wisuda…😁, buat saya itu bukan aib, tapi itu adalah cerita masa lalu yang selalu membuat saya selalu bersyukur dan geli ketika membandingkan dengan kondisi saat ini.
Teman-teman saya yang ikutan bareng saya masuk, ga ada yang bertahan, paling banter sampai 3 bulan setelah lulus On the Job Training dan mulai penempatan di lapangan, masalah ga cocok aja, “this is not the job for me…”, ya sudah ga bisa dipaksa ya kan?, bagi sebagian besar lulusan bidang studi kami, orientasi pasca kelulusan adalah industri Farmasi, sehingga retail business jadi kurang sesuai, kecuali sekalian berwirausaha buat apotek sendiri.
Di satu kesempatan saat kembali ke Training Center di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur, kebetulan kami digabungkan dengan kelas Management Trainee yang sebelumnya, yaitu Angkatan 55, saya sendiri Angkatan 58.
Ga ada yang istimewa saat itu, saya juga dalam kondisi sudah ga mood. Saat itu istri saya (belum jadi pacar juga sih…) dengar saya dari Bogor juga, spontan langsung nanya, “eh Bogor ya, nge-kost di sini apa bolak-balik”. Tanpa ekspresi sedikit pun saya jawab “Bolak-balik”, dan kata istri saya sih itu adalah moment yang sangat monumental, saat dia kesel banget ama saya, dan ga ada sedikit pun niat mau ngobrol lagi, belagu banget, kalau kata istri saya sekarang…🤣
Allah memang kalau kasih petunjuk selalu misterius, kawan, selesai training, teman seangkatan saya tiba-tiba nyeletuk, “Nu, itu lu kalo mo pulang bareng ama Mela tuh, kan dia Bogor juga…” saya tanpa ada pikiran macem-macem cuma jawab “oh ya? OK lah”, tapi saya ingat banget, saya bisa sampe ngejar pas mau naik metromini balik ke Stasiun Tebet, di sini momen awkward terjadi lagi… saya ngajak pulang bareng, tapi lupa nama…🤣🤣🤣😂😂
Well, singkatnya kami akhirnya pulang bareng waktu itu, naik kereta jaman KRL masih kaya ikan pepes, ga ada yang nanya tiket, dll…hanya sekedar pulang bareng temen dan belum ada pikiran dan niat apa-apa.
Fast Forward – saya lulus 3 bulan masa percobaan yang juga periode “On the Job Training”, yang ga tahu kenapa waktu itu saya ga mengharap lulus, pengen pindah juga, kebawa-bawa sama temen, saat saya lagi jaga di satu outlet di apartemen Taman Rasuna, tiba-tiba aja sekelebatan saya kepikiran, pengen nelepon Store Manager yang di Bogor kemarin, tapi alasannya apa ya?… pokoknya waktu itu akhirnya nelepon aja, alasan nanya masalah operasional lah…Dari situ, saya sudah mulai ada pikiran-pikiran yang selalu muter-muter di kepala, kalau kata orang Sunda, kasuat-suat.
Di satu kesempatan, kembali kantor kami mengadakan event outbound 3 angkatan, kebetulan angkatan 55, 57, dan 58, otomatis saya excited banget donk… pokonya intinya saya semangat lah ngikutin outbound sampai selesai, walaupun saat itu juga istri saya masih kesal sama saya setelah percakapan terakhir di training center.
Di satu sore, ga seperti biasanya, pulang sampai stasiun Bogor biasanya langsung mengarah pulang, kali ini saya sempatkan ke outlet yang di Hero Internusa (sekarang Plaza Keboen Raya), muncul tanpa peringatan, dan istri saya ga ada curiga atau heran sedikit pun, karena nganggap hanya kunjungan teman kerja.
The Establishment
Fast Forward lagi ya…sejak sore itu saya sempatkan “unofficial job visit” saya lanjutkan pas lagi sempat-sempatnya dapat libur di weekend, saya ngajak main, orangtua saya sampe kaget, biasanya lihat saya uring-uringan doank, ini tiba-tiba mau main sama teman, so unusual. Gaya masa itu, duit masih pas-pasan ya udah lah ngajak main seadanya aja di sekitar Pajajaran, Bogor, lanjut nonton film lokal yang katro di bioskop Galaxy di Tajur, bayar masing-masing pula..🤣 (bukan masalah irit doank ya, ini masih di tahap awal, jangan terlalu frontal gitu lo maksudnya).
Malamnya, pas mau pulang, saya cari alasan lagi untuk nganter ke arah rumah istri saya dengan alasan belum pernah main ke sana, emang sejujurnya belum pernah sih, saya termasuk anak kuper waktu SMA dulu. Sampe di rumah, dikenalin ke orang tua sebagai teman biasa aja, agak jiper waktu itu, ketemu ayahnya, orang Sumatra, suaranya tegas, keras, beuh…😅, tapi dalam hati, tenang…kamu kan udah kerja, ada sesuatu yang bisa kamu pakai kalau tiba-tiba ditanya “niat kamu apa“🤣🤣🤣
Nah, sejak hari itu, komunikasi makin intensif nih, puncaknya pas waktu ada stock take di outlet Cibubur Junction, istri saya harus berangkat subuh ke sana, saya dengan sukarela langsung bilang, “yuk gw temenin” padahal hari itu saya shift siang di Plaza Indonesia, Thamrin, Jakarta. 😁, lalu ternyata stock take itu juga sampe malam, balik lagi donk ke Cibubur Junction dan pulang bareng lagi…
Satu hal yang saya mau tekankan di sini…Sampai detik di mana saya ngantar pulang sampai rumah malam-malam, istri saya MASIH GA SADAR JUGA… nah, begitu saya pulang sampai rumah, baru deh baca SMS, yang intinya saat itu istri saya mulai heran dan bertanya-tanya, “lu ada apa sih? biasanya teman ga ampe gini deh…?”
😂🤣😂🤣😁😁😁😶😶😶😶😶😶😶😍
Saya ampe bingung mau bilang apa sekarang…tapi saya putuskan, ya sudah lah ini saatnya, dan besok paginya, saya finalize lah urusannya… and then, it all began…officially in 21 August 2006.
The Relationship
Another fast forward, akhirnya saya dan calon istri mulai menjalin hubungan, dan ga ada satu orang teman pun yang sadar waktu itu, karena dengan kondisi kami masih kerja di tempat yang sama. Di tempat kami bekerja, sangat sering terjadi rotasi tempat kerja, dan kali ini istri saya ditempatkan di Margocity Depok, setiap kali saya shift siang, pasti saya sempatkan ke sana paginya, atau kalau saya libur, pasti saya sempatkan ke Margocity untuk jemput pulang.
Ya lama-lama staf-staf outlet pada nyadar juga lah ya… tapi antar staf operasional aja, belum sampai ke management.
Ga lama, kantor kembali mengadakan event outbound lagi, masih dalam kondisi belum diketahui teman yang lain 😋😋
Kali ini, sesaat sebelum kami naik bis untuk pulang, namanya orang pacaran, kami pengen punya foto bagus berdua donk, jadilah kami pakai area event untuk foto, dan pas saat itulah, para trainer dan facilitator acara melihat kami, dan ya sudahlah sejak saat itu, hubungan kami officially published 😁.
Sejak hubungan kami diketahui management, tidak ada hambatan apa-apa, karena ternyata tempat kerja kami saat itu, tidak mempermasalahkan karyawan di satu perusahaan yang sama untuk menikah, karena banyak contohnya ternyata, tapi mereka beda divisi dan beda business unit, atas kebijakan management, kami pun masih diizinkan karena tidak berada di satu outlet.
Fast forward lagi – dalam periode Agustus 2006 – November 2007, kami akhirnya memutuskan untuk membawa hubungan kami ke tahap yang serius, ya ke pernikahan, maka cerita berikutnya adalah tentang segala macam persiapan acara lamaran dan pernikahan, yang saat itu kami lakukan dengan segala keterbatasannya, tapi bisa Alhamdulillah lancar, dan membawa kami hingga hari ini.
The Engagement
Ada sedikit cerita lucu, jadi sebenarnya saya bukan ga mau cepet serius, tapi saya orangnya takut ditolak, makanya di-selow-in dulu biar jangan terlalu frontal, eh gayung bersambut ternyata malah istri saya nanya waktu itu, “kamu nih serius ga sih?” ya spontan saya ga mikir panjang lah, “OK, ayo emang saya mau serius”, saya ingat jawaban singkat waktu itu…dan setelah tutup telepon saya baru mikir…. “duitnya dari mana cuy…?”
Singkatnya, saya mendapatkan pendanaan berkat fasilitas koperasi karyawan saat itu, dan ada bantuan dari orang tua juga,
Karena kami bermaksud melangkah ke arah yang serius, maka segala sesuatunya juga kami mulai lakukan dengan serius, setidaknya ada 4 tempat di Jakarta yang kami rutin kunjungi waktu itu, karena 13 tahun yang lalu belum ada namanya online store dll…muter-muter Jakarta pakai motor, kadang pinjam mobil kakak.
- Pasar Tebet – Undangan, Souvenir seserahan, waktu undangan sebanyak 500 lembar saya bawa sebagian pakai motor pulang ke Bogor…🤣
- Pasar Jatinegara – Souvenir ucapan terima kasih
- Pasar Cikini – Souvenir seserahan, mas kawin
- Pasar Tanah Abang – Tentu ini cari baju-baju batik baru buat lamaran, dan istri saya beli gaun nikahan yang jujur terlihat bagus waktu dipakai di acara, dan masih kami simpan sampe sekarang.
Dan paling ga bisa saya lupa adalah waktu keliling Bogor cari gedung, pihak gedungnya sampe nanya, “siapa yang mau nikah?” dan mereka shocked pas kami bilang, kamilah calon mempelainya. Untuk urusan akomodasi lainnya, Alhamdulillah semua keperluan (make up, baju, pelaminan, fotografer, catering), ketemu semua di Bogor, dan jujur semua istri saya yang nemu loh, saya aja ga ingat gimana dia bisa sehebat itu dulu nemu itu semua tanpa bantuan google…termasuk bagaimana nge-desain bentuk seserahan biar bagus…
Di tanggal 11 November 2007, akhirnya kami mencapai milestone awal, ya itu adalah hari lamaran kami, saya masih simpan beberapa event yang kalau dilihat geli banget liat kondisi 13 tahun lalu.
The Wedding
Kami menyadari dana yang ada saat itu sangat pas-pasan, karena sebagian besar dana adalah dari hasil fasilitas di kantor kami saat itu, jadi kami berusaha sebisa mungkin membuat hal yang menarik di acara pernikahan nanti, dengan budget minimal, yang penting catering jangan sampai kurang…
Alhamdulillah ayah mertua saya, walaupun orang Sumatera, tidak mewajibkan kami harus ikut adat Sumatera yang saya yakin kalau mau diikutin, ga tau deh waktu itu ga kepikiran, tapi bagi sobat pembaca yang tahu adat Sumatera, pasti paham lah ya… bagi ayah mertua saya, yang penting nikah sah secara Islam dan secara negara, dan hanya pengen saat pernikahan ada baju adat Lampung yang ditampilkan, dan kebetulan juga ayah saya yang orang Jawa, ga ada istilah adat-adat Jawa segala macem yang kalau mo tayang di TV bisa sampe tayang 3 hari…
Waktu itu saya dan istri kepikiran untuk kendaran pengen unik ah, jadi kita cari delman donk…😁, nah karena ga ada dana untuk menyewa penari segala macam, akhirnya pinjam LCD projector punya kakak, semalam sebelum acara akad nikah, saya siapin slide sederhana tentang pertemuan kami sampai di acara pernikahan ini, dan kebetulan ada yang punya track lagu Sumatera yang enerjik waktu itu, membuat pas mulai acara resepsi cukup hidup kalau menurut saya…
Sejujurnya, kami banyak bantuan banyak banget menjelang hari pernikahan, yang tiba-tiba ada orang sewa rumah bertahun-tahun ga pernah kontak, tiba-tiba bayar tambahan, fasilitas tambahan yang ga kami duga dari pengelola gedung, dan masih banyak kemudahan lainnya, termasuk bantuan dari kakak-kakak dan orangtua kami.
Yang bisa saya pikirkan saat itu hanyalah, semua diberikan di waktu yang tepat, kami memulai semuanya dengan lebih banyak ga ngertinya, hanya niat ikhlas untuk melanjutkan hubungan kami ke arah yang serius dan sangat dianjurkan dalam agama, Alhamdulillah, acara inti dan tambahan selesai tanpa menyisakan beban yang berarti (selain cicilan koperasi…🤣), inilah yang dinamakan “Indah Pada Waktunya”
Tanggal 10 Februari 2008, adalah hari dimana kami memulai perjalanan ini, yang saya paling ingat saat itu adalah
- Saya bisa melafalkan ijab qabul on the 1st attempt dengan tegas.
- Kami sempat telat melaksanakan resepsi karena penata rias ketinggalan celana pengantin, jadi harus ditunda 45 menitan…😋
O ya kami ga akan bahas dana pernikahan, karena intinya sih hanya mau berbagi cerita perjalanan, dan biaya pernikahan, mahal dan murah adalah relatif…
The Journey Continues….
Di atas saya bilang kami memulai perjalanan, kenapa? karena tidak ada perjalanan hidup keluarga yang sempurna, yang isinya kisah bagus semua, tidak ada istilah Happily Ever After hanya karena di akhir cerita sang pangeran menikahi wanita pilihannya dan cerita ditutup dengan tirai “The End”, ga pernah kan kamu lihat kisah Cinderella dan yang lain-lain (ada denk, cerita Shrek), ada gitu kisah setelah mereka menikah?
- Seminggu setelah menikah, kami segera mengurus KTP dan KK baru, karena kami ga mau bermasalah tinggal nge-kost di Jakarta beda alamat KTP dan status belum menikah.
- Kami masih tinggal di kamar kost selama 6 bulan pertama, di mana kalau mau tidur kasurnya diturunin sehingga kamarnya penuh, dan paginya kasur ditumpuk lagi.
- Sebulan setelah kami menikah, kami berdua resign dari perusahaan dan pindah ke perusahaan baru, tentu management kesal saat itu 😁 karena susah cari orang di posisi kami yang betah.
- Kami tinggal di kontrakan selama kurang lebih 2 tahun, sampai akhirnya di 2010 kami memutuskan ambil KPR di daerah Serua, kami tinggal selama 2 tahun.
- Ga lama di 2012 saya dipindah area kerja ke Cikarang yang membuat transportasi menjadi sulit lagi, akhirnya kami jual rumah di KPR tersebut, dan kami kembali ke Bogor, menempati rumah kakak selama 2 tahun.
- Barulah di tahun 2014, kami sekali lagi merasakan rejeki pernikahan berupa rumah yang Alhamdulillah masih kami tempati hingga hari ini, yang akan saya bahas dalam blog OmahAyra.
Alhamdulillah, kini kami masih ada di dalam kisah perjalanan ini, dan biarlah Allah yang akan menentukan akhirnya, karena bagi kami, kisah perjalanan keluarga ini masih sangat awal, dan masih banyak halaman yang harus kami isi.
Ketika kita memulai hidup sebagai sebuah keluarga, maka di titik itulah kita harus mulai selalu menempatkan Happy Mindset, no matter what your condition is…
Saat kamu memilih menikahi istrimu, dan sebagai istri juga menerimamu sebagai suamimu, maka komitmen Happy Mindset harus dimiliki bersama, rumah tangga pasti ada naik dan turun, maka suami dan istri saling bergantian mengisi peran untuk memberikan Happy Mindset, kurang tepat kalau hanya engandalkan salah satu yang selalu menjadi penyemangat, sudah pasti istri akan selalu menginginkan bisa dipahami suami saat sedang down, tapi ga ada salahnya juga ketika suami sedikit manja ketika justru suami yang sedang down, karena ke siapa lagi yang paling tepat untuk bicara masalah, ya ga? it’s just kind of life workshop, working hand in hand to build a strong family…
Terakhir, sebagai refleksi dan pegangan bagi kami, kami kenal dengan beberapa teman kami yang kurang beruntung sehingga tidak bisa lagi mengisi halaman perjalanan pernikahannya, kami tidak akan membahas itu karena itu adalah rahasia dan pilihan masing-masing, dan kami tidak mau men-judge pilihan orang. Satu hal yang selalu saya tekankan pada keluarga, ingatlah bagaimana perjuangan kita memulai ini semua, ingat serta mintalah agar Allah senantiasa menjaga pernikahan kami.
Terima kasih yang menyempatkan membaca ini, semoga menjadi inspirasi…Sampai jumpa…




































