Gran Fondo Challenge

Kali ini saya bermaksud membagikan pengalaman lanjutan bersepeda yang cukup epic sebagai permulaan kami yang semakin “terjerumus” untuk rutin bersepeda, setelah kami memulai semuanya hanya sebagai kegiatan iseng-iseng keliling kompleks maksimal 15 Km.

Ga bisa dipungkiri, bersepeda memang memberikan alternatif menghilangkan kebosanan selama masa pembatasan ini, dengan catatan, kami lebih sering bersepeda sendiri, maksimal bareng tetangga dengan jumlah kurang dari 8 orang.


Kenapa Gran Fondo?

Sebenarnya ada beberapa rute menarik yang kami bisa bagikan untuk bersepeda di sekitaran Bogor, tapi kenapa kami bahas Gran Fondo, karena ini boleh dibilang challenge yang bagi pegowes pemula, perlu ada persiapan, bagi pegowes lama, Gran Fondo sudah tidak asing pastinya, adalah menempuh perjalanan 100 Km, single ride.

Ya, single ride, bukan akumulasi ya, karena kalau akumulasi, jarak 100 Km bisa dengan mudah dicapai. Challenge ini bisa ditemukan di aplikasi yang populer digunakan para pegowes, pelari, perenang, dan di berbagai macam aktvitas olahraga, yaitu Strava.


Persiapan

Yang dimaksud persiapan, tentu bukan hanya perencanaan rute dan perbekalan, tapi yang paling penting adalah latihan sebelumnya, saya dan istri memang tergolong pegowes baru, tapi kami berusaha rutin bersepeda, dengan bergantian tiap 2 hari sekali, karena bergantian menjaga putri balita kami.

Grafik latihan kami tentu tidak datar, dan dimulai dari sangat basic, kami mulai dari bersepeda santai di sekitar kompleks, mulai dari 5 Km, 8 Km, 10 Km, lalu kami mulai penasaran bersepeda semakin jauh, ke Sentul, Curug Nangka, dan hari ini rata-rata jarak tempuh kami per ride adalah sekitar 30-40 Km sebagai latihan rutin, dengan elevation gain rata-rata 200-400 mdpl.

Setelah beberapa kali kami menempuh jarak perjalanan terjauh 40-50 Km, barulah kami merasa cukup percaya diri untuk mencoba Gran Fondo 100 Km single ride, ini adalah catatan aktivitas yang sudah pernah saya lakukan, total aktivitas year-to-date adalah 908 Km, elevasi total 9,433 m, 27 rides, tidak termasuk sepeda jarak pendek yang di awal kami ga sempat catat di Strava dan tracker lain, rata-rata berkisar 8-11 Km

Sedangkan ini catatan latihan istri saya, total aktivitas year-to-date adalah 776 Km, dan elevasi total 7,768 m, 21 rides, juga tidak termasuk sepeda jarak pendek yang di awal kami ga sempat catat di Strava dan tracker lain, rata-rata berkisar 8-11 Km.

Selain latihan, persiapan menuju hari-H adalah yang penting, yaitu perencanaan rute, dan perencanaan perbekalan selama gowes, 100 Km bukan jarak yang mudah ditempuh sekaligus bagi pegowes amatir seperti kami, saya akan langsung bagikan perbedaan persiapan perbekalan, rute, antara saya dan istri saya.


Rute dan Perbekalan

Dalam Gran Fondo yang terpenting adalah jarak, kalau dapat elevation gain, itu bonus, kenapa? kalau memilih rute yang banyak variasi tanjakan, turunan, buat pegowes amatir, akan sangat menghabiskan tenaga, dan yang ada jarak 100 Km bisa ga tercapai, saya dan istri memilih rute yang lebih datar dan landai, walaupun tetap ada perbedaan elevation antara Kota Bogor dan destinasi gowes.

Hal lain terkait rute tanjakan dan turunan, Kota Bogor selalu lebih rendah daripada Jakarta dan sekitarnya, dalam latihan kami, selalu mencari rute yang berangkat yang menanjak, sehingga pulangnya tinggal menikmati turunan – sekedar tambahan ide.

Danau Quarry PT Jayamix

Persiapan awal adalah, saya hanya sarapan cereal dan minum secukupnya, dan yang saya bawa adalah 3 batang Fitbar dan uang secukupnya. Jika anda beraktivitas cukup intense seperti ini, sebaiknya hindari makan berat, lebih baik membawa makanan kecil yang berenergi (fitbar, bengbeng, gula aren, minuman isotonik), lalu dikonsumsi sesering mungkin dalam perjalanan, sedikit-sedikit, karena makanan berat dalam jumlah biasa kita makan, bisa memicu refluks lambung, jika setelah makan dilanjutkan kembali olahraga, pengalaman pribadi…

Sehari sebelumnya, saya browsing destinasi wisata yang ga biasa, dan saya menemukan tempat yang cukup unik di Kawasan Rumpin, yaitu Danau Quarry PT Jayamix, yaitu danau yang terbentuk sebagai sisa penggalian material bangunan yang dulunya dikelola PT Jayamix, pertambangan tersebut sudah ditutup, dan menyisakan lubang besar yang kemudian lama kelamaan menjadi danau.

Alasannya sederhana, gowes saya bertepatan dengan HUT Ke-75 RI, dan saya pengen berfoto dengan membawa bendera di lokasi yang “alami”, lokasi danau ini cukup sulit ditemukan, harus sering-sering lihat Google Map dan tanya penduduk sekitar, karena ga ada petunjuk jalan sama sekali.

Untuk kemari pun, akan lebih mudah menggunakan roda dua, mobil bakal sulit masuk, bukan ga mungkin, karena masih banyak truk material berseliweran, hanya saja rutenya sedikit berputar.

Jarak tempuh one way kemari adalah sekitar 40 Km, saya sadar, untuk rute PP, tentu bakal masih ngutang, maka pentingnya perencanaan rute adalah, kalau kita sadar rute ini kurang, nanti nambahnya mau kemana? jangan sampai seperti pengalaman salah satu pegowes yang ceritanya mau Gran Fondo, tapi ternyata jarak yang ditempuh hanya 95 Km, ya mo gimana ya? entah memang setting GPS atau hal lain, tapi bagi saya, lebih baik sering-sering cek jarak tempuh sebelum sampai rumah.

Untuk menempuh rute ini, saya mengambil jalur Bogor – Jalan Baru – Yasmin – Semplak – Bantar Kambing (melalui pangkalan TNI AU Atang Senjaya) – Rumpin – Rancabungur, walaupun rutenya terlihat sederhana, tapi daerah Rumpin dan Rancabungur itu sangat luas.

Awalnya saya berniat melanjutkan membuat loop route melalui Leuwi Liang dan Jasinga, tapi ketika matahari sudah semakin panas dan jalanan menanjak pulang, saya sudah ga berani lagi explore rute lain, secara psikis sudah bikin badan ga kuat.

Saya sempat melewati Jembatan yang membelah sungai Cisadane, dan perjalanan dilanjutkan sampai saya ketemu pertigaan jalan yang menandakan dimulainya arah ke jalur pertambangan (sering-sering cek Google Maps).

Benar memang, jalan ke sini cukup sulit, ga ada penanda arah tujuan, memang sengaja ga dibuat sebagai tujuan wisata, saya tiba di tempat tujuan sekitar pukul 9 (3 jam dari Bogor) dan pemandangan yang saya dapatkan memang luar biasa, terlebih lagi, tidak ada orang sama sekali ketika turun ke danau

Sekembalinya ke portal masuk, saya bertemu beberapa orang pegowes dari BSD, satu-satunya kelompok yang saya temui hari itu, kami berbincang sejenak, sharing, lalu kami berpisah arah, saya memutuskan kembali ke rumah.

Bagi saya, perjalanan pulang dengan kondisi jalanan yang panas, penuh debu, karena lokasi pertambangan, benar-benar menguras energi, saya sempat berhenti beberapa kali, karena disorientasi arah, istirahat untuk sekedar minum, makan perbekalan yang saya bawa, saya pun tiba di rumah sekitar pukul 13.30, cukup lama memang, karena perjalanan pulang menjadi cukup berat dengan sengatan matahari yang sangat terik saat itu.

Saya hampir gagal Gran Fondo, karena ternyata masih kurang 3 Km, jadi ya saya lanjutkan dengan memutari komplek rumah,

Hasil akhir,

  • Jarak tempuh : 102.27 Km
  • Elevation Gain : 806 m
  • Max Elevation : 206 m
  • Time : 6 jam 29 menit
  • Average Speed : 15.8 Km/h

O ya sesampainya di rumah, walaupun saya belum makan besar, saya tidak langsung istirahat dan makan, tapi saya perbanyak minum dulu, saya bahkan minum teh manis hangat, lalu isi kembali perut dengan makanan berenergi, sambil pendinginan, kira-kira 1-1.5 jam kemudian setelah relaksasi, baru saya putuskan makan biasa, dalam jumlah tidak banyak.


Bundaran Hotel Indonesia

Ini adalah rute yang dipilih istri saya, beberapa hari setelah saya menyelesaikan Gran Fondo, istri saya yang sepertinya selalu “tertantang” mencoba Gran Fondo, tapi merencanakan rute dengan mencoba-coba di Google Maps, awalnya sempat terpikir ke arah Cijeruk, Kab Bogor, tapi saya bilang, untuk pemula seperti kita, lebih baik cari jarak dengan elevasi relatif datar.

Istri saya orangnya termasuk yang ga suka perencanaan yang banyak, makanya waktu saya tanya perbekalan, santai banget, tapi dia sudah menyiapkan beberapa camilan berenergi juga

Hasilnya semalam sebelumnya istri saya memilih ke Jakarta dengan destinasi di Bundaran Hotel Indonesia, jarak tempuh one way sekitar 51 Km.

Rute yang dipilih saat berangkat adalah Bogor – Jakarta (via Jl. Raya Bogor, melalui Cililitan, Cawang) – MT Haryono – Kuningan – Jl. Jenderal Sudirman, dan pulangnya memilih rute Senayan – Blok M – Ciputat – Pondok Cabe – Parung – Bogor.

Hasil akhir,

  • Jarak tempuh : 110,78 Km
  • Elevation Gain : 426 m
  • Max Elevation : 205 m
  • Time : 5 jam 38 menit
  • Average Speed : 19.6 Km/h

Berikut beberapa dokumentasi yang diperoleh dari data riding istri saya, namanya ke Jakarta, ga banyak lah yang bisa didokumentasikan ya…

Satu faktor pendukung yang saya ga dapatkan adalah faktor cuaca, istri saya sangat beruntung mendapatkan cuaca yang sedang mendung seharian, sementara saat saya Gran Fondo dengan kondisi jalur pertambangan yang berdebu, Matahari saat itu lagi royal obral diskon, sangat berseri, kalo bawa telor bisa mateng di jalan kayanya.

Ini hasil sunburn yang saya dapat karena manset yang saya pakai sedikit bergeser karena adanya smart band, bisa kebayang itu mateng seluruh tangan…


Dari 2 rute di atas bagi pegowes pemula seperti kami bisa dijadikan alternatif, sama berkesannya, dengan tantangannya masing-masing, bedanya ada pada mentalitas pegowes, jalan ke Danau Quarry cukup sulit menemukannya, sehingga kalau gowes sendiri seperti saya, cukup bikin nyali sedikit ciut, tapi karena rutenya baru, maka saat mencapai ke destinasi akhir, ga terasa jauh.

Dari analisis data akhir, rute yang dipilih istri saya jauh lebih baik untuk Gran Fondo, total elevation gain yang didapat menjelaskan kenapa saya sampe mo overcook rasanya dan selisih 1 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata selisih 4 Km/h.

Dengan ketertarikan kami untuk serius olahraga seperti ini, memang yang paling enak adalah gowes berdua, karena secara psikologis, bersepeda jarak jauh lebih tenang kalau ada rekan, apa lagi yang paling pas klo bukan pasangan sendiri kan? tapi ya kami masih harus sedikit bersabar, ada 2 hal, putri balita kami belum bisa ditinggal sendiri sama orang lain, dan satu lagi, masih perlu nabung dulu mau bangun customized Gravel Bike.

Tinggalkan komentar