2010 – Pulau Tidung


Kali ini saya menuliskan kembali perjalanan kami ke Pulau Tidung, 10 tahun yang lalu, banyak hal yang sudah tidak relevan dalam tulisan kami, karena pasti sudah banyak yang berubaha dalam kurun waktu 10 tahun, namun yang saya ingin bagikan di sini adalah pengalaman perjalanan kami berikutnya setelah sebelumnya kami berwisata sebagai backpacker family traveller di 2009 ke Bali.

Saya pribadi beranggapan perjalanan ini mungkin tidak akan banyak memberikan informasi tentang lokasi wisata ini, karena sudah lebih banyak referensi wisata yang lebih terkini tentang Kepulauan Seribu, harapan saya dalam cerita kali ini, bisa lebih menginspirasi dari sisi perjalanan kami, dan tidak terfokus pada tempat wisatanya.


Perjalanan

Sekedar intro, di tahun 2010, Alhamdulillah kami berkesempatan bisa merasakan memiliki mobil, yang waktu itu kami rasakan agak memaksakan diri, karena jujur saja, dengan penghasilan kami saat itu, singkatnya si Baleno ini hanya sempat kami rasakan 1.5 tahun saja sampai akhirnya kami jual kembali, tapi dalam perjalanannya, memberikan kami pelajaran sangat berharga dalam financial management.

Kami menitipkan mobil di kantor istri saya saat itu yang berlokasi di Jl. Pangeran Antasari, lalu kami naik angkot ke arah halte busway terdekat. Dengan menggunakan busway kami bisa transit antar koridor dan menuju terminal akhir Stasiun Jakarta Kota, dari sana kami melanjutkan perjalanan dengan angkot ke arah Muara Angke (kalau ga salah).

Kami bertolak dari dermaga yang kami akses melalui Kampung Nelayan di Muara Angke, dan seingat saya waktu itu biayanya sekitar IDR 35,000/orang, cukup murah, dan kami pun menikmati perjalanan sekitar 1 – 1.5 jam ke arah Pulau Tidung

Saya ga ingat dengan pasti alasan kami memilih Pulau Tidung, karena sebenarnya cukup banyak destinasi wisata di Kepulauan Seribu, sepertinya dulu kami hanya memutuskan destinasi yang cukup populer saat itu.


Akomodasi

Kali ini, kami kembali melakukan go-show travelling, tidak ada booking penginapan yang kami lakukan sebelumnya, sehingga setibanya di Pulau Tidung, kami agak heran karena banyak orang yang bertanya, kami dari rombongan mana.

Hal pertama yang kami lakukan setibanya di Pulau adalah menyewa sepeda, karena hanya moda roda 2 saja yang bisa digunakan untuk menjelajah pulau di sini, 1 sepeda kalau ga salah biayanya IDR 15,000/hari, dan menurut penduduk sekitar, ga usah khawatir, Insha Allah diparkir dimanapun aman, walaupun ga pakai kunci.

Memang benar sepanjang perjalanan kami banyak menemukan fasilitas penginapan, baik yang menggunakan AC, fan, dan fasilitas lengkap lainnya, dan kami menjatuhkan pilihan pada satu penginapan, yang sebenarnya adalah 1 unit rumah yang disewakan, tapi kami bisa mendapatkan harga hanya untuk 1 kamar saja, dan kalau ga salah biayanya sekitar IDR 150,000/malam saat itu.


Atraksi Wisata

Saya ga tahu sekarang ini sudah banyak perubahan apa, yang pasti mungkin pulau Tidung ini sudah lebih instagrammable, memang ga banyak yang kami lakukan di Pulau tersebut, dan kami hanya menikmati keliling pulau tersebut dengan sepeda,

Meskipun sudah ramai wisatawan, tapi memang mengelilingi destinasi wisata pulau dengan menggunakan sepeda merupakan salah satu pilihan yang tepat, kalau boleh dibilang cukup romantis lah, secara kami masih selalu menganggap setiap perjalanan kami adalah honeymoon, bahkan sampai hari ini 😁

Di beberapa bibir pantai yang masih sangat bersih, kami masih bisa melihat bulu babi dari permukaan air, dan beberapa tepi pantai yang cukup indah di sore hari untuk berfoto dan menunggu sunset walaupun ga pas ketemu sunset juga.

Kami berkesempatan untuk mencoba atraksi paling populer saat itu, Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.

Kami pun berkesempatan mencoba atraksi lompat dari atas Jembatan Cinta, yang bikin saya ga berani ngulang lagi…🤣

Saat malam di Pulau Tidung, yang paling enak tentu cari makan malam di tepi pantai, dan yang kami sayangkan saat itu adalah, 10 tahun lalu, beberapa bibir pantai sangat kotor dengan sampah plastik, yah beginilah konsekuensi tempat wisata populer, pasti akan selalu berhadapan dengan sampah.

Seringkali saya berpikir, memang baik destinasi wisata alam di Indonesia ini agak sulit dicapai, sehingga yang niat sampai kesana adalah orang-orang yang memang niat berwisata, dan biasanya akan lebih menghargai alam, sama halnya seperti ketika kami mengunjungi Pantai Sawarna sebelum populer seperti sekarang, pantainya belum banyak pengunjung dan pedagang, masih bersih, dan kalaupun ada pengunjung, masih orang-orang yang sadar dan peduli akan kebersihan.

Ketika akses sudah dipermudah, di satu sisi ekonomi masyarakat sekitar meningkat, tapi di sisi lain, lebih banyak pengunjung yang ga punya kesadaran dalam menjaga lingkungan, berpikir “ah ada yang bersihin kok” yang seringkali membuat kami kecewa.

Cerita perjalanan ini memang sangat singkat, karena ga banyak yang kami bisa lakukan selama di Pulau Tidung, namun hal tersebut merupakan pengalaman yang cukup menyenangkan bagi kami yang kembali melakukan perjalanan dengan minim perencanaan, minim budget, namun cukup berkesan bagi kami.

Tinggalkan komentar