(True) Home Office

Hingga hari ini saya sudah menjalani 4.5 bulan WFH sebagai bagian dari kebijakan kantor dalam mendukung upaya pemerintah dalam menghadapi pandemi, di satu sisi, ini harus menjadi salah satu hal yang harus kembali saya syukuri, karena untuk bisa pergi bekerja ke Jakarta, saya menyaksikan beratnya perjuangan orang-orang yang pilihannya terbatas pada transportasi publik.

Kelihatannya trend perusahaan tempat saya bekerja juga mendukung WFH, bahwa selama 4 bulan hampir semua karyawan bekerja remote, tapi bisnis tidak secara signifikan terganggu, termasuk kinerja para field force yang menerapkan pendekatan online pada para stakeholdernya, tentu pengecualian bagi mereka yang di pabrik dan di gudang distribusi.

Dengan kondisi di atas, saya kembali mencoba melakukan desain ulang workstation di rumah, supaya benar-benar menjadi tempat yang nyaman untuk bekerja sambil mengerjakan hal lain di rumah.


Ruangan

Hal yang pertama saya lakukan adalah, memindah ruangan. Ketika OmahAyra direnovasi tahun lalu, sebenarnya ada space khusus di sebelah Playground Ayra, hanya meja kerja kecil dari IKEA dan kursi kerja yang kami beli di JYSK, saat itu workstation tersebut sangat lebih dari cukup, karena saya juga jarang pakai, waktu itu, kalaupun saya mau WFH hanya sekitar 2-3x sebulan.

Ketika WFH mulai diberlakukan full sejak 15 Maret 2020 lalu, bekerja di workstation ini sudah mulai ga nyaman, karena dengan semua orang WFH, maka komunikasi online pun semakin meningkat, dan ga enak komunikasi di ruang terbuka, ditambah lagi, kalau sudah di atas jam 10, area tersebut lumayan panas, Ayra juga sudah lebih aktif mainnya.

Di post saya yang lalu, saya akhirnya pindah ruangan ke kamar Ayra yang lebih sejuk, dan di post tersebut saya menggambarkan random-nya tindakan saya yang terus menerus mencoba “modifikasi” ruangan biar terasa seperti “home office”, tentunya dengan pendekatan yang kurang tepat dan akhirnya ga jadi ruang kerja yang ergonomis juga, selain itu karena rumah kami hadap barat, di atas pukul 11.00, sangat sulit kerja tanpa menyalakan AC.

Saya dan istri termasuk penyuka tayangan modifikasi rumah di channel HGTV, dan ketika ada ide tentang memanfaatkan ruangan serbaguna, saya langsung terpikir di kamar tambahan yang awalnya didesain jadi kamar tidur in case ada tamu yang datang dan menginap.

Well, kami sangat jarang menerima tamu, dan boleh dibilang ini sudah setahun, dan bahkan dalam 5 tahun kami tinggal di lingkungan ini sangat jarang sekali yang datang menginap kecuali ibu mertua saya, itu pun ada paling sekitar 2-3x dalam setahun, dan ga pakai kamar ini juga. Ini adalah gambar awal kamar tambahan di lantai dasar.


Re-Layout

Untuk membuat ruangan ini bisa jadi home office, tantangan terbesar adalah queen size bed yang sudah lebih dulu menghuni ruangan ini, dengan ukuran 160×200 cm tentu sudah ga ada space lagi tersisa untuk menaruh meja dan sebagainya.

Alhamdulillah, di saat yang bersamaan, salah seorang tetangga kami sedang renovasi rumah, dan dia juga menambah kamar dan perlu tempat tidur, dan tetangga kami setuju untuk membeli satu set tempat tidur tersebut, yang memang kami dulu pesan dari sebuah workshop kayu di woodsluck, jadi tempat tidurnya dari kayu solid.

Setelah ruangan kosong, mulailah saya memikirkan layout ruangan ini, sambil dikasih arahan sama istri tentunya… ada tantangan lain yang ga boleh dilupakan yaitu lemari dari IKEA yang memang sengaja kami beli sebagai ruang penyimpanan tambahan.

Harus sedikit imajinatif awalnya, karena kami bermaksud menambah sebuah sofa bed, supaya ruangan ini benar-benar jadi ruangan serbaguna, dengan ukuran 3x3m tentu sangat terbatas pilihan untuk menempatkan sofa bed, workstation, TV LED dan juga lemari besar

Satu hal tentang desain ruangan, adalah hal yang menguntungkan untuk mendesain jendela seperti ini

Desain tersebut memang membatasi pandangan keluar, tapi sangat membantu dalam optimalisasi ruangan terbatas, karena di kamar Ayra, sangat sulit menempatkan barang atau hal lainnya di area jendela ini.

Setelah sekitar 3 jam memindahkan TV LED, meja, lemari linen, menata kembali workstation, dan menambal lubang bekas bracket TV yang lama, inilah layout akhir home office OmahAyra.


Peralatan Pendukung

Home office tidak akan nyaman kalau tidak dilengkapi peralatan pendukung kerja yang memadai, jadi ini adalah beberapa kelengkapan, baik peralatan elektronik, maupun furniture yang ada di ruangan ini. Beberapa furniture memang sudah ada sebelumnya di ruangan ini.

Co-Working Equipment

Untuk Co-Working Space, perlengkapannya adalah sebagai berikut,

  • Monitor Lenovo ThinkVision 21.5″ untuk laptop projection – saya putuskan keluar modal untuk WFH untuk beli monitor, karena TV LED tidak sesuai peruntukannya, sehingga ukuran pixel-nya justru malah bikin mata saya sakit, ya memang TV diperuntukkan untuk ditonton dari jauh, dan monitor untuk dilihat jarak dekat.
  • Mouse and Keyboard wireless sederhana ROBOT KM3000, sebenarnya set mouse+keyboard ini lebih cocok untuk Android TV, tapi ini pilihan ekonomis, bagus, dan enak dipakainya – cuma kurang ga ada tombol, PgUp, PgDn, Home dan End
  • Jabra UC Voice headset – modal dari kantor
  • Bluetooth speaker Sony SRS BTV-5 yang suaranya sangat OK untuk ukuran speaker mini – giveaway dari kantor
  • TV LED 32″ TOSHIBA POWER TV, ini sih bukan buat kerja, tapi buat pendamping aja.
  • Fleco Android TV Box, kenapa saya ga beli yang MiBox? karena ruangan ini jarang dipakai dan saya hanya lebih perlu nonton IPTV, jadi sudah lebih dari cukup daripada maksa beli antenna indoor digital yang review-nya cukup banyak yang gagal nangkap siaran digital.
  • SAMSUNG DVD Player, ini juga hanya pelengkap, karena sudah hampir jarang dipakai, jadi dipasang di sini saja
  • SHARP Portable Fan, ini sudah kami dapat sejak awal kami pindah ke OmahAyra, lebih irit listrik pastinya daripada AC Hercules LG 1/2PK yang kami pasang di ruangan ini yang merupakan bawaan AC dari rumah lama yang sudah kami pakai selama 10 tahun.

Furniture

Furniture yang ada di sini hampir seluruhnya existing furniture yang kami pindahkan dari tempat lain.

  • Meja IKEA MICKE ukuran 73x74cm, yang sudah kami dapatkan sebelum renovasi OmahAyra
  • Kursi kerja yang kami dapatkan di JYSK store.
  • Lemari Linen IKEA dengan box storage kuning dan hitam, yang kami dapat juga sebelum renovasi.
  • Lemari Dombas IKEA, lemari lineup paling bawah untuk kelas 3 pintu, terlihat dari desainnya yang sangat basic, tapi sudah sangat lebih dari cukup dan bagus untuk penyimpanan tambahan.
  • Ambalan kayu IKEA yang kami pindahkan dari workstation lama di samping playground,
  • Ambalan kayu yang kami dapat di Informa berukuran 25×60 cm untuk penyimpanan Android TV Box dan DVD Player.
  • Coming soon – Sofa Bed..😁

Home office OmahAyra, kali ini lebih tertata, lebih tepat penggunaan, lebih multifungsi, lebih sejuk, lebih nyaman, dan yang pasti jadi ga mengambil jatah kamar anak atau tempat main anak…😁

Selain itu, karena konsepnya juga adalah ruang serbaguna, memudahkan orang yang datang dan perlu numpang shalat, karena biasanya kalau numpang shalat di kamar kan suka ga enak.

OK kira-kira itulah aktivitas yang saya lakukan di tengah pembatasan aktivitas ini, selain kali ini saya dan istri mulai serius cycling, yang awalnya cuma sekitar 10-15 KM keliling komplek, kali ini makin meningkat intensitasnya, saya akan share di lain waktu, thanks yang sudah menyempatkan mampir untuk baca ya…

Tinggalkan komentar