Wisata sambil Umrah

Pah, ayo kita umrah sama Ayra, sekarang naik Saudia bisa pake visa transit buat umrah lho”

Sejak istri saya berangkat umrah sama ibunya sekitar 10 tahun lalu, saya termasuk orang yang susah terpanggil hatinya mau ikut pergi umrah, bahkan sampai pada waktu itu istri saya tiba-tiba menyampaikan idenya di pertengahan tahun 2023.

Alasannya sederhana, saya termasuk orang yang susah bepergian dalam grup besar, saya biasanya bepergian sendiri (solo traveler), dalam grup kecil, atau maksimal keluarga inti dan extended family member. Seperti kita tahu untuk bepergian umrah, selama ini selalu diatur lewat travel agent dan kita harus ikuti semua jadwal yang ada di dalamnya, bukan hanya umrah-nya saja, dan alasan religius lainnya sih sebenarnya ya memang belum waktunya saja buat “mendapatkan undangan”.

Jadi ketika istri saya tiba-tiba menyampaikan ide itu, tidak perlu waktu lama buat kami untuk segera merencanakan perjalanan “wisata sambil umrah” di sekitar pertengahan tahun 2023.

Dan benar saja, dengan melakukan booking tiket di situs Saudia Airlines, kita akan ditawarkan untuk mengajukan visa transit selama maksimal 4 hari, di mana visa transit tersebut bisa digunakan untuk segala keperluan wisata dan non-bisnis, termasuk umrah, kebijakan baru yang diterbitkan Kerajaan Saudi Arabia untuk menarik minat wisatawan.

Dan… dimulailah cerita perjalanan kami yang sangat berkesan untuk memulai tahun 2024 bersama si kecil Ayra.

Pemesanan Penerbangan dan Visa

Karena judulnya adalah “wisata sambil umrah” jadi yang kami lakukan adalah membuat flight booking dengan tujuan Jakarta-Istanbul, transit di Jeddah, Saudi Arabia, dengan menggunakan penerbangan Saudia Airlines. Kenapa Jakarta-Istanbul? Karena Turkey adalah negara tujuan bebas visa, biaya hidup selama di sana tergolong murah, dan setidaknya kami bisa merasakan sedikit suasana “Eropa” dengan geografi Turkey yang ada di benua Asia dan Eropa, suasana itu bisa dirasakan saat melewati Selat Bosphorus yang memisahkan dua benua tersebut.

Pemesanan yang kami lakukan tidak langsung berjalan mulus, awalnya kami mengira bisa mengajukan 2x visa transit, sehingga pada pemesanan pertama, kami memilih kedua waktu transit di Jeddah dan Madinah selama 4 hari, ternyata, visa transit hanya bisa diberikan 1x, pada saat kedatangan atau pada saat kepulangan.

Setelah mengetahui hal itu, kami menanyakan bagaimana menyesuaikan pemesanan kami sesuai kebijakan Arab Saudi, dan kami diarahkan untuk langsung menanyakan ke Kedutaan Besar Arab Saudi, karena dari pihak Saudia Airlines hanya bisa menyarankan untuk reschedule flight.

Pihak Kedubes Arab Saudi ternyata juga tidak menyarankan kami untuk membuat visa reguler atau visa umrah baru, karena belum tentu bisa langsung disetujui dan biayanya lebih mahal dari visa transit yang sudah diterbitkan di pemesanan pertama kami, dan jika tidak disetujui biaya tersebut tidak bisa dikembalikan.

Maka pilihannya hanya ada reschedule. Kami langsung mengunjungi kantor pusat Saudia Airlines mencoba melakukan reschedule, dengan konsekuensi tambah biaya, namun ternyata, karena kami memesan lewat web, maka pesanan tersebut tidak bisa di-reschedule, tapi harus digunakan dulu, baru kemudian tiket bisa direschedule di kantor Saudia Airlines di negara tujuan, atau dibantu kenalan di kantor Saudia Airlines Jakarta untuk reschedule.

Karena kami tidak mau repot dengan perjalanan kami untuk mencari kantor Saudia Airlines di Turkey, dan juga tidak mau merepotkan saudara atau kenalan kami untuk membantu reschedule di Jakarta, maka satu-satunya pilihan adalah membatalkan pesanan, cukup shock! Karena yang terpikir saat itu hanya berapa besarnya biaya pembatalan, dengan total harga tiket sebesar Rp 45 juta untuk 3 tiket.

Alhamdulillah, pembatalan bisa dilakukan, dan cancellation fee-nya ternyata hanya Rp. 2 juta untuk 3 tiket yang sudah dipesan, nominal yang tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan kerepotan yang akan kami alami untuk proses reschedule, selain itu visa transit yang sudah diterbitkan, ternyata tetap berlaku.

Singkat cerita, kami kembali melakukan pemesanan di web dengan lebih berhati-hati dan menyesuaikan dengan jadwal perjalanan kami, rute perjalanan penerbangan ada di ilustrasi aktual pemesanan kami

Rincian perjalanannya adalah sebagai berikut,

Keberangkatan:

Jakarta – Jeddah – Istanbul

Jakarta – Jeddah (9 jam), Transit Jeddah (6 jam), Jeddah – Istanbul (3 jam)

Kedatangan:

Istanbul – Jeddah – Jakarta

Istanbul – Jeddah (3 jam), Transit Jeddah (92 jam), Jeddah – Jakarta (10 jam)

Pada penerbangan pulang, saat transit di Jeddah visa transit kami gunakan, visa ini berlaku selama maksimal 4 hari (92 jam), berlaku selama 90 hari sejak diterbitkan, dan hanya dapat digunakan untuk single entry. Waktu 4 hari ini lebih dari cukup untuk kami umrah, 2 hari di Mekkah, dan juga melakukan round trip Mekkah-Madinah, dengan kereta cepat Haramain yang hanya perlu 2 jam untuk perjalanan Mekkah-Madinah.

Proses pengajuan Visa transit ini tergolong sangat sederhana dan sangat cepat, kami hanya memasukkan data-data yang diminta pada saat pemesanan tiket di Saudia Airlines, o iya, pembuatan visa transit ini hanya bisa dilakukan melalui fasilitas Stopover Visa di web Saudia Airlines, biaya yang kami keluarkan untuk pembuatan 3 visa transit adalah sebesar 1 juta rupiah (900 ribu-an kalau ga salah).

Dokumen yang diperlukan di visa transit hanya data-data di passport, dan data-data pribadi lainnya, seperti email address, nomor handphone yang valid, foto terakhir dengan background putih, alamat di negara asal, alamat negara tujuan (biasanya pakai alamat hotel), pekerjaan saat ini, lalu nama yang harus memiliki susunan 3 nama, seperti saya yang hanya punya 1 nama, maka harus dibuatkan catatan pengesahan di passport yang menyebutkan 3 nama, saya menggunakan nama saya, nama ayah, dan nama kakek. Karena itulah waktu putri kami lahir, saya sudah langsung menyiapkan susunan 3 nama, supaya ga seperti saya.

Sebenarnya, visa transit bisa saja diajukan terpisah di situs kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi, di www.visa.mofa.gov.sa  tapi karena prosesnya terpisah dari pemesanan tiket, kemungkinan tidak akan selancar jika dilakukan berbarengan dengan pemesanan tiket, semacam endorsement dari pihak airline bahwa penumpang ini sudah mempunya tiket round-trip dan tidak akan menetap di Arab Saudi, sama seperti visa transit Dubai, UEA, yang hanya diterbitkan oleh Emirates Airlines.

SIM Internasional

Loh…loh, kok pake SIM Internasional segala?

Tujuan kami di Turkey tidak hanya di Istanbul, tapi kami juga berencana mengunjungi Goreme, Kapadokkia, Travertine of Pamukkale, Ephesus Ancient City, and Izmir. Moda transportasi paling ekonomis dan efisien yang kota tersebut adalah mobil, karena kendaraan umum sangat jarang dan tidak semudah di Istanbul, sehingga kami memutuskan membuat SIM Internasional.

Proses pembuatan SIM Internasional sangat mudah dilakukan secara online melalui website Korlantas POLRI. Biayanya Rp. 250,000 per pengajuan, dengan waktu proses sekitar 2-3 minggu. SIM ini berlaku selama 3 tahun dan dapat diperpanjang, serta berlaku di 92 negara yang ikut menandatangani konvensi Jenewa mengenai transportasi.

https://siminternasional.korlantas.polri.go.id/

Dokumen yang diperlukan untuk proses pembuatan SIM Internasional ini adalah, scan SIM Nasional (A, B, atau C), karena nanti SIM Nasional ini akan dikonversi ke SIM yang sesuai dengan kendaraan yang akan kita kemudikan,  scan KTP, foto dengan background putih, scan tandatangan, dan scan paspor, pembayaran proses SIM Internasional pun dilakukan melalui virtual account, jadi semua dilakukan secara online, termasuk pembayaran, sehingga tidak ada proses tatap muka di kantor Korlantas POLRI.

Saya akan share langkah-langkah detil pembuatan SIM Internasional di web Korlantas POLRI di page lainnya.

Dan, dengan demikian lengkaplah dokumen syarat perjalanan kami yang utama, tiket, dan visa transit Arab Saudi, lanjut ke perencanaan perjalanan.

Perencanaan Perjalanan

Perjalanan berjudul “wisata sambil umrah” ini kami buat dengan garis besar sebagai berikut, total perjalanan termasuk waktu transit menunggu pesawat  adalah selama 14 hari.

  1. Istanbul (2 hari), apalagi kalau bukan Hagia Sophia, Masjid Sultanahmet, Grand Bazaar, Balat, lalu ke tujuan berikutnya dengan penerbangan domestik.
  2. Kapadokkia, (3 hari), tujuannya ga lain buat terbang dengan Hot Air Baloon, di tengah perjalanan kami sempatkan singgah di Erciyes Ski Resort, lalu melanjutkan ke Goreme, dan hari-hari berikutnya, kami mengunjungi Kaymakli underground City, Uchisar Castle, Selime Monastery, menyaksikan pertunjukan Whirling Dervish.
  3. Pamukkale (3 hari), mengunjungi Ephesus City, Travertine of Pamukkale, House of Virgin Mary. Enam hari perjalanan di kedua kota ini kami lakukan dengan sewa mobil dan penerbangan domestik.
  4. Kembali ke Istanbul (2 hari), Anadolu Kavagi dengan menggunakan tur Selat Bosphorus, Galata Tower, Istiqlal Caddesi, menunggu trem yang terkenal, Taksim Square
  5. Perjalanan pulang untuk transit di Arab Saudi, setibanya di Jeddah, kami menggunakan bus untuk mencapai kota Mekkah
  6. Mekkah (2 hari), hanya fokus umrah dan ibadah, melanjutkan ke Madinah dengan Haramain
  7. Madinah (2 hari), tentunya ibadah di Masjid Nabawi dan Raudhah, dan kami menyempatkan menaiki Hop-on Hop-off Madinah bus, lalu kembali ke Mekkah dengan Haramain
  8. Penerbangan kembali ke Jakarta

Detail di tiap-tiap kota tersebut akan kami bagikan di cerita berikutnya, sampai jumpa.

Tinggalkan komentar