Day 1 – Arrival di Tokyo, Akomodasi di Jepang


Kami menghabiskan 8 hari di Jepang, hanya di 2 kota saja, yaitu di Tokyo dan Hakone, dan semua perjalanan kami lakukan dengan menggunakan transportasi publik, karena Jepang terkenal dengan living cost-nya yang tinggi, selain itu, untuk penginapan dan makanan, seperti yang dilakukan beberapa orang Indonesia lainnya, kami menggunakan fasilitas apartemen di Tokyo, lumayan sangat menekan biaya perjalanan, kalau dibanding menginap di hotel.

Makanan? lumayan perjuangan ya, kami membawa beras 2.5kg, lalu beberapa makanan kering seperti dendeng, ayam, kecap dan sambal botol, yang tentu kami deklarasikan pada saat kedatangan.

Ok lah, mari kita bahas beberapa akomodasi yang kami gunakan di Jepang.


Penerbangan

Untuk penerbangan ke Jepang, kami cukup beruntung bisa mendapatkan tiket promo dari Japan Airlines, karena putri kami belum berusia 2 tahun, jadi saat itu dia belum dapat seat sendiri, jadi satu benefit, karena kami bisa request untuk seat di bagian yang ada baby bassinet-nya, dengan leg room yang luas.

Kami membayar IDR 8,7 juta untuk 2 orang dewasa dan 1 orang infant, dengan bagasi 2×23 kg per orang, mantap ya? yes emang rejeki saat itu…Alhamdulillah, istri saya memang sempat melakukan flight booking dan konfirmasi sejak 5 bulan dari jadwal keberangkatan.

Namanya terbang pakai maskapai internasional, bukan low-budget airline ya, udah pasti semua full facility (seat selection, makanan, dan in-flight entertainment) bedanya ya ga bisa refund dan reschedule aja karena promo flight.

Kami mendarat di Narita International Airport, sekitar pukul 16.00 waktu setempat, dan karena clearance imigrasi saat itu rame banget, sehingga kami baru keluar bandara sekitar pukul 17.00, jaraknya si ga terlalu jauh dari Tokyo, hanya sekitar 65 km, kalau mau dibandingkan sama di rumah kami di Bogor, kalau mau ke Cengkareng jarak tempuhnya itu 88 km, tapi ya itu tadi, kami masih belum gagap dengan public transport di Jepang saat itu. Beberapa foto di bawah ini juga foto saat departure kami.

O ya, di Narita Airport ini ada Musholla lo, tapi kami nemunya juga pas di keberangkatan, saya lupa letak pastinya, tapi silakan ditanya ke petugas airport, walaupun mereka kesulitan jelaskan dalam Bahasa Inggris, tapi mereka bisa paham kita mau ke praying room, dan bakal ditunjukkin denahnya, kalau ga salah di lantai dasar keberangkatan.

Kami berangkat dari Airport dengan menggunakan express bus dari layanan Willer Express Bus, berangkat sekitar pukul 18.00, perjalanan memakan waktu sekitar 1-1.5 jam untuk tiba di Osaki Station, tempat tujuan akhir Express Bus ini, lalu menuju penginapan kami di Tokyo.


Penginapan

Seperti yang kami sebutkan di bagian intro, selama di Jepang kami menginap di 2 tempat, yaitu di Tokyo dan di Hakone

Apartemen Tokyo

Kami menyewa sebuah apartemen ukuran studio di Tokyo, o ya, perlu kami jelaskan bahwa perjalanan dari airport menuju apartemen bukan hal yang cukup mudah, karena ini pertama kalinya kami travelling dengan balita, bawa koper gede dan menggunakan public transport, kalau sebelum-sebelumnya sejak 2008, kami hampir ga pernah bawa koper gede, paling ransel yang semuanya masuk kabin.

Dari Osaki Station, kami mulai menggunakan kereta Commuter seperti yang kita biasa gunakan di Jabodetabek, ke arah Stasiun Sasazuka, lokasi apartemen kami, perjalanan memakan sekitar 1.5 jam lagi, tapi setibanya di apartemen, kami sangat bersyukur karena apartemennya ternyata bagus, bersih, dan aman, serta dekat dengan supermarket.

Saya coba cari properti listingnya lagi di Airbnb, tapi ga ketemu, tapi banyak pilihan di area Shibuya Station dengan harga yang cukup kompetitif dan untuk menginap selama 6 malam di sini kami membayar sebesar IDR 6,850,000, berikut kelengkapannya.

  • Queen size bed
  • Sofa bed
  • TV
  • AC – Sebagai penghangat ruangan.
  • Mobile Wifi
  • Fully-equipped kitchen (Rice Cooker, kompor, kulkas, microwave)
  • Mesin Cuci dan Setrika
  • Vacuum Cleaner
  • Air panas dan Bathtub
  • Lift
Hotel Hakone

Di hari kedua kami di Jepang, kami berpindah kota ke Hakone, kami cukup beruntung karena pemilik apartemen cukup berbaik hati untuk tidak charge biaya penginapan selama 1 malam, jadi kami dapat free 1 malam, lumayan lah.

Kami menginap di hotel yang disebut Manten No-Hoshi, semacam rumah tradisional Jepang, berikut beberapa snapshotnya.

Untuk menginap semalam di sini, kami membayar IDR 1,500,000 untuk semalam, memang properti di Jepang ga ada yang murah 😂

Berikut kelengkapan yang ada di penginapan di Hakone dan ini adalah listingnya.

  • Kamar yang luas
  • TV
  • AC – Sebagai penghangat ruangan
  • Wifi
  • Kamar mandi di luar, air panas
  • Private Onsen
  • Sarapan pagi khas Jepang
  • Kimono

Transportasi

Kereta Api

Jepang sudah terkenal sebagai rajanya rail-based transport, jadi hampir seluruh area di Tokyo, bahkan sampai ke luar Tokyo pun kereta jadi transportasi paling favorit, hampir di semua stasiun dipenuhi orang-orang yang bermuka serius dan tertib banget di dalam kereta.

Di dalam kereta bukan cuma ga boleh makan minum ya, bahkan kita ga melihat sedikit pun orang yang berbicara atau ngobrol di kereta, menelepon di dalam kereta adalah hal yang ga sopan dan bisa mengganggu orang lain.

Tarif kereta kita ga terlalu ngeh, tapi kalau kita pakai aplikasi JR-East, bisa kelihatan estimasi biaya dari stasiun satu ke yang lainnya, kalau ga salah mirip sama hitungan di Indonesia, yang ada berapa KM pertama flat, lalu progresif di beberapa KM berikutnya, kisarannya saat kami naik kereta kira-kira sekitar IDR 50,000 per orang sekali jalan, mahal ya? Jepang gitu loh…

Untuk alat pembayaran, kami menggunakan electronic payment Suica, di website resmi JR-East bisa dilihat di mana bisa didapatkan, ditopup, dan bagaimana refund-nya.

Jujur kami ga menggunakan moda transport yang lain selain bus express dari Willer, karena memang eksplorasi kota Tokyo sendiri semua terjangkau dengan kereta, dan untuk menuju ke satu tempat, ga jauh dari stasiunnya, jadi selebihnya kami mengandalkan jalan kaki, untuk membantu memahami jalur kereta di Jepang, disarankan pakai aplikasi JR-East

Agak susah dapat gambar-gambar terkait akomodasi dan fasilitas selama di Jepang, karena hampir semuanya dibuat video ama istri saya, jadi nanti disimak aja di sini ya.


Ringkasan Total Biaya Perjalanan

Tentu yang menarik adalah mengetahui seberapa besar biaya yang kami keluarkan pada perjalanan ini, berikut adalah rinciannya, dengan asumsi fx rate JPY 1 ~ IDR 120.

PengeluaranTotal (IDR)Total (JPY)
Flight (2 dewasa + 1 bayi)     8,750,000     72,917
Apartement Tokyo (6 malam)     6,843,900     57,033
Hakone Hotel (2 dewasa + 1 anak)     1,459,000     12,158
Hakone Pass (include train)     1,237,302     10,311
Willer express Bus (airport shuttle – return)         576,000       4,800
Tokyo Disneyland (2 orang)     1,736,800     14,473
Ramen at Asakusa (3 orang)         360,000       3,000
Sewa Kimono Asakusa (2 orang)         432,000       3,600
Cash Spending (Kereta, makan, on-site admission)     4,800,000     40,000
GRAND TOTAL26,195,002218,292

Hal lain tentang Jepang

Jepang terkenal dengan penduduknya yang sangat tertib, rekan-rekan saya di kantor bilang Jepang adalah “anomali” Asia, karena semua terasa lumayan kaku, dengan orang-orang bermuka serius setiap hari-nya, di dalam kereta ga boleh berbicara keras dan menelepon.

Lalu lintas sangat lengang, walaupun banyak yang bawa kendaraan, motor ga ada motor bebek yang laris manis di Asia Tenggara, semua sangat patuh pada aturan lalu lintas, termasuk pejalan kaki yang menyeberang, pada review kami di Shibuya Intersection akan terlihat bagaimana ramainya persimpangan jalan tersebut dari 5 arah, ramai pejalan kaki dan mobil, tapi ga pernah ada traffic deadlock.

Warga Jepang berpegang pada ajaran hidupnya untuk tidak menyulitkan orang lain, makanya kasus bunuh diri cukup banyak, ketika mereka merasa sudah jadi beban, itulah yang dilakukan, sedangkan sisi positif dari ajaran hidup itu adalah, mereka semua sangat mandiri, di supermarket dekat apartemen kami selain kasir reguler, disediakan layanan scan sendiri, bayar sendiri dan wrap sendiri, yang artinya kejujuran sangat penting 😁

Karena mereka ga mau menyulitkan orang lain, mereka juga cenderung ga terlalu peduli dengan apa yang orang lain lakukan yang mungkin di luar kebiasaan, misalnya ketika kami shalat di pojok stasiun karena susah cari tempat shalat.

Etos kerja sebenarnya yang harus diikuti, semua orang memang bekerja sesuai dengan apa yang harus mereka kerjakan, jadi apapun, kayanya ga mikir, ah susah bayarannya dikit, dll.

Satu hal lagi yang mengesankan di Jepang adalah budaya Asia “buka sepatu” saat masuk rumah, menjaga kebersihan, dan pakai eco-washer di toilet, karena ini musim dingin bahkan eco-washer pun air hangat, dan toiletnya ada penghangatnya… jadi dibiasakan juga pakai tissue toilet, dan ini sangat Indonesia banget ya kan?

Bagi sebagian besar orang Indonesia yang biasa lebih “luwes” mungkin gaya hidup orang Jepang sangat ga cocok, tapi bagi saya pribadi, yang memang lebih suka dengan kepastian suatu proses, keteraturan di Jepang sangat mengesankan, saya ga perlu khawatir kalau mau urus ini itu terkendala dengan proses yang sering kita hadapi di sini, yang tau-tau dimintain duit lah, semua dikerjakan dengan proses yang semestinya ga mengharap imbalan apa-apa, at least buat yang daily operational level ya, saya ga bakal ngomong kalau yang udah strategic level di pemerintahan.

OK guys, itu adalah sekilas tentang Jepang, ulasan singkat Day 1 Arrival dan akomodasi yang kami gunakan selama 7 hari di Jepang, saya akan kembali dengan ulasan lain tentang aktivitas harian di Jepang – see u…

Tinggalkan komentar