Di penghujung minggu liburan kali ini, kita coba mengunjungi tempat yang memang khusus buat Ayra main, sangat jarang diketahui orang, tapi saya sangat setuju kalau memang tempat-tempat semacam ini juga harus diperbanyak di Indonesia, parenting method di masa kini kayanya lebih ngena untuk bisa engaged dengan wisata model museum seperti ini.
Kami mengunjungi Tokyo Toy Museum, yang sebenarnya lebih mirip dengan playground ya, tapi menarik karena memang isinya playground untuk anak-anak, dan dilengkapi dengan berbagai mainan dari berbagai belahan dunia, dan semua isi mainannya adalah mainan edukatif untuk menstimulasi perkembangan anak.
Selain itu, kami juga menyempatkan diri ke Ueno Park, sebenarnya awalnya kami bermaksud mengunjungi Ueno Zoo, karena di Ueno Zoo kan terkenal dengan panda-nya, dan terus terang satwa yang menarik perhatian Ayra sejak kecil adalah Panda, karena dia sering lihat channel Pinkfong yang Panda Bao-Bao, tapi kami putuskan hanya berkeliling di Ueno Park saja, pemandangan di sekitar Ueno Park ga kalah menarik.
Tokyo Toy Museum
Tokyo Toy Museum terletak di Distrik Shinjuku, dan ini memang dekat dari apartemen kami, karena setiap kali kami bepergian kereta Keio-Line selalu mengakhiri perjalanan di Shinjuku untuk ke lokasi lainnya, kami melanjutkan kereta ke tujuan Akebonobashi Station.
Kami berjalan kaki dari Akebonobashi Station, ke arah Tokyo Toy Museum, kata peta sih sekitar 650m, taunya biasalah kan peta suka muter2, jadinya malah dapat sekitar 1.5 km, 😁, alasannya sederhana, waktu itu yang ketemu cuma naik bus aja, dan kami ga mau nyasar lebih jauh, kayanya lebih gampang liat peta jalan kaki, well untungnya cuaca dingin sehingga ga jadi masalah saat kami berjalan sejauh itu dengan gendong Ayra, faktor lainnya, u know kan mahalnya ongkos transport di Jepang? ya itu juga jadi pemikiran kami, udah nyasar bayarnya lumayan…haha…
Memang agak lumayan ketika kita coba ngikutin Google Maps, tapi ternyata ga sesulit itu, toh ini masih di tengah kota juga, dan sisi positif dari setiap perjalanan kami seperti ni adalah, kami senang bisa mengeksplor kota secara bebas, melihat hal-hal yang memang dilihat warga lokal dan bukan hanya sebagai turis lihat tempat wisata aja, jalanan di kota Tokyo memang sangat rapi dan bersih, jalan kecil sekelas gang di kita, semua bangunan tata letaknya sangat rapi, karena ga punya garasi, dibuatlah parkiran publik kaya lapangan yang berbayar dan rapi…pokoknya rapi, ga ada sampah, memang sudah budaya ya, jadi jangan maksa ini bisa ditiru di kita.
Tibalah kami di Tokyo Toy Museum, bangunannya mirip kaya sekolah dan terletak di residential area, sangat ga mencolok, sayang ga sempat foto bagian depannya, biaya masuknya adalah JPY 1000 per orang, dan masih free untuk anak <2 tahun, bagi orang tua dan 1 anak diberikan paket discount Combo 1 orangtua + 1 anak > tahun.
Beginilah suasana di dalam Tokyo Toy Museum, memang mayoritas yang berkunjung ke sini adalah warga lokal, dan seperti layaknya tempat untuk anak-anak balita, tentu fasilitas lengkap seperti diaper changing, nursing room…
Ada yang menarik saat istri saya mau menyusui Ayra, o ya, mengenai menyusui, di Jepang ga lazim untuk seorang ibu breastfeeding di tempat umum, sebenarnya di semua tempat juga ga ada sih larangan breastfeeding di tempat umum, itu kan balik lagi ke kenyamanan sang ibu, risih ga sih di tempat umum, mungkin bagi orang Jepang yang sangat sopan dan rapi, kayanya dianggap kurang pas aja untuk breastfeeding, jadi ya kebanyakan dari mereka pakai botol.
Saat itu istri saya diajak ngobrol sama warga lokal, ya otomatis ga paham ya, istri saya cuma bisa bilang “English please…”, kebetulan warga lokal ini bisa bahasa Inggris, dan dia nanya ke istri saya, “Ayahnya (Ayra) orang Jepang juga ya?” 😁😂🤣… karena buat beberapa orang yang lihat Ayra, selalu bilang, kok wajahnya oriental banget sih? (Chinese, Japanese, Korean…), ga tau deh turunan dari mana, tapi ya kami senantiasa syukuri bahwa anak kami ini dikaruniai rupa yang bisa membuat orang tua dan orang lain senang melihatnya…Alhamdulillah…
Ini beberapa aktivitas Ayra di Tokyo Toy Museum.
Akihabara, Ueno Park, Ameya Yokocho
Selesai bermain di Tokyo Toy Museum, kami melanjutkan berkeliling di Ueno Park, di lokasi ini juga berlokasi kebun binatang Tokyo yang populer, yaitu Ueno Zoo, karena alasan waktu dan biaya, kami memutuskan mengeluarkan Ueno Zoo dari daftar kunjungan, dan hanya berkeliling di luar saja.
Dari Tokyo Toy Museum kami sebenarnya ga langsung ke Ueno Park, karena lokasi ini dekat dengan Akihabara, jadi sayang rasanya kalau kami ga sempatkan lewat. Distrik ini terkenal sebagai pusat shopping electronic, video games, manga, dan Japanese modern culture lainnya, tentu semua tahu AKB48 kan? saking populernya sampai sister-nya membentuk JKT48 dan grup-grup 48 lainnya yang ga cuma di Jepang, tapi di beberapa negara Asia Pasifik yang bernaung di bawah 48 Groups binaan AKS Co. Ltd.
Dari Tokyo Toy Museum, kami menggunakan kereta dari Akebonobashi Station ke Akihabara, Iwamotocho Station.
Sepanjang perjalanan, ketemu makanan kebab, bukan Japanese food, tapi yang penting Halal food, dan Kebab masih cocok di lidah kami, dan menandakan juga lokasi ini populer bagi imigran.
Dari Akihabara kami melanjutkan ke tujuan kami di Ueno Park, kami menggunakan Ginza Line dari Suehirocho Station ke Ueno Station.
Ueno Park memiliki berbagai macam atraksi, tapi kami ga sempat menikmati semuanya, kami hanya berjalan-jalan seperti layaknya kita menikmati taman kota, kalau ada yang menarik kita datangi.
Berikut beberapa snapshot aktivitas kami di Ueno Park.
Hari menjelang petang, sebelum pulang kami memutuskan untuk mlipir sedikit ke arah pasar yang cukup populer yaitu Ameya Yokocho, lokasinya ga jauh dari Ueno Park hanya sekitar 700 m.
Di pasar ini kami ketemu banyak WNI yang ternyata juga pada main ke sini, jadi bener kan pasar ini memang populer, terutama yang mau cari oleh-oleh. menjelang petang anginnya lagi kencang banget, Alhamdulillah anak kami ga ampe masuk angin 😁, kami berkeliling sekitar 1 jam di sini, beli beberapa cinderamata, dan pulang ke apartemen untuk bersiap-siap, karena besoknya adalah Departure Day kami kembali ke Indonesia.
Dan seperti biasa beberapa kumpulan singkat perjalanan di video kami.
Ringkasan Biaya Perjalanan Day 6
Ringkasan ini meliputi perjalanan dari apartemen kami ke Tokyo Toy Museum, Akihabara, Ueno Park.
| Pengeluaran | Jumlah | Total (JPY) | Total (IDR) |
|---|---|---|---|
| Tiket Kereta Sasazuka – Shinjuku (Toy Museum) | 2 | 568 | 6,8160 |
| Tiket Kereta Shinjuku – Iwamotocho (AKB) | 2 | 440 | 52,800 |
| Tiket Kereta Iwamotocho (AKB) – Ueno | 2 | 336 | 40,320 |
| Tiket Kereta Iwamotocho Ueno – Sasazuka | 2 | 648 | 77,760 |
| Tiket Masuk Tokyo Toy Museum | 2 | 2,000 | 240,000 |
| Cash Spending (Makan, Oleh-oleh) | 2 | 5,000 | 600,000 |
| GRAND TOTAL | 8,992 | 1,079,040 |
Departure Day
Seperti biasa setiap selesai liburan dan bersiap kembali tuh rasanya kok pengen muter balik jam ama kalender gitu…😭, tapi ya aktivitas harus berlanjut, ga mungkin kan hidup hanya liburan aja…
Liburan kami di Tokyo dan Hakone belum banyak mencakup semua area wisata yang orang lain mungkin bayangkan kaya Kyoto, Osaka, Sapporo… karena memang budget dan waktu juga, boleh dibilang waktu keluar kami ketika sudah punya anak hanya efektif dari pukul 10.00 s.d max 21.00, dan selalu ada waktu berhenti beberapa lama, namanya juga punya anak balita.
Sesingkat apapun liburannya, beberapa tempat wisata mungkin ga maksimal, kaya misal di Tokyo Disneyland, tapi kami bahagia dan sangat berkesan bahwa kali ini untuk pertama kalinya kami bisa travelling bersama putri balita kami, setelah backpacking pertama kami hanya sebagai family couple 2009 lalu ke Bali.
Dalam perjalanan pulang, kami kembali menaiki Willer Bus Express ke Osaki Station, untuk selanjutnya naik kereta ke Narita Airport, kali ini kami ga lagi gagap dengan rutenya karena sudah pengalaman, kami tiba di airport sekitar 4 jam lebih awal, it’s good, jangan pernah gambling mepet-mepet deh kalo international travel…
Seperti saya pernah bahas sebelumnya, baru kali ini kami nemu tempat shalat yang layak, karena sebelumnya di beberapa lokasi kami emang belum terlalu niat juga, walaupun sebenarnya di Tokyo juga bisa ditemukan masjid, karena Muslim community di Tokyo cukup solid.
Kalau asumsi saya yah, karena kultur masyarakat Jepang yang ga suka nyampurin urusan orang, menjadi minoritas (muslim) di Jepang seharusnya ga jadi masalah, karena bagi warga Jepang, beragama adalah pilihan kehidupan pribadi dan ga semestinya orang lain nyampurin itu, sehingga jadi minoritas ga perlu merasa insecure, kami pernah membuktikan dengan shalat di stasiun, dan ga ada satupun yang menegur, karena ga mengganggu dan mereka tahu kalau kami lagi ibadah.
Tepat pukul 18.00 kami bertolak dari Narita International Airport kembali ke Soekarno-Hatta kembali menaiki Japan Airlines, dan Alhamdulillah kira-kira tepat pukul 01.00 dini hari WIB, kami tiba di Cengkareng, baggage claim, imigrasi, dan transportasi, dan kami kembali tiba di rumah sekitar pukul 04.00 dini hari.
OK, itu adalah sekilas perjalanan 7 hari kami di Tokyo, perjalanan pertama kami ke negara di luar ASEAN di musim dingin, bersama seorang putri balita berusia 1.5 tahun, semoga bisa menginspirasi – sampai jumpa di travel blog lainnya…

















































