Community, Solo Activity, and Business Team Work


Kali ini saya coba menjabarkan bahwa “ketidaksinkronan” suatu professional assessment dengan personal profile bukanlah penghambat untuk kita deliver hasil dalam pekerjaan, yang akan terjadi adalah sedikit hambatan dalam cara komunikasi dan pendekatan dengan individu tertentu dalam deliver hasil teamwork, yang masih bisa ditingkatkan, pendekatan yang lebih baik ketimbang mengganti seorang individu, dan tentu lebih sulit bagi sang line manager.

Saya langsung sebutkan inti tulisan ini, karena saya baru baca artikel yang teman saya bagikan di laman facebook-nya, dan saya jadi ingat kalau saya suka melakukan apa yang kebanyakan pemilik artikel suka lakukan, membuat judul provokatif biar dilihat, tapi ga dibaca sampai selesai – mudah-mudahan tulisan saya dibaca sampai selesai 😁.

Disclaimer, ini adalah pendapat pribadi berdasarkan pengalaman di tempat kerja dan pengalaman saya sendiri, bukan hasil analisa ilmiah, karena ada banyak metode lain yang lebih bisa dibuktikan validitasnya ketimbang tulisan saya.


Community

Saya mulai dulu dengan Komunitas, karena dari hasil professional assessment berdasarkan asesmen HBDI®, ini adalah yang lebih mendekati profil saya, jadi saya digambarkan “bisa sakit kalau ga ketemu orang dan ngobrol” memang ada betulnya, saya suka ngomong, tapi masalahnya, setiap saya ngomong, orang yang dengar pasti katanya kaya di-nina bobokan, bertele-tele, bikin ngantuk 🤣, nah makanya mending nulis deh…

Ada benarnya, sekali waktu saya coba dengar rekaman saya ngomong, iya juga sih, 😁, anyway, hasil assessment itu ga sepenuhnya salah, tapi ada bagian lain yang mungkin tidak ter-capture dengan benar, pada saat assessment, atau ada bagian pada saat menjawab pertanyaan saya kurang jujur sama diri saya sendiri.

Singkat cerita hingga hari ini saya masih secara administratif tergabung dalam satu komunitas otomotif, yang jujur aja waktu itu gabung sebagai panic reaction lantaran baru 6 bulan beli mobil, ATPM-nya mabur 🤭

Ketika saya bergabung mulai aktif di grup WA, ikut kopdar perdana, dan beberapa kali ikut event touring, saya ada dalam masa transisi di mana saya merasakan, “wah cocok nih, seru ya ternyata, kenapa ga dari dulu ya?”. Ada rasa bahagia, bangga waktu lihat video-video hasil ngumpul tersebut yang menunjukkan soliditas team dan bahwa kami ada saling support satu sama lain, dalam periode tersebut, saya juga aktif berkontribusi dalam group chat, nyeletuk sekenanya, dan tiap ada kopdar, masih rajin datang.

Setelah beberapa lama, tiba-tiba saya mulai merasakan “keengganan” datang kopdar, dan mulai silent dalam group, disindirin melulu jadi silent reader…, well ternyata memang saya juga melakukan hal yang sama dengan grup WA yang lain, mau itu alumni SMA, alumni kuliah.

Saya sering dianggap menghilang” oleh teman-teman saya di semua grup WA saya, jarang kontak dengan teman-teman saya, tapi bukan berarti putus silaturahmi, ga seperti istri saya yang bisa aktif dengan grup WA-nya, saya merasa ga mau nimbrung aja, merasa cape gitu ngobrol di grup WA berlama-lama, karena saya juga bukan termasuk orang yang kuat lama mantengin gadget, kalau lagi nunggu, kalau orang lain akan interaksi di grup WA, saya lebih suka surfing tentang apa aja yang menarik di internet, dan itu hanya bertahan paling lama 30 menit, selebihnya, kalau saya nunggu di mall, ya sudah keliling-keliling sendiri, nemenin anak.

Bagi teman-teman saya di komunitas, teman kuliah, teman SMA, yang kebetulan membaca tulisan saya, mohon maaf ya 🙏, karena sebagai individu pasti ada perbedaan yang bagi sebagian orang sepertinya kurang bisa diterima, tapi ya itulah perbedaan, sekali lagi, pilihan saya dalam komunitas bukan memutus silaturahmi, tapi karena saya lebih suka di rumah, menulis, dan kalaupun keluar rumah, pasti sama keluarga.


Solo Activity

Solo Activity lebih sering saya pilih untuk lakukan dalam kegiatan pribadi saya, saya lebih suka melakukan segala sesuatu dalam lingkup kecil, yaitu diri saya sendiri, dan maksimal keluarga inti (istri dan anak), memang sejak kecil saya selalu bepergian dengan keluarga saya ga pernah ramai-ramai, selalu hanya keluarga inti, jadi entahlah apa itu jadi sesuatu yang berdampak pada alam bawah sadar saya.

Ketika melakukan solo activity saya merasakan kebebasan pribadi untuk melakukan apa yang sudah saya rencanakan sendiri, terlepas dari keinginan kelompok, fleksibilitas waktu. Ketika travelling, alasan untuk tidak pakai tur bukan semata-mata mau irit, tapi karena saya merasa dengan tur, kita hanya bisa mengikuti tujuan atau kegiatan yang sudah ditentukan, yang kadang belum tentu sesuai dengan harapan.

Saya cukup idealis dalam hal taat aturan, artinya kalau diminta strict sama jadwal, saya pasti datang lebih awal, saya coba menghormati peserta lain, tapi seringkali, orang lainlah yang kadang ga tepat waktu, karena stigma yang ada di masyarakat kita adalah, kalau acara dijadwalkan pukul 07.00 maka acara sebenarnya mulai 08.00, dan itulah kadang yang membuat saya “malas” ikut kegiatan terorganisir untuk urusan pribadi, keburu mangkel sebelum acara mulai.

Ketika sedang business trip, saya patuh sama aturan selama aktivitas meeting, training dan sebagainya, atau ketika rangkaian acara dilakukan di malam hari sebagai business dinner, tapi kalau malamnya adalah free night, saya pasti akan keluar hotel sendirian, jalan sendiri, atau biasanya melanjutkan kerjaan kantor yang tertunda, sementara teman-teman biasanya akan ngajak keluar bareng untuk makan malam bareng.

Beberapa snapshot di bawah adalah kegiatan selingan di luar acara kantor saat business trip, di mana saya biasanya akan jalan sendiri.

Saat mengikuti acara bersama, ga enak rasanya mau pulang duluan, tapi yang lain masih pada semangat lanjut sampai jam yang ga ditentukan, mau pulang, selalu dikomentari, “cepet amat? baru mulai acaranya…”, atau “cepet amat udah tidur, kalau mau tidur mah ga usah kesini, di rumah aja”, walaupun mungkin itu ga serius ya, tapi tetap komentar seperti itu sering masuk ke hati kalau saya, baperan ya? 😁.

Bersepeda – saya beli sepeda niatnya memang mau olahraga rutin, dalam frekuensi dan jarak yang sesuai kemampuan saya saja, bagi beberapa orang , beli sepeda artinya gabung komunitas gowes yang biasanya akan janjian gowes di waktu tertentu dan jarak tertentu, well, not me…, karena saya ga kuat-kuat amat gowesan terlalu jauh dan sampe siang, dan kalau saya udah cape, saya sudah pasti ga mungkin bakal izin pulang duluan, karena merasa ga enak.

Hal lain yang bagi saya jadi sedikit downside, kadang secara ga sadar suka ada semacam “kompetisi” beli perlengkapan yang kita ga butuhkan, atau kita perlu, tapi ga perlu semahal itu, nah ini memang balik lagi sama tiap individu ya, saya kan sebut di atas saya termasuk baperan, suka merasa ga enak, dan memikirkan apa yang orang bilang, sehingga saya sering melakukan hal ini secara ga disadari ketika saya harus kumpul di komunitas, tapi kenyataannya, banyak kok orang yang lebih cuek tampil seadanya, well, balik lagi, tergantung individunya.

Dengan solo activity juga, saya ga perlu memikirkan pendapat orang tentang fasilitas yang saya pakai, tujuan saya, dan waktu yang saya gunakan, yes karena saya baperan dan suka memikirkan apa yang orang lain katakan, jadi daripada konflik batin, ya sudah untuk urusan pribadi, saya lebih prefer solo atau smaller group activity.


Business Team Work

Kelihatannya ga matched ya? senang aktivitas sendirian, lalu gimana kalau ada project?, kan harus team work… ok, dengan segala kompleksitas dalam terkait solo activity ataupun community, kalau terkait urusan kantor, saya akan fokus sepenuhnya.

Dalam mindset saya, kalau di kantor saya ditugaskan lead suatu project atau harus partisipasi aktif dalam project, semuanya akan kembali pada performance saya, semakin baik, maka semakin baik outputnya dalam kapasitas tempat kerja sebagai sumber penghasilan saya. Dalam urusan kantor, terdapat pembagian tugas yang jelas dan koridor penyelesaian perselisihan yang jelas, hal ini bisa membuat saya lebih objektif dalam mengambil tindakan.

Dalam urusan acara pribadi, misal komplek perumahan, komunitas pribadi, atau keluarga besar, sama dengan kantor sebenarnya, pembagian tugas juga ada, tapi masalah potensi perselisihan (yang saya sangat sering lihat), seringkali harus diselesaikan secara kekeluargaan, yang bagi saya, kondisi seperti itu sering mempengaruhi suasana hati, dan akhirnya berpengaruh juga pada pengambilan keputusan, maka saya lebih memilih jadi follower, ketika acara berjalan baik, saya ikut senang, tapi ketika acara tidak berjalan begitu lancar, saya juga ga akan kecewa.

Dalam urusan kantor, ada timeline dan rules yang jelas yang harus dipatuhi semua orang, target selesai harus kapan, meeting dan sebagainya ga boleh lewat dari jam sekian, harus terarah ga boleh ngalor ngidul, begitu acara selesai, saya ga perlu merasa ga enak untuk undur diri, keteraturan inilah yang membuat saya bisa fokus dan bisa efektif bekerjasama dengan orang lain di waktu kerja, selepas itu, saya akan kembali pada preferensi saya tentang waktu pribadi.

Sounds introvert ya? tapi ya memang saya ga terlalu menyukai hal-hal yang dilakukan teman-teman saya ketika selesai office hour yang masih sempat olahraga bareng, ngumpul bareng (sebelum pandemi), ngafe, ngobrol, sampai malam, karena menganggap aktivitas itu adalah aktivitas pelepasan stress pasca kerja.

Alhamdulillah, bagi saya, pelepasan stress dan lelah pasca kerja adalah dengan pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati waktu pribadi, dan travelling yang less-organized, bukan NOT organized, dengan keluarga saya.


Hikmah

Pada akhir tulisan ini yang saya sampaikan adalah it’s OK to have misalignment pada saat professional assessment, biasanya itu terjadi karena ketidaksempurnaan sistem dalam menangkap ketidaksempurnaan kita sebagai individu, mungkin ada ketidakjujuran dalam menjawab assessment tersebut, yang akhirnya dikalkulasi sebagai hasil akhir – well, nobody’s perfect.

Tapi hasil professional assessment tidak salah juga, kenyataannya, lebih dari 80% hasilnya akurat kok, seperti hasil HBDI® assessment saya, dan itu cukup untuk memetakan cara persuasif yang bisa dipakai ketika mencoba mengarahkan tim dalam bekerja, ada bagian lain dari assessment yang suggest bahwa agility level saya cukup baik, yaitu level penyesuaian diri dan pemahaman dengan kondisi yang diperlukan.

Hingga hari ini saya masih bekerja di perusahaan saya saat ini sejak tahun 2015, dan saya masih mampu mengikuti perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, dan saat ini pun saya masih meng-handle 2 major projects yang melibatkan highly complicated cross-functional stakeholder.

Sekian dari saya, semoga menjadi bahan pemikiran kita untuk tetap produktif dan tetap personally well-being… Salam.

Tinggalkan komentar