The Story of OmahAyra, and Before…


Menulis cerita perjalanan hidup, rasanya kurang lengkap kalau belum menceritakan sejarah tempat tinggal. OmahAyra, itulah sebutan kami untuk rumah yang kami tinggali saat ini, di rumah inilah Ayra hadir di tengah-tengah kami, dan di rumah inilah kami semakin merasakan semua perubahan ke arah yang lebih baik, dan Insha Allah rumah yang selalu diberkahi dan dirahmati Allah.

Kami tinggal di lingkungan ini sejak bulan April 2014, berarti kurang lebih 6 tahun kami sudah menempati rumah ini. Sejak kami menikah 12 tahun lalu di tahun 2008, kami sempat tinggal di beberapa tempat sementara, yang menurut saya akan penting untuk saya ulas sedikit, karena tanpa tempat-tempat itu, mungkin kami belum tentu bisa sampai di sini, kalau bukan karena izin Allah, dan dengan adanya tempat-tempat itu juga yang membuat kami sangat mensyukuri apa yang Allah berikan pada kami saat ini sebagai tempat tinggal.


The Beginning, 2008, Grogol, Jakarta Barat

Setelah kami menikah di tahun 2008, karena kami masih sama-sama bekerja di perusahaan retail multinasional, dimana kami sama-sama ditempatkan di Jakarta, maka seperti apa yang saya ceritakan di post 2008 – The Journey Begins, kami langsung membuat KTP dan KK baru, supaya saat kami tinggal di Jakarta tidak membuat masalah kependudukan, KTP dan KK baru masih di Bogor, menginduk ke rumah mertua saya, karena kami memang tidak berniat untuk tinggal di Jakarta.

Beberapa minggu sebelum kami melangsungkan pernikahan, memang kami niat cari kost yang bisa untuk pasangan, jadi istri saya sudah lebih dulu menempati kost tersebut, sementara saya tinggal di rumah kost di kawasan yang sama. Saat itu istri saya ditempatkan di mall Ciputra, jadi saya hanya terpikir istri saya harus lebih dekat dengan tempat kerjanya, jadi kami putuskan menetap di kost istri saya di komplek RRI di belakang bangunan yang saat ini jadi Neo Soho dan Central Park, dulu itu masih tanah kosong, sementara saya bisa pakai motor ke outlet saya di Kemang, Jakarta Selatan.

Pada saat itu, kamar kost yang kami tinggali kami rasa sudah nyaman, bisa simpan kompor kecil untuk masak, ada kamar mandi di dalam, dan di balkonnya bisa jemur pakaian, walaupun untuk tidur 2 orang, kami harus turunkan kasur dulu supaya muat, besok paginya baru kami tumpuk lagi supaya rapi, yang paling berkesan bagi kami saat tinggal di rumah kost tersebut adalah, pemilik kost-nya yang sangat ramah dan baik, mereka datang lho waktu acara pernikahan kami, jauh-jauh dari Grogol, sayang saat saya coba “mengunjungi” kembali tempat ini susah banget pakai Google Street View, karena ga masuk coverage, masuk gang


2008-2010, Cilandak, Jakarta Selatan

Setelah sekitar 1 bulan menikah, saya mendapatkan tawaran kerja baru di sebuah perusahaan Farmasi, kebetulan yang diperlukan saat itu adalah seorang farmasis, agar license-nya bisa dipakai sebagai Apoteker Penanggung Jawab di gudang, lokasi gudangnya di Pulogadung, saat itu kami masih melanjutkan sewa kost di Grogol, karena saya bisa bolak-balik dari Grogol ke Pulogadung setiap harinya.

Selang sebulan kemudian, gantian istri saya yang dapat tawaran di tempat kerja baru di sebuah klinik internasional di Jakarta Selatan, sehingga akhirnya kami berdua meninggalkan tempat kerja lama yang “berjasa” mempertemukan kami hingga hari ini 😁.

Karena penempatannya di Jakarta Selatan, maka jelas sudah bukan pilihan yang baik untuk tetap tinggal di Grogol, karena kantor pusat tempat saya bekerja juga lokasinya kebetulan di Cilandak, Alhamdulillah ya, Allah memang selalu mengatur jalan hidup umatnya dengan cara-cara yang ga kita duga, memang butuh waktu dan kesabaran, dan terus bersyukur.

Kami sempat menemukan lagi dengan Google Street View, kontrakan yang kami cuma sempat huni 1 bulan saja di Gang Rambu, belakang Jalan Pangeran Antasari Jakarta Selatan, karena kemahalan. Awalnya karena ada persis di belakang tempat kerja istri, jadinya kami langsung kepincut.

Akhirnya kami pindah ke kawasan Cilandak, saat itu kami berhasil menemukan sebuah rumah petak yang kami rasa sebuah peningkatan yang sangat signifikan dari sebuah kamar kost, ada ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi yang lebih layak dari sebuah kamar kost, dan tambahan, halaman depan yang luas dengan pohon rambutan yang kalau udah berbuah manis banget 😁. Pada saat ambil gambar ini pakai Google Street View sudah berubah banget.

Kami tinggal di rumah kontrakan tersebut selama kurang lebih 2 tahun, hingga akhirnya kami sepakat untuk menabung THR dan bonus yang kami dapat selama 2 tahun untuk membeli rumah dengan KPR, Alhamdulillah di tahun 2010, berkat kegigihan istri saya dalam mencari-cari lokasi perumahan KPR untuk keluarga pemula, kami menemukan lokasi yang cukup sesuai saat itu di daerah Serua, Depok.


2010-2012, Puri Nusa Serua, Depok

Kami mulai menempati rumah ini di tahun 2010, dan walaupun pada akhirnya kami hanya menempati rumah ini selama kurang lebih 2 tahun, tapi kami ga pernah menyesal tinggal di kawasan ini, karena cukup banyak pengalaman berharga yang kami dapat di rumah ini.

Alasan kami memilih rumah ini adalah karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan juga dari Bogor, karena di weekend kami masih sering pulang ke rumah orang tua dan mertua saya, jarak perjalanan dari rumah kami ke kantor hanya sekitar 20km, kalau menggunakan motor saat itu hanya perlu sekitar 30-45 menit, tapi yang namanya lewat daerah Lebak Bulus saat itu, makan waktu sekitar 20 menit sendiri untuk menembus kemacetan.

Gambar terakhir ada mobil Baleno, ya itulah mobil pertama kami, dan motor Honda Beat adalah tampilan terakhir sebelum kami tinggalkan untuk penghuni baru.

Kawasan yang relatif nyaman, jauh dari keramaian, masih lumayan terjangkau untuk ke lokasi-lokasi shopping mall di kawasan Jakarta Selatan, membuat kami cukup betah selama 2 tahun di sini. Perusahaan tempat saya bekerja kemudian membuat kebijakan baru, dengan membangun pabrik baru di kawasan Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, dan sebagai team logistik, akhirnya saya dipindahkan juga ke Cikarang.

Di tahun ini akhirnya kami mulai merasakan hal yang cukup berat, karena saya sudah kurang lebih harus menempuh 45 menit perjalanan ke Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus sekitar 1.5 jam lagi ke arah Cikarang, akhirnya setelah beberapa lama, kami memutuskan menjual kembali rumah tersebut, dan Alhamdulillah, memang rejeki, ga perlu waktu lama bagi kami untuk menemukan pembeli, dan mau membeli cash sehingga kami ga perlu repot-repot over kredit. Akhirnya kami pun meninggalkan rumah yang walaupun hanya 2 tahun, tapi cukup berkesan bagi kami.


2012-2014, Sister’s House, Bogor

Rumah di kawasan Bogor di tahun 2012, saat itu sudah lumayan tinggi nilainya, sehingga kelebihan uang yang kami dapatkan dari penjualan rumah kami di Serua, Depok sebelumnya belum bisa kami gunakan untuk langsung mencari rumah di Bogor.

Kami memilih kembali ke kota asal kami ke Bogor, karena alasan lebih banyak pilihan untuk menggunakan transportasi publik, lebih mudah ke Cikarang dan ke Jakarta dari Bogor dengan menggunakan bus dan kereta, daripada rumah kami sebelumnya di Serua, Depok.

Alhamdulillah, lagi-lagi pertolongan Allah melalui kakak ipar saya, karena mereka sudah membangun rumah baru di Bogor, maka rumah yang mereka dulu tinggali, jadi kosong, dan tidak niat dikontrakkan, katanya memang untuk membantu tinggal sementara saudara-saudara yang belum mampu dan sedang berusaha beli rumah. Terima kasih Ingun dan Uwan – panggilan untuk kakak kami.

Dua tahun kemudian, saya pindah tempat kerja baru ke Pasar Rebo, Alhamdulillah kali ini promosi, dan istri kembali bekerja di kawasan Sentul, lumayan, dekat, ada aktivitas, dan kali ini kami terpikir, kayanya ini saatnya kami mulai mencari rumah sendiri.

Alhamdulillah lagi, pas banget waktunya, memang kalau sudah jodoh, Allah ga akan kasih kemana-mana, di tahun itu pas kita ketemu rumahnya, mikir kurang buat bayar DP segala macam, eh kok pas ya, saya bisa cairkan DPLK dan Jamsostek tempat kerja lama, ditambah tabungan THR dan bonus yang kami kumpulkan selama ini, bisa kami pakai untuk DP rumah baru, yang kemudian menjadi OmahAyra.


2014 – Present, OmahAyra, Bogor

Here we are, akhirnya di tahun 2014, kami memutuskan segera menempati rumah kami yang kemudian di sinilah kami menerima kehadiran Ayra yang sudah kami tunggu-tunggu selama ini.

Kami menempati rumah ini sebagai rumah standar, belum dimodifikasi dan tidak ada renovasi apa-apa, karena saat pertama kali menempati rumah ini, kami sudah merasa bahwa ini adalah rumah pertama yang kami tinggali, milik kami, yang ga perlu tambahan apa-apa saat itu, 2 lantai, 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 carport, dapur, luas tanah 90M2, dengan halaman belakang yang luas, siap huni, tinggal bawa perabotan masuk, yah sekedar nambah dikit, mindah dapur dari belakang halaman ke dalam, lalu cat ganti sedikit.

Di periode awal tinggal di sini, kami juga sempat pelihara seekor kucing jantan yang kami beri nama Oggy, kucing Domestic Short Hair (bahasa keren Kucing Kampung), liar, yang istri saya nemu entah dimana lupa, waktu itu baru disapih induknya, dan kami rawat sampai sekitar umur 3 tahun, punya kucing waktu itu lumayan mengusir kesepian kami karena belum adanya Ayra, Oggy benar-benar kami rawat, dimandikan, divaksin, dan sempat dibawa ke dokter hewan kalau sakit, yang biayanya lumayan deh 🤣, bahkan dititipkan waktu kami pergi travelling, Oggy juga tidurnya di kamar bareng kita.

Di tahun 2016, Alhamdulillah Ayra hadir, dengan cerita yang bisa dilihat di “The Story of Ayra”, otomatis kami harus mulai sedikit membatasi interaksi kami dengan hewan, karena memang Oggy adalah kucing liar, jadi kebiasaannya yang suka kabur juga ga bisa dibendung, pulang kotor, dan saat itu semua perhatian tertuju untuk Ayra, jadi Oggy sudah ga tinggal bareng kami lagi, kembali ke kodratnya sebagai kucing kampung liar.

Dua tahun kemudian, semenjak kehadiran Ayra, istri saya sudah mendedikasikan hidupnya sebagai full-time housewife, dan sambil membesarkan Ayra, istri saya juga sangat banyak browsing ide tentang design rumah, dan akhirnya di akhir tahun 2018, kami memutuskan untuk merestrukturisasi platform KPR kami untuk melakukan renovasi, yang dibantu oleh kawan kami seorang arsitek.


2019 – Renovasi OmahAyra

Ini adalah beberapa tampilan awal OmahAyra dari sejak awal kami tinggali,

Renovasi dimulai di bulan Februari 2019, saat itu kami sementara pindah ke rumah mertua saya, ga jauh dari OmahAyra, sekitar 6 km, dan kami tinggal selama 5 bulan

Inilah beberapa progress pembangunan yang sempat kami tangkap, yang jujur waktu kami lihat progressnya, saya sempat agak stress, 🙄🙄, Oh God, when will this over…

Alhamdulillah, 5 bulan kemudian, walaupun belum settled semua, setelah lebaran kami dapat kembali menghuni OmahAyra, yang kali ini sudah jauuuh lebih baik dari pertama kami huni di 2014 lalu, Alhamdulillah semua proses lancar, tidak ada hambatan yang berarti, karena namanya renovasi besar dengan dana yang tidak banyak pasti deg-degan, karena pengalaman tetangga yang renovasinya mangkrak, dan kekhawatiran lainnya.

Perubahan yang kami lakukan adalah, sebagai berikut, o ya jangan lupa, kalau penasaran dengan detail OmahAyra, bisa di-follow account IG @omahayra, dan juga kawan arsitek kami @dodesistudio

Perluasan Carport, Perubahan Fasad Rumah, dan Canopy

Penambahan Kamar Tamu dan Area Foyer

Perluasan lahan kosong seluas 30M2 untuk Dapur dan Living Room

Penambahan lantai Kedua untuk Playground dan Ruang Cuci Jemur

Renovasi kamar mandi

Renovasi Kamar Tidur dan Balkon

Dan untuk menyesuaikan dengan rasa syukur kami atas rumah tinggal kami, saya berinisiatif untuk membuat sebuah ornamen yang mengutip ayat Al-Quran tapi harus bermakna, sehingga saya memutuskan memesan sebuah ornamen kaligrafi kufi dari sebuah toko di Bandung, Lukisan Kaligrafi yang saya temukan di web, dan saya memesan Al-Quran Surat An-Nahl 80-81 sebagai refleksi rasa syukur sebuah rumah tinggal yang Allah karuniakan untuk kami.

Tapi memang keinginan istri saya adalah doa, dan rejeki untuk keluarga kami, semuanya serba dipermudah kalau saya boleh bilang, dan Allah-lah yang mempermudah itu semua, dan hingga hari ini, kami sangat bersyukur atas rejeki rumah tinggal yang kami miliki ini, istri saya yang punya inisiatif dan saya serahkan kembali pada Allah kalau ini demi kebaikan keluarga kami, dan Alhamdulillah, kami dapat menyelesaikan renovasi yang secara keseluruhan lancar.

Semoga rumah ini tetap menjadi rumah kami, surga kami di dunia, yang selalu memberikan ketenangan dan keteduhan bagi keluarga kami, tempat yang selalu kami ingat untuk kembali setelah melalui lelahnya hari, tempat Ayra tumbuh besar dan Insha Allah, jika Allah mengizinkan adik Ayra hadir di sini juga, tempat berbagi kebahagiaan hingga di masa-masa mendatang, selama kami masih ada di dunia ini, Aamiin…

2 Comments

  1. Assalamualaikum mba Mela dan keluarga

    Pagi2 saya sudah tergelitik ingin pencet link blog ini. Akhirnya nunggu sampai kantor baru tak sempetin baca dulu sebelum masuk jam kerja. Ceritanya sangat amazing dan sangat menginspirasi terutama diusia pernikahan kami yang masih tergolong new. Kami hanya bisa mendo’akan semoga keluarga mba Mela bisa rukun dan damai. Bisa mencapai apa saja ang diinginkan. Sakinah, mawaddah, warahmah senantiasa berjuang dijalan Allah dan diridhoi oleh Allah. Yang saya rasakan saat ini adalah ilmu yang mba Mela pernah ajarkan. Ucapan terima kasih dari kami sekeluarga atas semua ilmu yang telah diberikan selama ini. InsyaAllah akan jadi AMAL jariah. Aamiin

    Salam kami,

    Suka

Tinggalkan komentar