“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi [18]: 46).
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan [25]: 74)
Ketika saya memutuskan menulis ini, ga ada yang lebih baik dan lebih relevan sebagai pembuka, selain kutipan 2 ayat Al-Quran di atas, Saya memang bermaksud membagikan perjalanan keluarga kami dalam menyambut Ayra, putri pertama kami yang lahir November 2016 lalu.
Apa yang istimewa sampai-sampai nunggu kehadiran seorang anak kok sampai dibuat halaman sendiri seperti ini? Sebelum lanjut, saya ceritakan kembali bahwa saya dan istri saya menikah di bulan Februari 2008, jadi sudah bisa kebaca ya arahnya? dari kami menikah di tahun 2008 dan menyambut Ayra di tahun 2016.
Keistimewaan perjalanan ini bukan hanya dari sisi medis dan perjuangan materiil saja, tapi bagaimana saya dan istri memaknai perjalanan ini serta mengambil hikmah yang ada
Tulisan ini juga bukan sebagai saran atau anjuran untuk mengikuti tindakan yang kami lakukan, tapi lebih sebagai media berbagi, buat mereka yang memiliki pengalaman yang mirip dengan keluarga kami, sepanjang perjalanan hidup kami, baik saya dan istri sudah bertemu dan berteman baik dengan teman-teman yang memiliki kondisi yang sama, maksudnya? ya, menikah lebih dari 10 tahun dan belum dikaruniai keturunan.
Masa Awal
Masa awal ini saya anggap mulai dari kami membina rumah tangga di bulan Februari 2008, hingga kami mulai menyadari bahwa kami perlu dukungan lain.
Setahun setelah menikah, masih merupakan hal yang wajar, walaupun sebagian besar keluarga besar dan teman teman yang ga pernah semuanya nikah sebulan langsung jadi, kadang-kadang suka ngeluarin pertanyaan yang nyebelin “kok belum..?” saya termasuk yang sering tersinggung, walaupun istri saya awal-awal ga pernah tersinggung, istri saya orangnya memang lebih easygoing.
Masih di tahun yang sama di 2009, istri saya sewaktu masih di tempat kerjanya di sebuah klinik di bilangan Jakarta Selatan, sempat konsultasi dengan seorang ginekolog di kantornya, dan dianjurkan untuk di-cek dulu bagaimana kondisi rahimnya, akhirnya istri saya sudah melalui prosedur medis paling awal yang kami lakukan saat itu, yaitu HSG (Histerosalpingografi) yaitu prosedur medis dengan memasukkan cairan yang disebut kontras ke dalam rahim sehingga pada hasil USG bisa terlihat apabila terdapat kelainan (misal sumbatan) pada struktur rahim.
Hasilnya saat itu, istri saya dinyatakan ada kelainan pada salah satu rahimnya, tapi tidak berarti tidak bisa punya keturunan, hanya mungkin bisa mengurangi kemungkinan pembuahan saja.
Saya ingat waktu itu kami masih pakai motor kemana-mana (namanya juga baru nikah)… selesai HSG, kami naik motor dari klinik di daerah Jakarta Barat, balik ke arah Jakarta Selatan 😅, bagi anda pembaca kaum hawa yang paham HSG pasti ngerti lah kenapa ini saya bilang menantang banget, saya si ga bisa rasakan gimana saat itu ya, tapi lihat ekspresi istri saya, kayanya cukup menyiksa deh…
Sekitar setahun berikutnya, giliran saya yang harus lakukan pemeriksaan, penting donk, kan masalah harus dilihat dari semua sisi, saya lakukan pemeriksaan di lab klinik Prodia, hasilnya tidak menunjukkan gejala infertil, walaupun memang bilangan sel sperma kurang dari seharusnya
Intinya, baik saya dan istri menganggap hasil pemeriksaan awal tersebut sesuatu yang bukan penghambat, jadi ya kami ga terlalu banyak mikir, jalanin aja dulu…
Masa Transisi
Setelah prosedur terakhir, kami lebih sering menghabiskan waktu untuk travelling, 2009 sebenarnya adalah backpacking travelling pertama kami sebagai keluarga, ke Bali dengan cara ngeteng naik kereta ke Surabaya lanjut ke Bali…kami anggap honeymoon yang tertunda, karena dulu setelah nikah kami ga ada budget buat kemana-mana, cuma bisa naik motor ke Puncak, nginap 2 malam, modal bawa buku nikah…😂maap gambar di bawah ini harus di-edit karena saya pengen majang gambar tapi kan ini foto istri jaman dulu…😋
Di periode ini, ketika kami masih senang-senangnya travelling ke sana ke mari, mulai muncul lagi rasa gundah, jujur aja ya hampir setiap bulan, setiap kali saya lihat istri saya nyari pembalut, saya langsung baper…, di sekitar tahun 2014, saya dan istri coba mulai konsultasi ke salah satu klinik, Morula di Jakarta Pusat, kami berkonsultasi dengan dr, Ivan Rizal Sini, SpOG, yang memang terkenal dalam menangani masalah infertilitas, singkat cerita, kami dianjurkan melakukan 2 tindakan, laparoskopi dan inseminasi.
Laparoskopi dianjurkan karena pada saat USG istri saya didiagnosa memiliki beberapa kista kecil dalam rahim yang mungkin menghambat proses pembuahan, Setelah pulih beberapa hari kemudian kami kembali untuk prosedur inseminasi, namun Allah belum mengizinkan Ayra untuk hadir ke dunia saat itu, jadi belum ada hasil, dan tentu sangat kecewa ya…
Tidak berputus asa, beberapa bulan kemudian, kami coba ke Rumah Sakit Abdi Waluyo menemui dr, Karel Maanary SpOG, sama seperti sebelumnya kami kembali mencoba proses inseminasi yang kedua, pada saat akan dilakukan prosedur, dr, Karel sangat straight talk langsung bilang, “Ini sedikit sekali jumlah sperma-nya, kemungkinannya kecil ya bu, tapi kita selalu berserah pada Tuhan…” dan memang sekali lagi Allah belum meridhoi…
The Ultimate Ikhtiar
Kenapa saya bilang ini tahap ikhtiar yang ultimate, karena ini adalah tindakan yang kami sepakati ini adalah terakhir yang kami sanggupi, kalau memang belum rejeki, maka ini adalah saatnya pasrah, di tahap ini sempat terbersit, kalau memang kami ditakdirkan untuk ga dapat keturunan di dunia, ya Allah, bahagiakan kami di akhirat nanti sebagai satu keluarga lagi. Sejak awal sebenarnya kami sudah disuruh segera melakukan IVF (In-Vitro Fertilization), tapi kami masih ragu-ragu dengan biaya yang ada, intinya sih belum ikhlas lah…
Kali ini di tahun awal 2016, dari hasil browsing yang cukup teliti, istri saya mengajak saya untuk mencoba lagi ikhtiar kali ini dengan langsung mencoba IVF di Klinik Daya Medika atau Klinik dr Sander B di Jakarta Barat, IVF bisa dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dari di klinik terkemuka. Sebelum kami memulai prosedur kami disarankan dulu untuk kembali melakukan analisa sperma di RS Sayyidah di daerah Kalimalang.
Pada waktu yang ditentukan kami kembali berkonsultasi dengan dr. Budi Wiweko di Klinik dr. Sander B, dr.Budi ini juga mengajar, sehingga jadwal praktek beliau adalah sore hari, dan jangan heran, pasien-nya banyaknya minta ampun, singkat cerita kami, dapat giliran tepat pukul 23.00, tanpa panjang-panjang setelah bercerita tentang latar belakang, hasil pemeriksaan dari RS, dan melihat hasil USG, dr Budi langsung sarankan, IVF.
BISMILLAH, kali ini setelah sekian lama, saya pun ikhlaskan semuanya, ikhlas ini bukan hanya materiil ya kawan, tapi semua hal, ikhlas kalau hasil nanti ga sesuai, sejak awal sudah ikhlas, intinya si, saya dan istri kali ini lebih siap, dan pemikirannya sudah lebih matang.
Kami melakukan prosedur ini kira-kira selama 2 mingguan, karena urutannya memang panjang,
- Pemberian hormon pembesar telur sekitar 10 hari, itu disuntik 10 hari berturut-turut..u know…, saya aja cape ingetnya…😅
- Prosedur Ovum Pick Up (OPU)
- Pengambilan Sel Sperma
- Proses IVF hingga terbentuk embrio
- Proses embrio transfer ke dalam rahim
Setelah proses embrio transfer, kami diminta menjaga kondisi, jangan sampai sakit, jangan banyak bekerja berat, dan lain-lain, selama 2 minggu, kalau bisa bedrest – nah ikhlas juga berlaku di sini, kalau bisa saya waktu itu jangan sampai bikin istri bad mood, jaga sebisa mungkin selalu dalam good mood, karena apa? selama 2 minggu bed rest ga bisa banyak aktivitas, dikasih terus namanya penguat rahim dan obat sistem hormon.
Selang 2 minggu kemudian, kami diminta datang untuk blood test dan hasilnya akan bisa dilihat sore, karena jauh dari Bogor, akhirnya kami nginap dadakan di sekitar Jakarta Barat situ, dan sekembalinya ke klinik… ALHAMDULILLAH, pertama kalinya dalam 8 tahun saya harus meyakinkan diri saya bahwa apa yang dokter katakan itu benar… ya istri saya dinyatakan hamil.
Kehadiran Ayra…
Fast Forward, karena setelah istri saya dinyatakan hamil, maka selebihnya adalah prosedur kontrol bulanan, dan ini setiap bulan kami berangkat pagi-pagi dari Bogor ke Jakarta, tanpa beban tapi merasa sangat senang…jujur, senang banget…selama proses sejak prosedur medis sampai bahkan menjelang kelahiran, kami ga pernah announce kemana-mana, bahkan teman juga enggak, cuma orang tua dan saudara aja, karena kami ga ingin takabur dengan apa yang belum pasti dari Allah, termasuk jenis kelamin.
Another fast forward, di bulan ke 7 kami disarankan untuk melanjutkan pemeriksaan di Bogor supaya ga kejauhan, dan kami dirujuk ke dr. Inayatullah Rifai, SpOG di RS Azra Bogor, Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga bulan ke-9 dan mendekati HPL, dan akhirnya di tanggal 24 November 2016, Allah mengizinkan Ayra hadir ke dunia setelah sekian lama papa mamanya selalu memimpikan.
ALMAHYRA TANISHA JOEDOAMIDJOJO, nama lengkap Ayra, yang memiliki arti anak perempuan yang berhasil dengan baik, cerdas, beruntung, istimewa, baik dan ramah, dan Joedoamidjojo adalah nama kakek saya, 2 nama yang kami niatkan cari jauh hari sebelum kelahirannya, yang semuanya berisi harapan dan doa kami pada Allah.
Kami juga sempat siapkan nama anak laki-laki, yaitu MUHAMMAD ADHYASTA JOEDOAMIDJOJO, artinya sederhana, yaitu Pengawas, tapi makna di balik pengawas sangat luas dan mendalam…dia cenderung memimpin dengan berwibawa dan selalu mencari petualangan. Ia sangat tertarik dengan kehidupan dan memiliki sifat mandiri, yah ini hanya ikhtiar kami bahwa kami ga mau mendahului keputusan Allah tentang jenis kelamin laki-laki atau perempuan, walaupun di bulan ke-5 dokter keceplosan pas USG, “cewek nih bu…”🤣
Hikmah…😇😇
Hikmah cerita saya kali ini bukan menitikberatkan pada prosedur yang kami lalui, atau promo dokter dan tempat klinik, tapi pada nilai ikhtiar dan keikhlasan.
Semua prosedur medis terbaik di dunia tidak akan mungkin berhasil tanpa izin Allah, terlepas dia percaya Allah atau engga, karena Allah Maha Pengasih, mau bukti? Banyak, paling gampang dari kami sendiri, setelah kami melalui proses ini, kami masih punya simpanan embrio sebanyak 3 buah yang disimpan di cryogenic storage selama 3 tahun, di sekitar tahun 2019 lalu, kami bermaksud mengulang kembali daripada disimpan dan bayar tiap tahun.
Singkat cerita, embrio yang disimpan grade-nya Excellent, sementara yang sekarang jadi Ayra itu hanya Good, waktu dikeluarkan dari penyimpanan, langsung aktif membelah, karena ada kasus dimana embrio dikeluarkan langsung mati, what can possibly wrong? Semua parameter medis suggests towards positive result, well kenyataannya… NEGATIVE kawan.., Allah belum izinkan Ayra punya adik…
Istri saya sebelum memilih prosedur ini pun sangat sering tahajjud dan puasa sunnah, saya sampe malu sendiri karena waktu itu ga ikutan, tapi akhirnya saya putuskan juga beberapa kali ikutan puasa sunnah. Ibadah belum ada artinya kalau kita juga belum bisa membuat orang lain merasa terbantu, sedekah maksudnya, lakukanlah hal ini, Insha Allah orang yang merasa terbantu akan ikhlas dan memberikan doanya yang juga Insha Allah, akan Allah ijabah.
Intinya bukan saya bilang kami jadi ustad atau ustazah, sampe saat ini pun pengetahuan agama kami masih sangat jauh dari sempurna, tapi satu hal dari baik sangka kami sama Allah adalah, Allah ingin kami jadi orang tua yang lebih baik dari 8 tahun yang lalu, lebih saleh, lebih paham arti kehidupan, yang Insha Allah bisa kami wariskan pada putri kami.
Mungkin bagi yang membaca ini akan punya berbagai pendapat, sekali lagi ini adalah pengalaman pribadi kami, yang Alhamdulillah Allah kasih kami amanah di kesempatan pertama, pesannya adalah, hasil apapun yang kita terima, berbaik sangkalah selalu pada Allah, kita mungkin pintar analisa ini dan itu, hitung probabilitas, dll… tapi ingat Allah yang menentukan apakah semua hitungan itu baik buat kamu atau tidak.
Satu pesan lagi, mohon agar menghilangkan stigma dan istilah “anak mahal” biaya materiil yang dikeluarkan adalah relatif bagi tiap orang, selama ikhlas maka ga ada yang mahal, tapi yang lebih penting adalah, anak ga pernah ada harganya, they’re always priceless , jangan suka kaitkan harga prosedur medis dengan kehadiran seorang anak… it’s just so unfair
Kok bisa ada orang yang ga susah-susah prosedur medis, tapi ada juga orang yang sampe malah prosedur sterilisasi, karena kayanya disenggol aja jadi… itu adalah rahasia Allah yang boleh aja jadi pertanyaan, tapi kita harus ikhlas atas rahasia Allah…
Yang terpenting, saya dan istri jadi lebih peka bagi mereka, dan kawan-kawan atau keluarga yang mungkin mengalami hal yang sama dengan kami, pesan bagi yang tidak ngalamin, ingatlah bahwa kehadiran seorang anak adalah hadirnya ruh, bukan cuma hasil pertemuan biologis sel telur dan sperma, jadi kehadiran anak itu hak privilege Allah, jadi berhentilah menanyakan kenapa belum punya anak, seolah kalau udah nikah lalu belum punya anak adalah satu keanehan…
Lebih panjang cerita hikmah ya?, ya iyalah karena inti dari halaman ini bukan prosedur medisnya, tapi lebih pada bagaimana kami mengambil hikmah perjalanan kami selama 8 tahun hingga hadirnya Ayra…
Semoga menjadi inspirasi… sampai jumpa, dan inilah keceriaan Ayra bersama Mama Papa hingga hari ini, semoga senantiasa menjadi Qurrota A’yun bagi kami… Aamiin…























