Education, Job Role, and Passion


Sebagai seorang praktisi Supply Chain, adalah hal yang cenderung unik bagi saya untuk justru lebih tertarik pada hal-hal yang sifatnya psikologis dan justru lebih cocok bagi orang yang bekerja di bagian Personalia atau Human Resources.

Anyway, inilah alasan saya punya blog page, karena saya senang menuliskan apa yang saya pikirkan untuk saya bagikan pada orang lain, dan pada bahasan kali ini, saya bermaksud menceritakan pengalaman professional saya, terkait dengan educational background, current job role, dan true passion.


Educational Background

Saya adalah seorang praktisi Supply Chain di sebuah perusahaan farmasi multinasional, saya lulus dengan gelar Sarjana Sains, Apoteker.

Saya Apoteker, dan saya juga dengan rutin terus memastikan gelar profesi saya terdaftar di Kemenkes RI dan selalu berusaha update Sertifikat Kompetensi, sesuai aturan Profesi yang berlaku. Bagi sebagian besar orang yang ada di lingkup profesi saya, role di Supply Chain masih kurang lazim, coba deh dilihat, hampir semua praktisi Supply Chain, pasti background-nya Industrial Engineering.

Saya hanya anggap ini adalah jalur yang Allah pilihkan sejak saya meninggalkan business retail di tahun 2008 sebagai Apoteker di sebuah Retail Chain Pharmacy, yang niatnya ga jauh dari para rekan-rekan seprofesi saya yaitu aspirasi memasuki dunia industri farmasi. Singkat cerita, di tahun 2008 saya bergabung dengan sebuah perusahaan farmasi multinasional, sebagai Inventory Control Officer, ya awal mula saya berkenalan dengan dunia Supply Chain, kebetulan memang saat itu Direktur-nya pengen orang yang in-charge di Warehouse juga seorang apoteker, supaya license-nya bisa dipakai untuk keperluan distribusi dan paham aspek GDP dan GMP.

Dari sini saya mulai belajar inventory management, warehouse operational, distribution, export-import, tapi masih sedikit mengenai Demand and Supply Planning. saya merasa selama beberapa tahun menjalani role ini, saya mulai merasakan “this is it…” dan sejujurnya selama saya di role ini, ilmu GMP yang saya pelajari di Apoteker sudah hampir ga terpakai sama sekali.

Sejak saat itu, saya mulai merasa dan berpikir, kok saya lulus sebagai Apoteker, tapi saya ga pernah merasakan bahwa sekarang ini saya berada di tempat yang tidak seharusnya, jadi sudah mulai ada pergeseran paradigma terkait educational background dan current role… saya merasa sangat menikmati di role ini.


Current Job Role

Di tahun 2014, Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan promosi sebagai Warehouse Manager, di perusahan baru, multinasional farmasi, yang bagi saya ini kesempatan mengembangkan kemampuan operasional dan teknis saya, di level managerial, yang kebetulan saat itu hanya membawahi 15 orang staf warehouse, termasuk 3 orang supervisor dan 1 admin senior.

Di role ini, saya semakin terbawa jauh dari pendidikan Apoteker yang saya pernah kenal, dan semakin menikmati role sebagai praktisi Logistik, sampe hampir mau beli truk sendiri karena ingin serius menekuni dunia Logistik – o ya, sebelumnya karena role saya lebih dekat dengan Export-Import, saya sempat terpikir juga untuk menekuni dunia Intercompany Operations, tapi lantas saya urungkan niat, karena bidang tersebut saya rasa kurang sesuai dengan aspirasi saya.

Di tahun 2015, mantan bos saya di tempat sebelumnya kembali memanggil saya, menawarkan role sebagai Supply Chain Manager, ini role baru bagi saya, karena ini level berikutnya dari Logistic Operations yang sudah saya tekuni selama ini, di mana role saya adalah engaged dengan commercial team, demand mapping dan mengkomunikasikannya dengan Supply Network – termasuk Supply Planning dan Intercompany Operations.

Hingga hari ini, saya sudah 5 tahun ada di role ini, dan untuk mendukung role ini, tentu saya harus “memperkaya” diri dengan sertifikasi, pelatihan, ataupun post-graduate education di bidang yang sama donk, begitu kan ya teorinya? aspirasi-nya apa sih? ya kalau sudah jadi Supply Chain Manager, certified yourself with a proper certification – CSCP for instance, take a post-gradual degree in MBA.

No worries, itu tetap masih ada dalam rencana jangka panjang saya, role yang saya jalani saat ini, maka saya harus lakukan yang terbaik untuk menjaga role yang masih saya pegang hingga saat ini.

Bersama rekan di Supply Chain Management dan kunjungan Cluster Lead

Passion

Saya selalu katakan, Allah memberikan petunjuk dan jalan selalu misterius, jarang kita sadari kalau sebenarnya “tanda-tandanya” itu sudah ada dari 10-20 tahun yang lalu…

Apa sih maksudnya? OK, kalau kawan-kawan lihat, main content dari blog page saya isinya apa sih? Travelling? Family? Sharing experience? itu sangat terkait dengan Supply Chain ga? kalau saya bilang sih, jelas tidak… bahkan post tentang professional experience yang saya bagikan saja isinya lebih ke psychological.

Inilah yang saya maksud dengan Passion, saya harus ucapkan Alhamdulillah, kali ini Allah memang kasih saya cara untuk akhirnya bisa mewujudukan passion saya, yaitu bercerita lewat tulisan, dan sempat membuat blog web untuk menampung pemikiran-pemikiran, yang Insha Allah bisa untuk berbagi inspirasi…

Kesempatan ini saya dapatkan di masa yang kita semua tidak pernah duga akan terjadi, ya tepatnya di masa WFH, selama 2.5 bulan terakhir saya lakukan WFH, karena tidak ada waktu 4 jam terbuang di jalan, maka waktu tersebut akhirnya saya beranikan mulai mengaktifkan kembali blog page yang sudah pernah saya bikin bertahun-tahun yang lalu, dan ga pernah aktif.

Bahan sebenarnya banyak, saya dan istri adalah penyuka family traveller, kalau kawan lihat, dari post-post yang ada, kami mulai aktivitas travelling pertama kami di 2009 dengan backpacking ke Bali, jadi sangat banyak bahan cerita perjalanan, ataupun pemikiran-pemikiran yang sering terlintas di benak saya lalu ingin saya bagikan… tapi males bangettt, ga ada waktu mulai setup web-nya lagi broooo….

Finally, here it is…JoedoFamLiving, nama web blog yang saya sebut sebagai “Family Storyboard”.


HBDI®

Bagi para pembaca yang di dunia korporasi tentu tidak asing dengan HBDI®, apalagi kalau perusahaannya adalah perusahaan top nasional, BUMN, dan multinasional. Saya sendiri sampai 2x di-assess, tahun 2014 di tempat kerja saya yang lama, dan 2018 di tempat kerja saya sekarang.

HBDI® pada dasarnya adalah proses assessment untuk melihat bagaimana mapping cara berfikir dan bertindak seseorang yang ada dalam team, jadi beda dengan tes psikologi saat interview kerja ya, kalau ini ditujukan bisa untuk individu ataupun team yang sudah engaged di perusahaan itu dan memegang role tertentu.

Tapi saya ga akan bahas tentang HBDI® secara detail, takut saya menyalahi copyrights, dan tidak mendeliver konten dengan benar tapi dalam tulisan saya kali ini, saya mau berbagi mengenai hubungan HBDI® assessment saya dengan 3 hal yang sebut di atas tadi, yaitu educational background, current job role, dan true passion, more about HBDI®, please visit https://www.thinkherrmann.com/

Profile assessment saya adalah seperti yang saya bagikan di bawah, bisa dilihat ya korelasi antara Educational Background, Job Role, dan Passion saya? HBDI® menjelaskan bahwa saya kurang cocok sebagai orang eksakta (IPA), cara berpikir dan problem solving-nya lebih didominasi dengan otak kanan, dengan tetap memenuhi kaidah yang diatur oleh otak kiri, sehingga itu sama sekali tidak menghambat saya dalam bekerja sebagai praktisi Supply Chain dan tetap deliver hasil sesuai ekspektasi perusahaan, dan di waktu senggang, saya bisa memenuhi Passion saya untuk menulis.


Hikmah

Selalu saya bahas mengenai Hikmah di akhir tulisan, sebagai ringkasan atas apa yang saya tuliskan secara panjang lebar, serta untuk bisa dapat menyambungkan titik-titik dalam tahap-tahap hidup kita.

Saya lahir di tahun 1983, artinya saya besar sebagai generasi yang menggunakan stigma “Kalau mau dianggap punya kemampuan akademis lebih, harus masuk IPA”, di mana IPA adalah Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, jadi pilihan jurusan di SMA, dan jurusan di Perguruan Tinggi di Farmasi, berasal dari stigma ini.

Tanda-tanda saya bukanlah anak IPA sejati adalah sejak SMA di tahun 1997, saya hampir ga pernah dapat nilai bagus, maksimal 7, setiap kali ulangan Matematika, dan puncaknya adalah, di EBTANAS, nilai Matematika saya adalah 2.00, yes, dua koma nol nol, clearly written in my high school graduation transcript. Saya merasa ga pernah bisa memahami korelasi rumus-rumus dengan kehidupan nyata, jadi setiap kali ujian atau ulangan Matematika, saya hanya menghafal rumus, you wanna know my highest grade? English, Indonesia, and Civics, udah tanda-tanda ya memang?…

Berlanjut ke Perguruan Tinggi, Alhamdulillah, di UMPTN saya memilih program studi farmasi yang pasti jurusan IPA, dan lulus, yang saya sangat yakin, bahwa kelulusan saya sangat ditopang oleh hasil hari pertama UMPTN yaitu, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan saya lupa satu subject lagi, pokoknya lebih ke Pengetahuan Umum deh.

Selepas UMPTN dan saya dinyatakan lolos ke Program Studi Farmasi, saya ga pernah lancar di kesempatan pertama di semua mata kuliah yang justu adalah main subject, termasuk Matematika Dasar yang hanya 2 SKS sebagai Mata Kuliah Dasar Umum, saya sampai harus ngulang 2 semester karena dapat nilai D dan E. Mata Kuliah Kimia Farmasi semuanya selalu ngulang, and so on, and so forth…

Ajaibnya, saya lulus Sarjana dari Laboratorium Farmasi Fisika mengenai bahasan efektivitas Emulsifying Agent dan kaitannya dengan tegangan permukaan. Sampe ga inget gimana saya bisa selesai…😁 semua hanya karena pertolongan Allah – Gambar di bawah adalah ketika wisuda Sarjana Farmasi di tahun 2005, bersama 2 orang teman saya yang sudah jadi dosen dan menyelesaikan PhD-nya di Jepang.

Kelulusan Sarjana Farmasi

Sepertinya, pengalaman saya kayanya ga nyambung ya antara Education, Role, dan Passion, saya pikir beberapa orang dari kita saat ini juga mungkin mengalami kondisi yang serupa, passion terutama yang beda dengan role saat ini.

Tapi jangan lantas kita anggap hal tersebut sebagai keanehan, tapi anggaplah sebagai keunikan pribadi yang Allah berikan, untuk bisa kita sikapi sebagai penyeimbang dalam kehidupan kita, bagi saya, passion menulis saat ini memang belum menghasilkan finansial yang setara dengan professional role saya, tapi bisa memberikan kebahagiaan tersendiri yang pada akhirnya membuat saya bisa lebih produktif dalam bekerja dan juga dalam membina keluarga saya – itu yang disebut adaptasi, bukankah sebagai makhluk hidup ini juga karunia yang Allah berikan ?

O ya, sebagai penutup, sebagai orang tua modern yang hidup setelah mengalami masa-masa stigma “IPA adalah anak pintar” kali ini penting kayanya untuk kita bisa coba adopt cara berpikir saat ini dengan membuang stigma lama, dengan lebih mengeksplor passion anak sejak dini, yang lebih sederhana, kalau anak kesulitan belajar Matematika, bukan karena dia nakal atau bodoh, tapi karena passion dan interest-nya beda, dan di masa modern seperti ini, banyak jalur yang tersedia untuk mengarahkan perkembangan anak ke arah yang lebih baik untuk bisa lebih kreatif

Yang membuat saya survive hingga hari ini bukan karena saya memaksakan diri biar pintar Matematika, tapi karena pertolongan Allah yang memudahkan jalan saya dalam beradaptasi, saya mungkin ga cocok dengan hitung-hitungan matematis, tapi Allah selalu kasih saya jalan dengan mempertemukan saya dengan orang lain yang jago menghitung, tapi mungkin kurang bisa melihat dari suatu hal sebagai big picture, ya, karena Allah yang memudahkan, dan syarat agar Allah memudahkan, adalah dengan ikhlas menerima “ketidaksinkronan” atas Education, Role, and Passion, serta jangan putus berdoa agar selalu diberi kemudahan.

Demikianlah tulisan kali ini yang saya sempat buat dalam masa WFH, semoga menjadi inspirasi – Sampai jumpa.

Tinggalkan komentar