Ini adalah kali pertama saya berkesempatan mengunjungi Uni Emirat Arab, tepatnya Dubai, kali ini saya hanya bepergian sendiri, karena ini kunjungan dinas, dan tempat yang saya kunjungi pun tidak banyak, karena saya hanya punya waktu pribadi sekitar <1 hari untuk benar-benar menikmati kota Dubai dengan tanggungan sendiri, di luar rangkaian acara.
Visa dan Penerbangan
Saya tidak akan bahas terlalu panjang untuk visa dan penerbangan, karena semua dibiayai kantor, jadi ga ada yang sulit. Seperti biasa untuk penerbangan ke Uni Emirat Arab, ada beberapa pilihan, 2 maskapai populer adalah Etihad dan Emirates, dan sesuai kebijakan perusahaan, saya menggunakan Emirates.
Rate penerbangan Emirates yang saya gunakan kali ini adalah sebesar IDR 14,700,000/orang untuk Return Economy Class flights, dengan lama waktu penerbangan selama 8 jam, dan hanya tersedia 2x waktu penerbangan dari Jakarta, entah karena saya pakai travel agent atau memang hanya ada 2 itu saja. Yang menarik sebenarnya tersedia upgrade ke business class sekitar IDR 7 juta/flight, tapi saya ga pakai, karena ga enak juga, udah approval last minutes, masih mau upgrade segala 😋, walaupun secara corporate policy, penerbangan >8jam eligible untuk business class.

Kita bisa menggunakan pengurusan visa via maskapai, atau hotel tempat kita menginap, artinya maskapai atau hotel ini menjadi sponsor kita selama kita berada di Dubai, karena dari data maskapai dan hotel kan sudah bisa dilihat akomodasi selama di sana.

Karena saya sudah book via Emirates, maka pengajuan pun saya ajukan via web Emirates di sana saya harus memasukkan data paspor, foto terakhir dengan latar belakang putih, serta menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan, link yang saya sertakan adalah general link, kamu harus punya kode booking untuk bisa aplikasi visa via Emirates.
Komunikasi pengurusan visa ini sangat aktif, dalam waktu tidak lebih dari 24 jam saya mendapatkan respon jika ada dokumen yang kurang dan sebagainya, bagi saya, sekali lagi masalahnya ada pada nama yang hanya satu – beruntung di paspor saya sejak saya perpanjang paspor, saya sudah membuat endorsement page di kantor imigrasi dengan nama Ayah dan Kakek saya, saya submit kembali endorsement page tersebut dan dalam waktu kalau ga salah sekitar 3 hari kemudian saya mendapatkan notifikasi kalau visa saya sudah disetujui.
Visanya dalam bentuk PDF dan memang tidak untuk ditempel di paspor, hanya diperlihatkan di bandara dan imigrasi saat keberangkatan dan kedatangan di Dubai, jadi kalau anda kolektor stiker visa, visa Dubai yang dibuat via maskapai atau hotel, jadi ga collectibles ya? 😁 gapapa, toh nanti setibanya dan berangkat dari Dubai tetap ada stempel UAE kok… Biaya pengurusan yang disponsori oleh Emirates ini biayanya sebesar IDR 1.4 juta/orang, saya kurang tahu kalau kita urus sendiri ke Kedubes UAE, kalau pakai travel agent besarnya 1 jutaan juga.

Akomodasi
Hotel
Namanya perjalanan dinas, maka sudah pasti hotel juga pakai fasilitas kantor yang memang sudah masuk dalam rekomendasi travel agent kantor donk, karena semua fasilitas sudah dimanage, jadi saya ga perlu bahas terlalu detail tentang hotel, karena ini hotel bintang 4 dari jaringan Hyatt yang semua orang pasti sudah paham standar hotel bintang 4 ya, saya menginap selama 4 malam di Hyatt Regency Dubai, di hotel ini juga diadakannya meeting.
Akomodasi yang saya anggap unik adalah saat saya pulang, saya penasaran dengan transit hotel yang bentuknya seperti sleeping capsule, jadi di hari terakhir saya check out, lalu saya titip koper di kamar teman saya yang check out besok, dan flight-nya masih di pukul 10.00. Selesai acara, saya numpang di kamar teman saya, lalu kita jalan-jalan sore sebentar, sekitar pukul 22.00 saya meninggalkan hotel dan menuju Dubai International Airport, dan penerbangan saya adalah besok pagi 04.00 dini hari.
Trus ngapain dari pukul 23.00 – 04.00? – Saya putuskan menginap, di transit hotel di Dubai International Aiport, bentuknya sleeping capsul, Sleep ‘n Fly, tempat ini memberikan variasi paket menginap yang dihitung dengan jam, jadi ada 4 jam malam, 4 jam pagi, 8 jam, dan sebagainya, lokasinya ada di departure hall, jadi untuk bisa akses ke sini, kita harus check in dulu dan clearance imigrasi, ini sangat membantu bagi mereka yang harus transit ke penerbangan lain, karena ada di area dimana kita tidak perlu keluar imigrasi dulu.



Lumayan lo, saya check in dari pukul 23.00, saya pakai sampai kira-kira pukul 02.30, karena saya ga mau terlalu mepet dengan boarding time saya di pukul 04.00, masih ada waktu yang harus saya spare untuk cari boarding gate, overall, nyaman untuk short nap, daripada tidur di bangku, tapi, ya lumayan si, sekitar IDR 800,000 untuk 4 jam – sama kaya bintang 3 atau 4 di Indonesia ya? trus ga dapat sarapan dan toilet pakai public toilet – tapi saya kasih saving buat corporate lho, karena kalau saya extend semalam kena IDR 3 jt lagi di Hyatt.
Transportasi
Selama di Dubai, saya ga banyak menggunakan public transport, karena namanya perjalanan dinas, jadi kalau lagi ada waktu untuk pribadi, saya juga ga punya banyak waktu, waktu itu saya hanya sempat mencoba MRT Line di Dubai.
Ga jauh beda dengan jaringan kereta di negara maju lainnya, sistem pre-paid seperti e-money payment tersedia beberapa pilihan untuk orang yang bekerja, pelajar, atau untuk turis yang short visit, namanya NOL Card, ini website Dubai Metro, dan untuk beli kartunya juga tersedia automated vending machine di beberapa Metro Station, atau beli di airport, bisa bayar cash ataupun pakai credit card.
Atraksi
Dune Bashing 4×4
Ini adalah atraksi pribadi, atas tanggungan sendiri, jadi ga diatur sama kantor dan ga ditanggung kantor juga, saya pikir ga afdhol rasanya ke sini tapi ga sempat main pasir.
Saya tiba di hotel pukul 01.00 waktu setempat, dan meeting hari pertama dijadwalkan sore di pukul 17.00, saya terpikir untuk ikut atraksi ini karena ada slot waktu kosong dari pagi hingga sore, toh ga makan waktu lama juga, karena setelah itu saya segera balik ke hotel, dan lanjut kerja karena hitungannya ga cuti dan ga libur, harus konsekuen untuk tetap kerja, tapi dengan waktu yang fleksibel…
Awalnya saya coba book dari Klook, tapi sayangnya ga bisa karena min. 2 pax untuk ikut atraksi ini, akhirnya saya coba search lagi di google di bookdubaitrip.com yang bisa sendirian, dapat juga, tapi bayarnya on-site nanti pas selesai acara, dan fasilitas sebenarnya ga selengkap di Klook, karena biasanya atraksi ini termasuk katanya minum kopi arab, sama nonton atraksi nangkap elang, kalo ini ya saya cuma dapat main 4×4 Dune Dessert aja dengan Toyota Land Cruiser 4×4, biayanya sekitar IDR 600,000/orang, saran saya, tetap lebih baik pakai Klook kayanya, yang ini agak kemahalan, tapi ya sudah, saya juga happy.
Perjalanan dari hotel sekitar 1.5 jam, saya sampe ketiduran di jalan, karena jemput peserta dari berbagai tempat dulu, dan sampai lokasi, kita mulai off-roadnya sekitar 30 menitan.






Saya sempat mikir dalam hati, bentar amat? jauh-jauh lama ke sini cuma setengah jam, tapi ya, setelah jalan sekitar 10 menit, saya udah mulai ga happy…mual 🤣, akhirnya acara selesai sekitar jam 11.00 waktu setempat, kami segera kembali, beberapa turis lainnya minta di-drop di Dubai Mall, saya langsung balik ke hotel, dan ngejar kerjaan yang tertinggal, kebuttt, karena jam 17.00 saya sudah harus ikut rangkaian acara pertama.
Dubai Mall, Burj Khalifa, Dubai Aquarium, Dancing Fountain
Dubai Mall dan Burj Khalifa ini letaknya berdekatan, jadi ga salah saya malam-malam jalan sendirian ke sini jadi dapat 2 tempat ini sekaligus. Dari hotel saya menggunakan Metro Dubai, turun tepat di stasiun Dubai Mall, dari Mall ke Burj Khalifa bisa berjalan kaki.


Dubai Mall dikenal sebagai Mall terbesar kedua di dunia, yang sudah pasti istri saya bakal seneng banget kalau diajak kemari, bagi saya, Mall is a Mall, ga ada bedanya lah sama lihat Pacific Place, Central Park, Plaza Indonesia, dll di Jakarta, bedanya, hanya ukurannya, sama kalau lagi nge-tag location keluar “Dubai Mall, United Arab Emirates” 😎




Dalam Dubai Mall terdapat atraksi Dubai Aquarium, yang waktu itu saya hanya sempatkan liat dan foto dari luar saja, karena masuknya mahal cuy, jujur saya waktu itu cuma sempat ambil uang cash AED 500 ~ IDR 2 juta, dipakai AED 160 buat main 4×4 Dune Bashing di Sharjah, sisanya buat beli oleh-oleh dan pakai transportasi, jadi masuk ke aquarium, makasih deh, rasanya sama kaya main di Sea World atau Jakarta Aquarium.





Nah, keluar Dubai Mall, baru deh ketemu icon kota ini dan juga icon negara UAE, yaitu Burj Khalifa yang tersohor, sama seperti Dubai Aquarium, saya juga hanya sempatkan foto-foto aja, ada tour tersendiri ke sini untuk sampai ke puncak Burj Khalifa, silakan dilihat di sini. Yang menarik dari Burj Khalifa adalah, dengan tinggi bangunannya, sangat efektif dijadikan sebagai laser billboard untuk berbagai keperluan advertising maupun permainan tata cahaya artistik yang mendampingi atraksi Dancing Fountain.
Di tengah-tengah Burj Khalifa dan Dubai Mall, ada kolam besar yang menjadi pusat perhatian wisatawan di sini, karena setiap jam akan ada pertunjukan Dancing Fountain dengan theme song beberapa lagu populer di dunia, setiap kali pertunjukan Dancing Fountain ini lamanya kira-kira sekitar 5-6 menit, dengan sound system dan permainan cahaya yang sudah pasti kelas dunia, memang jadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang untuk menghabiskan malam di sekitar area ini.






Gold Souk dan Lokasi Oleh-Oleh
Orang bilang kalau ke Dubai, sempatkan ke Gold Souk, yang artinya toko emas, sekilas sebenarnya ga ada perbedaan mencolok beli emas di Dubai dengan di Jakarta, saya hitung-hitung hampir sama aja harganya, malah kalau beli emas di sini, suatu waktu mau dijual di Indonesia jadi susah, tapi ya niatnya buat oleh-oleh kan ya…
Namanya negara gurun ya, jalan malam aja gerah, saya ama teman saya putuskan makan malam dulu sambil beli oleh-oleh kacang-kacangan dan coklat yang khas dari sana, belinya kiloan, dan suruh pilih sendiri.


Yang saya selalu ingin tekankan ketika mencoba mengisi waktu sempit di tengah-tengah business trip adalah, tidak se-enjoy personal trip, setelah kamu selesai dengan acara personal, kami harus segera balik ke hotel dan komitmen untuk menyelesaikan tugas yang sering pending, fleksibilitas mobilitas artinya juga fleksibilitas waktu kerja, seringkali dalam business trip, saya pasti kerja sampai malam, toh mikir di hotel juga, bangun lebih awal, ga kemana-mana.


“Tetap aja senang bisa pergi ke tempat yang belum tentu kita bisa ke sana“, saya harus akui, memang benar, karena pasti memang perlu usaha lebih untuk main ke UAE jika kita niat wisata sendiri, terlebih biaya travelling-nya.
Beberapa kali saya business trip ke Singapore dan Malaysia, saya masih bisa extend, lalu nunggu keluarga saya datang di weekend, dan kita akan pindah hotel dengan tanggungan sendiri, karena banyak pilihan yang bersahabat dengan budget, selain itu karena juga ga ada hambatan visa, serta biaya penerbangan yang masih mirip dengan wisata domestik, yang juga masih bisa ditolerir dengan tanggungan pribadi.
Kultur Uni Emirat Arab
Sebagai penutup perjalanan singkat ini, saya simpulkan Dubai adalah kota di UAE yang cukup bersahabat untuk turis, kota ini termasuk dalam deretan kota yang aman di dunia, supir taksi sering suka agak ngakalin alasan ga bisa kartu kredit lah, diputer sedikit lah, tapi ga sampe ngegetok kaya di kita, masih relatif aman bagi orang asing bepergian di sini sendiri, saya pulang jam 12 malam dari Dubai Mall ke hotel, dan Alhamdulillah semua relatif aman.
Dubai ini memang mengandalkan pariwisata, investasi, trading, dan semua orang tahu, minyak bumi. Hampir sebagian besar orang di sini adalah WNA, paling sering saya ketemu orang Phillipines dan Pakistan, yang bekerja di sektor informal (taxi driver, tourism, souvenir shops), dan ada banyak warga Eropa juga yang bekerja di UAE, saya kurang yakin pekerjaan yang digeluti oleh para Emirati (warga UAE), tapi yang pasti sebagian besar pasti menjalani pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara, dan sisanya mungkin berniaga.
Kuliner yang ada di sini banyak terpengaruh oleh kuliner dari Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh, India), tapi bagi saya selama makan di sini, saya lebih senang beli Wendy’s atau McD, rasa mecin-nya lebih bersahabat buat saya daripada makan Hummus dan Roti Pita, saya ingat begitu pulang sampai di Terminal 2 Soetta, senang banget ketemu A&W, makan hanya IDR 50,000 kayanya nikmat banget.

Sering kita dengar berita dan cerita tentang para pangeran Arab yang pergi naik mobil sport super mahal yang cuma diproduksi terbatas, pelihara hewan langka, dan kebiasaan nyeleneh lain, entah saya ga hoki, selama 3 hari saya di sana, entah para Emirati yang diceritakan itu lagi pada tidur, atau memang ga ada, atau kebetulan saya jalan-jalan ga masuk ke kawasan tinggal elit-nya, atau mungkin faktanya hanya sebagian kecil Emirati yang bener-bener kaya dan punya kebiasan nyeleneh, terus digembar-gemborkan dalam berita…entahlah.





Cuma sekali nemu mobil unik Hummer Limousine ini, selebihnya, ya mobil pada umumnya aja, bedanya kalau Land Cruiser, Fortuner, dan Pajero, BMW, Ford, Mercedes dan mobil Eropa lainnya di sini sudah biasa, kalau di kita mobil masih tergolong mewah.

Overall, saya senang dan bersyukur sempat ke sini dan menikmati singkat serta belajar singkat seperti apa sih kultur sebenarnya dari masyarakat UAE, mudah-mudahan nanti bisa kemari lagi bareng keluarga saya seperti biasa.

