Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menulis kegiatan keluarga yang kami lakukan, sampai hampir lupa cara penyusunan tulisan di WordPress š
Kali ini karena saya sendiri mulai menjadi seorang sport enthusiast, apa sih itu? jadi seorang sport enthusiast adalah ga lain menjadikan olahraga buat hobby, bukan untuk pekerjaan kaya seorang atlit, tapi menggemari aktivitasnya, dan memang sedikit addicted sehingga kalau ada 1 hari ga ada aktivitas fisik yang cukup intense kerasa kaya lupa shalat atau lupa makan…

Dari Iseng-Iseng jadi Sering-Sering
Kalau melihat di postingan saya beberapa waktu lalu terkait dengan aktivitas selama WFH sejak 2020 lalu, ya memang awal mulanya kita berdua “iseng-iseng”, bersepeda keliling komplek, lalu barengan ama tetangga, ikut beberapa komunitas gowes, saling bertukar pandangan, dan akhirnya kami berdua pun ikutan jadi “anak sepeda” yang lumayan serius sepedaan, ga cepat, tapi setidaknya cukup intense dan rutin.
Kami berdua mulai menggemari aktivitas outdoor sepeda, dan mainnya juga masih MTB tanpa ngerti kalau di dunia sepeda itu ada KOM, QOM dll, hanya mengikuti arah kemana kaki mengayuh.

Setelah beberapa lama, kira-kira di awal tahun 2021, istri saya kasih ide, gimana kalau kita ikutan main roadbike juga? kok kayanya klo lihat pesepeda roadbike keren banget gitu, awal tahun 2021 adalah awal ghoib-ghoibnya roadbike maupun MTB, semua orang gila-gilaan cari sepeda sampe semua distributor sepeda kosong.
Ketika sudah serius main roadbike, maka hal yang paling detail pun harus diperhatikan, misal ukuran sepeda, tinggi sadel, setelan tinggi handlebar, termasuk apparel kaya ukuran sepatu, karena roadbike ditujukan buat melatih performance, sehingga postur harus pas, dan di sinilah kami mengenal istilah bike fitting.
Saya dan istri punya tinggi badan yang kurang lebih sama, tapi tetap ada sedikit perbedaan sehingga roadbike ga bisa selalu 1 settingan, akhirnya kami putuskan untuk punya 2 sepeda yang sudah disesuaikan dengan setelan yang paling pas buat masing-masing, biar kita bisa gowes bareng


Selama setahun terakhir inilah beberapa kesempatan di mana kami bisa gowes bareng ke tujuan yang kalau diniatin naik mobil atau motor pasti males, la kok niat pake sepeda malah ga males??
Rute gowes bareng istri yang terjauh saat ini adalah rute Audax Bekasi di bulan Maret 2022 lalu sejauh 300km selama 17 jam, dan selebihnya ya paling kisaran 50-100 km klo lagi gowes weekend. Di kesempatan lain, saya akan berbagi cerita pengalaman mengenai gowes jarak jauh.


O ya, berubah tipe sepeda ke roadbike itu bukan cuma sekedar keren doank ya, tapi memang kita pengen nambah performance badan juga, dari yang biasa bersepeda dengan speed 14-17 km/h, ditingkatkan ke >20 km/h, ada efeknya memang? ya jelas ada, yang pasti ukuran jersey yang dulu selalu beli M dan L sekarang sudah bisa S, bahkan buat running jersey saya bisa pake XS.
Tambah Cabor
Karena judulnya sport enthusiast, maka apa cabor berikutnya yang populer setelah sepeda? yes Lari…
Mulai di akhir 2020, awalnya ga pernah kepikir untuk mulai lari, karena pernah tau rasanya lari cuma 1 KM aja kok pada pegel, mulailah kami niatkan, sesuai virtual challenge, cuma 5 KM aja, hasilnya walah pegel semua, dada pada sakit, padahal waktu itu lari cuma pace 8 km/menit.

Tapi namanya enthusiast ya, hal seperti itu yang bikin penasaran, apa yang salah dengan caranya, ya akhirnya kita perbanyak baca tentang running form latihan pendukung lari
Hasilnya? istri saya juga ikut senang lari, saya sudah beberapa kali solo run dengan jarak Half Marathon, yang terjauh saat ini adalah 31.12 km, goal saya berikutnya adalah Full Marathon, apakah Ultra Marathon juga?… let’s see, well ga ada yang ga mungkin, banyak yang sudah bisa melakukan, kenapa kita engga?


Transformasi dan Instrospeksi
Cuma sekedar ilustrasi saja, siapa tahu menginspirasi… sekedar perbandingan sebelum menjadi sport enthusiast dan sesudahnya


By the way, sport enthusiast itu hanya sekedar inspirasi, banyak hal lain yang bisa membuat hidup lebih terasa artinya, apapun kegiatan itu yang positif, yang penting dilakukan secara konsisten, dan ga terlalu dibuat jadi beban, kalau memang aktivitas olahraga mau diseriusin, ikuti latihan yang benar dan terstruktur, supaya ga ngoyo dan malah bikin sakit gara-gara pengen performa yang setara dengan orang lain, pahami batas diri, dan ingat lagi kenapa saya memilih aktivitas ini, jangan sampai yang harusnya bikin senang, malah menyiksa diri karena berubah arah tujuan
Satu hal lagi, aktivitas apapun itu, ketika kamu melakukan sebagai enthusiast, pasti akan keluar duit, mau itu bercocok tanam, mancing, bersepeda, fotografi, touring mobil… jadi memang kita ga bisa menghakimi orang lain bahwa kegiatannya itu buang-buang duit, money spending itu relatif, yang terpenting kita bisa menjaga diri untuk tidak spending berlebihan, selama dalam batas wajar, tidak memberatkan (relatif juga…) dan bikin bahagia, ya itulah makna seorang enthusiast.
