Sejak semua aktivitas dan pembatasan ini masih belum terlihat titik terangnya dan bagaimana arahnya, kita semua sudah melihat media tentang bagaimana muncul para pegowes musiman, yah memang sah-sah saja ya, karena memang sejujurnya kalau dilakukan dengan benar, bersepeda itu memang menyenangkan bisa dilakukan sendiri sehingga minim resiko, dan aspek olahraganya juga dapat.
Demam gowes ini memang nyata lho, saya dan istri yang sudah punya sepeda Polygon Monarch 5.0 yang kami beli 2 tahun lalu, dan ketika kami juga jadi mulai serius bersepeda, kami jadi penasaran lihat-lihat toko sepeda Rodalink di Bogor tempat kami beli sepeda ini dulu, yang awalnya cuma buat iseng-iseng keliling komplek saja.
Toko sepeda ludes dan tidak ada sepeda middle-level tersisa, hanya tinggal sepeda downhill, atau sepeda mahal tapi nanggung buat dipakai aktivitas aja, luar biasa ya? semoga saja kebiasaan orang berolahraga ini juga ga berhenti setelah semua kembali normal, saya sama istri sampai sempat bilang, nanti setelah pandemi dinyatakan berakhir, kayanya bakal banyak yang jual sepeda…🤣
Polygon Monarch 5.0
Sepeda pertama kami, dibeli sekitar tahun 2018, niatnya hanya pengen punya sepeda buat keliling komplek dan olahraga ringan, sehingga kami juga ga pernah punya sport gear yang memadai untuk pakai sepeda ini, cukup sepatu kets saja, kadang malah sepedaan hanya pakai sandal jepit.

Memang sejak 2018, kami ga aktif bersepeda, karena sehari-hari tentu saya ke kantor dari pagi, pulang malam, istri dan anak saya juga dengan kegiatan sehari-harinya ke pengajian dan playgroup, sepeda ini agak sedikit terabaikan selama beberapa bulan.
Kita fast forward sedikit ke tahun 2020, yang mengubah segalanya, tepatnya sebelum bulan Ramadhan, saya yang mulai merasa bosan dengan situasi WFH, coba mulai mengeluarkan lagi sepeda ini dari kandang dan mulai keliling komplek singkat, hanya 5-8 Km saja, hanya ada sekitar 4-5x seingat saya, dan ga pernah dicatat, dan masuklah kami di bulan Ramadhan, sehingga aktivitas sepeda berhenti lagi selama sebulan.
Memasuki bulan Syawal, saya coba aktifkan dan niatkan kembali aktivitas ini, hanya dengan sport gear seadanya, saya start aktivitas ini dengan bersepeda sejauh 12 km, hal yang bagi saya lumayan mengingat itu baru pertama kali saya serius olahraga.
Penasaran…
Judulnya aneh ya, penasaran, ya memang, karena ketika saya mulai bersepeda dari setelah shalat subuh selama 1 jam, saya lakukan setiap 2 hari sekali, dan istri saya akhirnya kembali ikut tertarik bersepeda, dan kami lakukan gowes bergantian, karena ga ada yang jagain anak kami.
Begitu kami mulai serius, pelan-pelan jarak tempuh meningkat, ke 12km, 15km, dan seterusnya, o ya, masih pakai Polygon Monarch 5.0 ya, dan sport gear baru mulai nambah helm aja, dan celana padding biar ga sakit, menyadari aktivitas yang kiat meningkat, saya mulai melengkapi segala macam aksesoris sepeda (botol, bel), dan juga perlengkapan olahraga yang memadai seperti kacamata, jersey sepeda, sarung tangan, dan pencapaian terakhir saya dengan Polygon Monarch 5.0 adalah 33 km.
Lama-lama, istri saya dan istri tetangga, mulai gowes bareng, dan perlengkapan sudah mulai appropriate, dan saat mereka bersepeda bareng, rute-nya ternyata juga luar biasa, 20 km, 25 km.
Saat kami beli Polygon Monarch 5.0 sekitar 2 tahun lalu, kami masih memiliki pandangan, “apaan sih sepeda sampai lebih dari 5 juta?” dan ketika kami sudah mulai serius, istri saya pun melontarkan ide yang ga pernah saya pikirkan, coba cek sepeda yang mahalan yuk?
Saya ga salah denger nih? pikiran saya, tapi ya sudah lah, intinya kalau istri justru memotivasi suami beli barang yang lebih mahal dan bagus, itu barang artinya sudah SNI (Sudah Nanya Istri) dan sudah ISO (Istri Sudah Oke), sehingga hati pun tenang…
Pacific Avenger 5.0
Di awal saya ceritakan bahwa toko sepeda tempat kami beli dulu, Rodalink, kehabisan stok, lalu toko online sepeda Serba Sepeda juga kehabisan stok semua brand favorit seperti Polygon, Pacific, United, sampai-sampai saya nge-DM toko-toko online untuk nanya produk Polygon Xtrada 6 yang waktu itu kita incar, yang harganya IDR 1 juta lebih mahal dari toko Rodalink.
Ga lama dari situ, tetangga kami ngasih kabar, bahwa di Cibinong ada toko sepeda yang dikenal oleh segmen tertentu saja, tokonya sederhana banget, ga se-fancy Rodalink atau toko sport, tapi brand yang ada di dalam mantep-mantep, Giant, Pato, Specialized…
Akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada Pacific Avenger 5.0 yang harganya agak jauh dari incaran kami Polygon Xtrada 6.0, tapi pertimbangan lainnya adalah, karena rangkanya sudah dari carbon fibre, serta groupset yang digunakan lebih advanced ketimbang Polygon Xtrada, dan kami boyonglah si Pacific Avenger 5.0, yang menurut klaim-nya, sangat mantab dalam melibas tanjakan, dan standar Asian Games lalu.
Detail sepeda ini bisa dilihat di link Pacific, dan sangat menjelaskan perbedaan harga yang sangat signifikan dibanding sepeda pertama kami.

Istri saya menjajal perdana sepeda ini dan menurut testimoni-nya, sama sekali ga berkeringat dan ga menghabiskan air minum untuk jarak tempuh 21 km, ga seperti saat pakai Polygon Monarch 5.0 – o ya, Polygon Monarch 5.0 kami akhirnya ketemu pemilik baru, ketika kami bertemu seorang bapak yang lagi cari sepeda buat anaknya yang masih ABG…🤣, tapi memang untuk ukuran sepeda frame S, diameter 26″ dan groupset Shimano Tourney 3×7, memang lebih pantas untuk remaja.
Di “test drive” berikutnya saya menjajal sejauh 34 km dan memang jauh lebih cepat dari biasanya, intinya, sepeda ini memang sekian kali lipat lebih mahal dari sepeda awal kami Polygon Monarch 5.0, tapi hasilnya dan kepuasannya memang sepadan, terkadang mahal atau murah itu menjadi relatif jika dibandingkan dengan kepuasan.
Pacific Avenger 5.0 yang kami gunakan sekarang pun ga lagi diparkir di luar bareng mobil dan motor, tapi lebih baik kami simpan di dalam supaya ga menarik perhatian.
OK demikianlah sharing mengenai bagaimana kami mulai serius gowes, di kesempatan berikutnya, saya akan share rute-rute fun yang kami lalui selama gowes.
