Day 4 – Asakusa, Shibuya


Pergi ke Asakusa ini kalau mau dibandingkan menurut saya pribadi, sama kaya pergi ke Nami Island di Korea Selatan, beda sih, Asakusa ini dikenal dengan Sensoji Temple-nya dan ini tempat ibadah, sementara Nami Island kan tujuan wisata alam, tapi maksudnya adalah, ini tempat wisata populer yang hampir sebagian besar turis Asia pasti akan ke tempat destinasi wisata yang iconic ini deh…

Kali ini di Asakusa kami memang sudah berencana mau menikmati Ramen Halal, secara dari sejak kedatangan kami hampir ga pernah jajan main course, hampir semuanya snack, o ya Asakusa memang karena sudah populer, jadi memang sudah ada tempat makan Halal, dan di beberapa travel blog memang sudah dikenal Muslim Friendly.


Transportasi

Untuk mencapai Asakusa, dengan main destination di Sensoji Temple, bisa ditempuh dengan rute tercepat adalah dengan Express Keio New Line dari Sasazuka station yang ke arah Motoyawata, ekspress ya, bukan yang local train, sampai ke Shinjuku Station, di sini tidak berganti kereta, karena kereta akan menuju Bakuroyokoyama Station, dari sini berpindah ke Higashi-Nihombashi Station menaiki Toei-Asakusa Line hingga ke Asakusa Station.

Baik di aplikasi Google Maps, ataupun di aplikasi JR-East, banyak pilihannya dengan estimasi biaya bervariasi dari JPY 390 – JPY 580 per orang.

Di sini kami ada pengalaman unik pas di stasiun, karena waktu mau menaiki eskalator ceritanya biar cepat, kami lipat baby stroller, anak digendong, dan ga lama begitu udah jalan ada sekitar 20 menitan baru sadar sepatu anak hilang sebelah, jatuh di mana pula?, dengan masih punya sedikit harapan bahwa orang Jepang ni jujur-jujur, saya telusurin balik deh jalur kedatangan dan bener aja di eskalator tempat kami naik tadi, ketemu sebelah sepatu, disimpenin ama orang di sisi eskalator.


Asakusa, Kimono dan Sensoji Temple

Sesampainya di Asakusa, yang kami lakukan adalah mencari tempat penyewaan Kimono yang telah kami booking sebelumnya, yaitu di Tokyo Sensoji Store, dengan biaya sebesar JPY 3,888 untuk 2 orang atau kira-kira IDR 467,000, dengan lama waktu pemakaian adalah sejak kedatangan sampai kira-kira pukul 17.00, pada notifikasinya sudah disebutkan untuk memberikan estimasi waktu kedatangan, karena jika kita ga datang tepat waktu dan sudah ada customer lain, maka ga boleh complain kalau kita lambat dilayani, perlu diketahui, pakai Kimono ini ga semudah yang kita kira, ribet banget, lapisan demi lapisannya, mungkin sama ama kalau kita pakai Kebaya atau Beskap ya, selama dipakai jalan yang ada takut lepas, miring, dan lain-lain lah….

Kami tiba di lokasi tepat waktu sekitar pukul 11.45, dan langsung menuju ke penyewaan Kimono. Setibanya istri saya disuruh pilih-pilih dulu, habis itu proses pakai kimono, yang kurang lebih ada saya nunggu sampai setengah jam, baru kemudian gantian saya yang dipakein kimono, seperti yang tadi saya sampaikan, lama dan lumayan njelimet cara pakainya, tapi hasilnya harus saya akui, kimono memang punya sisi elegan tersendiri…

Satu yang kami telat sadari adalah kami salah memakaikan kombinasi pakaian ke putri kami, jadi pada saat jalan-jalan dia sering rewel karena kedinginan dan lapar, dan saat itu putri kami masih menyusui, jadi singkat cerita yang niatnya tadinya mau jalan-jalan ampe sore di sekitar Asakusa sini, beli snack, pakai Kimono, berakhir hanya dalam kurang dari 1 jam 🤣, karena begitu lepas kimono ya udah ga boleh lanjut lagi…

Tapi tetap di rentang waktu yang singkat itu, kami masih tetap dapat spiritnya, dan dapat kesenangannya, ini lah beberapa snapshot kami di Asakusa, tepatnya di area Sensoji Temple.


Ramen…

Baiklah, karena hari masih siang, dan semua sudah lapar, dan seperti saya bilang, cari Ramen di sini kaya sesuatu yang udah kami rencanakan sebelum mulai travelling, Alhamdulillan di Asakusa ini dekat Sensoji Temple, ada tempat makan Ramen yang recommended, dan Halal certified, namanya Naritaya Halal Ramen Shop

Di sini kami memesan 2 porsi Ramen yang kami lupa namanya, karena saya bukan reviewer kuliner, jadi maaf-maaf klo ditanya rasa, sama aja kaya makan di resto ramen mahal di Indonesia ya, 😁 cuma bedanya kali ini resep Ramen-nya original dari orang sininya yang bikin, gitu aja sih…

Shibuya Intersection

Menjelang sore, kami memutuskan untuk kembali lebih cepat ke apartemen, karena kami sebenarnya tinggal di Distrik Shibuya, yang tentunya ada 1 icon yang ga boleh dilewatkan donk, ya, si anjing Hachiko yang kisahnya bikin hampir sebagian besar orang yang mendengarnya meleleh air matanya, tapi jujur sih, saya aja juga bisa ikutan mellow kalo nonton lagi film Hachiko…😭,

Model patung bronze ini dibuat semirip mungkin dengan gambar aslinya sesaat sebelum meninggal di usia 13 tahun, gambar di-kanan diambil dari Wikipedia

Selain Hachiko, yang ga kalah menarik di sini adalah Shibuya intersection, persimpangan dari 5 arah, yang selalu ramai dengan pejalan kaki, dan juga lalu lintas, setiap kali pergantian lampu dari merah ke hijau buat pejalan kaki, selalu jadi pemandangan menarik, saking ramai-nya, dari pejalan kaki, pesepeda, dan ketika lampu pejalan kaki berubah merah lagi, bahkan sebelumnya, dalam waktu singkat semua pejalan kaki berhenti, dan ga ada tuh yang ngotot maksa nyebrang kaya di kita giliran lampu mobil hijau dia malah nyebrang 😪, sehingga ga ada istilah kendaraan yang deadlock di persimpangan.

Ada yang menarik lagi nih, pernah liat “red carpet” di persimpangan? misalnya ada belokan sebelum perempatan di mana mobil mau keluar… nah kalau ada perempatan di depan, artinya kan selalu ada kesempatan mobil bakal antri, sama pemerintah Jepang, kalau ada kondisi gini, maka di bagian belokan jalan sebelum perempatan tadi, dikasih “red carpet”, tujuannya, kalau terjadi antrian, mobil yang antri lampu merah ga boleh menginjak marka ini, supaya kalau ada mobil yang mau keluar dan mau nyebrang ga terhalang dan ga menyebabkan kemacetan baru, kira-kira kaya gini deh ilustrasinya…maaf ya butut, cuma mau kasi ilustrasi seadanya aja…😁😂

Bisa sih diterapkan di Indonesia, cuma ngecat jalan doank itu mah, tapi balik lagi ama kultur warganya sih dalam patuh aturan, belum pernah saya lihat ada orang yang mau sesensitif itu, yang ada kalau orang kasih jeda antrian malah dimaki-maki…, atau kalau mau kaya di Shibuya Intersection? di kita seringnya orang yang pakai Pelican Cross (kalau di Jakarta sih mungkin kepaksa patuh ya), tapi saya pernah pakai Pelican Cross di Bogor, lampu pejalan kaki hijau, saya nyebrang malah diklakson…


Ringkasan Biaya Perjalanan

Berikut ringkasan biaya yang kami keluarkan selama perjalanan singkat ke Asakusa dan short visit menjenguk Hachiko.

PengeluaranJumlahTotal (JPY)Total (IDR)
Tiket Kereta (Sasazuka – Asakusa)279695,520
Tiket Kereta (Asakusa -Shibuya)248458,080
Tiket Kereta (Shibuya – Sasazuka)256667,920
Kimono Rental23,888466,560
Ramen23,000360,000
Snack dan lain-lain cash spending32,500300,000
GRAND TOTAL11,2341,348,080

Demikian perjalanan singkat kami di Asakusa, yang banyak tantangannya, karena putri balita kami yang rewel 🤣, tapi tetap sangat berkesan, mengingat ini adalah perjalanan jarak jauh pertama kami sejak 2009 yang merupakan perjalanan pertama kami sebagai family traveller.

Sampai jumpa di review berikutnya di Odaiba, Ueno Park, Distrik Harajuku, dan masih ada Tokyo Toy Museum buat main Ayra…, dan ga lupa, ringkasan video di sini.

Tinggalkan komentar