Janganlah melupakan sejarah, hehehe, maksudnya sederhana kok, kali ini saya ingin menceritakan momen bersejarah pertama kami travelling sebagai sebuah keluarga setahun setelah menikah di tahun 2008. Mungkin bagi orang lain ini adalah perjalanan honeymoon biasa yang ga ada istimewanya, tapi bagi saya dan istri, ini adalah permulaan kami mulai menyukai bepergian secara sederhana.
Kalau beberapa waktu lalu saya sudah menceritakan perjalanan ke Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura, maka kurang lengkap kalau kami juga tidak menceritakan perjalanan pertama kami ke Bali di tahun 2009.
Rencana Perjalanan
Tidak seperti biasanya dalam memulai travel blog, saya tidak memulai dengan perencanaan perjalanan, seperti tiket pesawat, hotel, dan akomodasi lainnya, karena ini adalah perjalanan pertama kami, yang tiba-tiba terlintas di ide istri saya, kalau saya ga salah, itu adalah masih di minggu pertama bulan Syawal, karena saya ingat kita habis merayakan lebaran.
Ketika kami sedang berkunjung ke rumah orangtua saya, tiba-tiba istri saya cetuskan ide, “Kita ke Bali yuk!”, saya kaget waktu itu, mau naik apa? kan tiket pesawat lumayan juga kali, dan spontan istri saya langsung ngajak naik kereta ekonomi ke Surabaya, tanpa perencanaan, semua on the spot. Ga punya koper atau ransel gede, kami langsung cari di rumah orangtua, ketemu ransel kakak, dan semua hanya berjalan mengalir saja.
Kami langsung ke Stasiun Jakarta Kota, dan langsung membeli 2 buah tiket kelas ekonomi tujuan Surabaya, yang waktu itu jangan dibandingkan dengan naik kereta api di tahun 2010an ya, harga tiketnya IDR 35,000/orang, bayangkan, IDR 70,000 sampai di Surabaya.

Lama perjalanan kurang lebih sekitar 20 jam, karena saya ingat kami berangkat siang pukul 12.00 siang. dan kami tiba di Surabaya sekitar pukul 08.00 pagi, saya ingat waktu itu sempat agak berantem sama istri saya, karena kayanya kok ini kereta ga sampai-sampai, penuh banget, kami cuma bisa tidur kalau kereta jalan, karena begitu berhenti panas banget.
Kami naik kereta di jaman ga ada istilahnya dihitung kursi dan jumlah orang berdiri, yang laki-laki pasti cuma pada pakai kaos singlet di kereta, di beberapa stasiun, beberapa orang juga menggunakan toilet, karena sudah ga ada tempat lagi di gang dan kursi.
“Di Toilet? trus kalau mau buang air gimana?” ini pengalaman kami selama 20 jam perjalanan kami ga sedikitpun merasa ingin ke toilet, makan dan minum pun kami hanya sempatkan beli popmie, bukan karena pelit, tapi karena ragu sama sate ayam yang dijual oleh pegawai PT KAI saat itu yang jualan sate sambil lompat-lompat kursi karena gang kereta sudah penuh sama penumpang yang tidur.
Hal pertama yang kami lakukan setibanya di Surabaya, jelas, ke toilet, cuci muka, sikat gigi, dan beli makanan yang layak. Karena tanpa perencanaan, kami kembali clingak-clinguk mau naik apa lanjutannya ya? ada cara yang murah yaitu dengan naik bus kota dari terminal Bungur Sari, tapi karena lebih makan waktu, akhirnya kami naik kereta ke Banyuwangi, sayang dari Surabaya ke Banyuwangi hanya tersedia kereta ekspress, yang jauh lebih mahal dari perjalanan Jakarta-Surabaya, tapi ya sudah, there’s no turning back, kami relakan membayar IDR 500,000 berdua untuk naik kereta ke Banyuwangi selama 6 jam perjalanan, kami merasakan perjalanan yang sangaaaat berbeda dari 20 jam sebelumnya…🤣🤣🤣


Setibanya di Banyuwangi, kami langsung menuju pelabuhan Ketapang, untuk menyeberang dengan kapal ferry, karena jaraknya lumayan, kami naik becak dari stasiun ke pelabuhan, di pelabuhan, untuk menaiki ferry menyeberangi selat Bali menuju pelabuhan Gilimanuk, saya lupa waktu itu biayanya berapa, tapi yang pasti per orang < IDR 50,000, kami bertolak dari Ketapang sekitar pukul 16.30, dengan lama perjalanan sekitar 1.5 jam, kami bisa menikmati sunset di Selat Bali.


Kami tiba di pelabuhan Gilimanuk, karena sudah berbeda zona waktu, maka kami tiba sekitar pukul 19.00 WITA, dan kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Denpasar dengan menaiki Elf, biayanya lupa, seingat saya ga sampai IDR 100,000 untuk kami berdua, dengan lama perjalanan sekitar 2 jam, sehingga kami di Denpasar tiba malam hari sekitar pukul 21.00, kebayang ya? sudah cape banget itu.
Setibanya di Denpasar, karena sudah cape, akhirnya kami naik taksi ke arah Legian, dengan biaya sekitar IDR 70,000, dan sesampainya di Legian, kami langsung cari persewaan motor on the spot, ga pakai referensi apapun, cari yang paling dekat, dan kami diberikan motor Suzuki Spin, yang jelas waktu itu kondisinya enggak banget, tapi ya sudahlah, kalau ga salah biaya sewa IDR 35,000/hari, di luar tanggungan bensin.

Sebelum keliling cari hotel, tentu yang saya cari adalah monumen Ground Zero di Legian, o ya, saya termasuk orang yang sangat jarang bepergian, jadi ketika pergi bareng istri saya ini ke Bali, saya excited banget, apalagi keluar pulau Jawa, seumur-umur liburan keluarga aja saya belum pernah sampai keluar pulau Jawa.


Kami belum sewa hotel lho, malam itu sekitar pukul 22.00 kami coba mencari hotel di sekitar Legian, dan semuanya full book, hanya ada 1 tempat dan kami lupa namanya, dengan rate IDR 330,000/malam, merasa kurang puas, kami berkendara sampai kurang lebih 1 jam ke arah Sanur, dan akhirnya karena sudah capek banget, kami kembali ke hotel semula, dan Alhamdulillah kamar masih tersedia.
Jam sudah menjelang pergantian hari, tanpa pikir panjang, kami putuskan untuk segera menginap di hotel tersebut, saya juga ga terlalu ingat bagaimana kondisi hotelnya, standar, sama seperti hotel bintang 3 pada umumnya, lebih dari 30 jam perjalanan yang cukup melelahkan…tapi sangat berkesan dan historis…🥰



Day 1 – Garuda Wisnu Kencana, Kuta Night Walk
Pagi harinya setelah sarapan kami menyempatkan diri untuk ke warnet sekitar, untuk cek bagaimana cara pulang nanti 🤣, jadi inilah travelling pertama kami tanpa perencanaan, berangkat, belum tahu pulangnya gimana, belajar dari 36 jam perjalanan saat datang, kami ga mau mengulangi hal yang sama dengan naik kereta lagi, jadi hanya ada 2 pilihan, pesawat atau bus.
Belum ada smartphone, jangan harap bisa cek traveloka atau tiket.com, bayar kartu kredit, dang, dapat tiket, makanya kami harus ke warnet, dan tiket pesawat ternyata sudah mahal, karena kena tuslag dan juga semua penerbangan di hari Minggu sudah full, sementara saya sudah harus kembali kerja hari Senin, ya sudah pilihan terakhir adalah naik bus Lorena, sekitar IDR 500,000/orang sampai Bogor.
Tujuan pertama kami adalah ke Garuda Wisnu Kencana, tapi kami sempatkan dulu mampir di pasar Sukowati.


Saya ga ingat berapa biaya waktu dulu jalan ke GWK, yang saya ingat adalah PANAS…😅, lumayan lama waktu yang kami habiskan di GWK, sambil makan siang, menikmati pertunjukkan tari, waktu itu Patung GWK juga masih belum selesai, fragmen-fragmen patung masih tersebar beberapa penjuru GWK.






Malam hari sebelum kembali ke hotel, kami masih menyempatkan diri mampir di restoran lokal, foto-foto sebentar di tempat unik, dan mencoba menikmati suasana malam di pantai.



Day 2 – Uluwatu and Departure
Kami memang ga punya waktu banyak saat berlibur kali ini, bayangkan saja dari sejak kedatangan kami sudah menghabiskan waktu 36 jam sendiri di perjalanan, jadi hari ke-2 hanya bisa kami sempatkan di bermain ke Uluwatu.






Sebelum ke Uluwatu kami masih bisa sempatkan menikmati pagi di sekitar pantai Kuta dan juga bersantai di hotel, tidak lama waktu yang kami habiskan di Uluwatu, karena kami harus mengembalikan motor, check-out dan bergegas ke terminal bus Denpasar untuk menaiki bus Lorena yang akan mengantar kami kembali ke Bogor, tepat sekitar pukul 16.00 WITA bus meninggalkan Denpasar.

Dalam perjalanan, kami berharap kali ini tidak selama perjalanan yang harus kami tempuh pada saat baru datang, tapi ternyata memang saat itu adalah arus balik, dan kami termasuk sebagai peserta arus balik juga, dan saat itu belum ada tol Trans Jawa, jadi bus kami masih melewati jalur Pantura saat memasuki pulau Jawa.


Perjalan pulang ini memang tidak selama perjalanan saat datang, tapi selisihnya hanya sekitar 6 jam saja, 😁 kami menempuh perjalanan selama kurang lebih30 jam, karena saya masih ingat bus tiba di pool akhir di Bogor di hari Minggu malam sekitar pukul 22.00 WIB, dan kami hanya sempat istirahat di rumah orang tua saya, karena kami menitipkan motor di sana, dan besok subuhnya, kami sudah segera berangkat lagi ke Jakarta.
Penutup
Kali ini kayanya saya ga bisa ceritakan ringkasan biaya perjalanan seperti saat kami mengunjungi beberapa tempat, karena ini sudah berlangsung 11 tahun yang lalu, selain itu, biayanya sangat rendah.
Yang perlu saya garis bawahi dari perjalanan kami di tahun 2009 ini, bukan pada tempat wisatanya, tapi perjalanannya itulah yang sangat berkesan, mungkin kawan akan melihat, itu ditotal hampir 3 hari habis di jalan, bisa puas banget main di Bali.
Memang benar kalau kami melihat lagi, 3 hari habis di jalan, dan hanya 2 hari di Bali, tapi yang kami rasakan saat itu adalah kegembiraan, kami ga merasa menyesal sudah menghabiskan 3 hari di perjalanan, walaupun saat itu sempat diwarnai sedikit berantem sama istri saya 🤣.
Perjalanan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga dan berkesan bagi kami, saya jadi selalu berpesan sama istri saya, jangan pernah bepergian tanpa rencana sedikitpun, kecuali kalau kawan adalah orang yang tipe-nya easygoing, yang tidak menjadikan tempat tujuan akhir sebagai tujuan wisatanya, yang benar-benar membuat setiap tempat yang dilewati dalam perjalanan sebagai tempat wisata, sehingga ga jadi masalah sekalipun hanya 1 hari dihabiskan di tempat tujuan akhir.
Saya bukan tipe seperti itu, untuk perjalanan wisata, maka tujuan wisata adalah tempat yang harus saya nikmati sampai puas, artinya sebisa mungkin jangan menghabiskan waktu dan tenaga hanya di perjalanan, well setiap orang kan punya preferensi yang berbeda ya.
Anyway, bagi saya menceritakan kembali pengalaman ini sangat menyenangkan, dan sejak awal memang yang ingin saya bagikan adalah lebih pada perjuangan di perjalanannya untuk tiba di Bali, karena kalau diingat kembali setibanya di Bali, saat mengunjungi tempat-tempat wisatanya, semua akan terasa sama seperti ketika anda tiba di Bali dengan menggunakan pesawat.
Sampai jumpa di cerita lainnya, salam…
